Category: Kesehatan

  • Empat Hal yang Perlu Didiskusikan dengan Dokter untuk Mencegah Resistansi Antimikroba di ICU Pfizer dan Eka Hospital Suarakan Gerakan #JituDiICU

    Empat Hal yang Perlu Didiskusikan dengan Dokter untuk Mencegah Resistansi Antimikroba di ICU Pfizer dan Eka Hospital Suarakan Gerakan #JituDiICU

    Mediakawasan.id, Jakarta Berurusan dengan ruang perawatan intensif (intensive care unit/ICU) bukanlah hal mudah bagi keluarga pasien, karena seringkali situasinya berhubungan dengan keselamatan nyawa. Belum lagi jika menimbang ancaman resistansi antimikroba (AMR) yang membuat bakteri, jamur atau virus penyebab infeksi pada tubuh seseorang lebih sulit ditangani dengan antibiotik, antijamur, atau antiviral sehingga pasien sulit sembuh dan perlu dirawat lebih lama.

    Sekitar 7 dari 10 orang yang dirawat di ICU menerima antibiotik sebagai salah satu terapi utama untuk menyembuhkan infeksi.[1] Untuk itu, penggunaan antibiotik secara rasional sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya resistansi antimikroba di ruang ICU.

    Keterlibatan pasien dan keluarganya memegang peran penting dalam hal mencegah kondisi AMR di ICU. Caranya adalah dengan membangun komunikasi yang produktif dengan tenaga kesehatan terkait.

    Komunikasi dua arah ini akan meningkatkan pemahaman pihak pasien, dan mendorong diskusi lanjutan yang lebih baik mengenai rekomendasi medis dari tenaga kesehatan. Dengan begitu, pemberian antibiotik pun menjadi lebih jitu di ICU, hingga berujung pada meningkatnya kualitas perawatan yang diterima pasien dan menurunnya risiko AMR.

    Sejalan dengan ini, Pfizer Indonesia bekerja sama dengan Eka Hospital dan mitra kesehatan lainnya, menyelenggarakan seminar bertema “Peran Nakes dan Keluarga Pasien dalam Mewujudkan Tata Laksana Penggunaan Antimikroba yang Bijak & Rasional di ICU: Tepat Waktu, Tepat Pasien, Tepat Guna”. Seminar ini mengupas lebih dalam manfaat gerakan #JituDiICU dengan mendorong keluarga pasien untuk melakukan komunikasi yang terbuka dan konstruktif dengan tenaga kesehatan.

    “Sebagai perusahaan biofarmasi inovatif, Pfizer Indonesia menyuarakan gerakan #JitudiICU sebagai wujud kontribusi nyata dalam upaya bersama mengedukasi masyarakat. Pasien perlu berdialog dan memperoleh informasi yang jelas dari tenaga kesehatan sehingga risiko AMR dapat dipahami dan ditanggulangi,” ungkap Nora Tiurlan Siagian, Presiden Direktur Pfizer Indonesia.

    Hadir sebagai seorang patient advocate, Butet Trivyantini, menyambut baik diluncurkannya gerakan #JituDiICU. “Keluarga dan pemerhati pasien sudah seyogyanya bertanya, serta mendapatkan informasi yang jelas dan edukasi tentang alasan, jenis, dosis, lama penggunaan, manfaat, dan risiko terkait penggunaan antibiotik di ICU,” jelas Butet.

    Dalam kesempatan yang sama, dr. Vannesi T. Silalahi, Sp.An, MSc, KIC, dokter spesialis anestesi konsultan perawatan intensif Eka Hospital BSD menyatakan beberapa poin penting untuk membangun komunikasi dua arah agar meningkatkan pemahaman pihak pasien dan mendorong diskusi lanjutan yang lebih baik mengenai rekomendasi medis dan tenaga kesehatan.

    Lebih lanjut dr. Vannesi menjelaskan, terdapat 4 pertanyaan yang dapat membuka diskusi dengan tenaga kesehatan dalam hal pemberian antibiotik yang lebih jitu, sehingga berujung pada meningkatnya kualitas perawatan yang diterima pasien dan menurunnya risiko AMR.

    Berikut empat pertanyaan di bawah ini yang dapat membangun komunikasi dengan tenaga kesehatan:

    1. Bagaimana penggunaan antibiotik saat ini?

    Perlu diketahui bahwa tenaga kesehatan di ICU umumnya memberi antibiotik sedini mungkin (antibiotik empirik) kepada pasien sebagai tindakan darurat untuk menstabilkan kondisi pasien.[2]Tenaga kesehatan menggunakan antibiotik empirik secara cermat dengan menilai beberapa hal, misalnya tingkat keparahan infeksi, lamanya infeksi, serta lokasi dan sumber infeksi.[3] Pihak pasien dapat menanyakan jenis, dosis, lama penggunaan, rute (cara pemberian), serta efek samping penggunaan antibiotik ini kepada tenaga medis agar mendapat pemahaman yang lebih baik.[4]

    1. Bagaimana dengan hasil uji kultur?

    Perlu diketahui bahwa sebelum tenaga kesehatan memberi antibiotik definitif kepada pasien ICU, mereka akan melakukan tes laboratorium (uji kultur) untuk mengetahui secara tepat jenis bakteri penyebab infeksi pada pasien. Hasil uji kultur akan keluar dalam beberapa hari, sebagai bahan evaluasi bagi tenaga kesehatan untuk melanjutkan, menghentikan, atau mengganti penggunaan antibiotik yang sudah berjalan.[5]

    Beberapa hal yang bisa ditanyakan kepada tenaga kesehatan antara lain adalah apakah akan dilakukan uji kultur, waktu keluarnya hasil uji kultur, alternatif perawatan yang bisa dilakukan setelah hasil uji kultur keluar, serta risiko pemberian antibiotik empirik apabila ternyata infeksi pasien bukan disebabkan oleh bakteri.

    1. Bagaimana perkembangan kondisi pasien?

    Selain hasil uji kultur, hal lain yang juga menjadi pertimbangan tenaga kesehatan dalam memberikan antibiotik adalah perkembangan kondisi pasien ICU, apakah membaik atau memburuk selama perawatan. Oleh karena itu, pertanyaan ini bisa diajukan secara berkala kepada tenaga kesehatan selama perawatan berlangsung.

    Lebih spesifiknya, pertanyaan yang bisa diajukan antara lain adalah seberapa sering tenaga kesehatan akan memberikan informasi terbaru mengenai kondisi pasien, siapa saja yang dapat ditanyai mengenai perkembangan kondisi kesehatan pasien, tindakan lain atau perubahan pemberian antibiotik apa yang akan diterapkan jika kondisi pasien tidak kunjung membaik, dan sebagainya.

    1. Bagaimana risiko resistansi antimikroba ditangani?

    Pertanyaan ini bisa diajukan ketika rekomendasi medis dari tenaga kesehatan mengandung unsur pemberian antibiotik di dalamnya. Dengan bertanya secara spesifik mengenai langkah pencegahan AMR, pihak pasien pun dapat mengetahui secara pasti langkah-langkah yang diambil tenaga kesehatan untuk meminimalkan risiko AMR. Beberapa pertanyaan yang bisa pasien atau keluarganya ajukan juga ke tenaga kesehatan misalnya seberapa tinggi risiko terjadinya resistansi antimikroba di ICU, indikator terjadinya resistansi antimikroba terhadap pasien, risiko transmisi bakteri, jamur atau virus yang sudah kebal ke anggota keluarga lain, serta upaya-upaya lain yang bisa dilakukan untuk menekan risiko terjadinya resistansi antimikroba. (Red/*)


    [1] Martin SJ, Yost RJ. Infectious diseases in the critically ill patients. Journal of Pharmacy Practice 2011: 24(1),35-43.

    [2] Pangalila FJV, et al. Pedoman Antibiotik Empirik di Ruang Rawat Intensif. Jakarta: PERDICI, 2019. Diakses pada 08 Agustus 2023 melalui https://perdici.org/icu-hcu-guidelines/

    [3] Ibid

    [4] Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 290/MENKES/PER/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran. Diakses pada 08 Agustus 2023 melalui https://rskgm.ui.ac.id/wp-content/uploads/2021/03/095.-kmk2982008.pdf

    [5]Tabah A, et al. Antimicrobial de‑escalation in critically ill patients: a position statement from a task force of the European Society of Intensive

    Care Medicine (ESICM) and European Society of Clinical Microbiology and Infectious Diseases (ESCMID) Critically Ill Patients Study Group (ESGCIP). Intensive Care Medicine 2020:46, 245-265.

  • Ini Cara Menolong Di Saat Darurat, Simak Penjelasan dari Siloam Hospitals Mataram

    Ini Cara Menolong Di Saat Darurat, Simak Penjelasan dari Siloam Hospitals Mataram

    Mediakawasan.id, Mataram, Nusa Tenggara Barat – Di saat situasi darurat, kepedulian dan kemampuan seseorang diperlukan guna membantu sesamanya, misalnya memberi pertolongan kepada seseorang yang mengalami henti jantung akibat kecelakaan pun disaat terjadi bencana alam. Pada konteks tersebut, kemampuan memberi pertolongan dalam rangkaian Bantuan Hidup Dasar (BHD) perlu dikuasai oleh seseorang.

    “Secara definisi perlu diketahui akan Bantuan Hidup Dasar merupakan serangkaian usaha untuk mengembalikan fungsi atau sirkulasi pernapasan pada korban yang mengalami henti jantung akibat gangguan pernapasan atau adanya sumbatan di jalur pernapasan. Karenanya, kami melakukan pelatihan dari materi Bantuan Hidup Dasar, agar sewaktu waktu para peserta dapat memberikan pertolongan sesuai alur yang kami sampaikan”, tutur dokter Nita Julita Cindaya, Kepala IGD RS Siloam Mataram, Kamis (31/08) di kota Mataram.

    Dikatakan Nita Julita dihadapan 24 peserta yang mengikuti pelatihan, prinsip dasar memberikan pertolongan dilakukan dalam tiga hal utama, yaitu fokus pada penanganan nadi, denyut jantung, tekanan darah (Sirkulasi) , hal kedua adalah memastikan jalan nafas si korban tanpa hambatan (Airway) dan hal ketiga atau terakhir adalah mengatasi masalah pernapasan atau pola nafas pasien (Breathing).

    “Pada BHD, langkah pertama yang harus dilakukan adalah terlebih dahulu memastikan lingkungan aman bagi si korban dan yang memberikan pertolongan. Kemudian memastikan korban memberi respon atau tidak merespon. Jika gawat darurat segera panggil ambulans atau meminta bantuan ke orang yang lebih tanggap atau yang memiliki fasilitas membawa korban ke rumah sakit terdekat”, ungkap dokter Nita Julita menjelaskan secara rinci.

    Jika Penolong Menguasai BHD Segera Beri Bantuan

    Selain memastikan lingkungan aman bagi korban dan pemberi pertolongan, langkah selanjutnya dalam materi BHD adalah segera memberi pertolongan, khususnya bagi penolong yang menguasai sistem pertolongan pada Bantuan Hidup Dasar. Menurut Nita Julita, hal yang dilakukan adalah memastikan ada tidaknya denyut nadi pada si korban dengan mengecek nadi karotis (nadi di bagian leher) sambil melihat apakah ada atau tidak ada pergerakan dada dan sumbatan di jalan napas dari si penderita. Jika dimungkinkan dan menguasai, berikan kompresi dada. Adapun pada korban berusia muda, kompresi di area dada korban dapat dilakukan dengan memberikan kompresi/tekanan dengan dua jari atau satu tangan saja.

    “Kompresi Dada dilakukan yaitu, meletakkan pangkal telapak tangan pada 1/3 bagian bawah tulang dada korban dan satu tangan yang lain ada diatas tangan pertama kemudian jari penolong saling mengunci lalu tekan dada dengan :
    i. Kecepatan 100 – 120x /menit
    ii. Kedalaman 5 cm (2 inchi)
    iii. Seimbang antara menekan dan melepas

    “Bila memungkinkan gantian dengan penolong lain setiap dua menit”, tutur dokter Nita Julita.

    Adapun pada materi Bantuan Pernapasan, disarankan menggunakan bag mask/ alat bantu napas dan tidak ada celah antara masker bag mask dengan wajah pasien.

    “Setiap bantuan nafas, berjarak lima hingga enam detik”, imbuh Nita mengingatkan.

    Sumbatan Jalan Nafas/Tersedak
    • Tanda sumbatan jalan napas berat
    a. Sianosis
    b. Batuk tanpa suara
    c. Tidak bisa bicara
    d. Memperagakan cekikan leher
    • Penanganan sumbatan jalan napas
    a. Back blows
    i. Berdiri di belakang korban
    ii. Lingkarkan 1 tangan di sekitar dada korban
    iii. Berikan pukulan 5 kali di bagian punggung atas (di antara 2 tulang belikat)
    b. Abdominal thrust (Heimlich manuver)
    i. Lingkarkan kedua tangan di perut tengah bagian atas korban
    ii. Satu tangan mengepal, tangan lain menopang kepalan tangan sebelahnya
    iii. Dorong kepalan tangan dengan cepat ke bagian dalam atas perut korban (sebanyak 5 kali)

    Pada kesempatan terpisah, Darmawati Arifin, Kepala Bidang Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan NTB memberikan apresiasi atas pelatihan Bantuan Hidup Dasar yang diselenggarakan RS Siloam Mataram. Apresiasi diberikan sebagai bentuk dukungan dan kepedulian terhadap masyarakat dan mengingatkan agar kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan agar berdampak luas kepada masyarakat sebagai ilmu dan manfaat .

    Dalam pelatihan , peserta akan mendapatkan panduan praktis guna penanganan pertama pada kondisi gawat darurat. Pengetahuan ini bukan hanya akan memberikan manfaat bagi diri peserta sendiri, tetapi juga bagi orang-orang di sekitarnya. Dan diharapkan peserta dapat menjadi pihak yang lebih siap dan mampu menghadapi berbagai situasi krisis dengan tenang dan efektif. (Red/rlls)

  • Dokter Spesialis Orthopedi Konsultan Pediatrik Eka Hospital BSD Jelaskan Kelainan Tulang pada Anak

    Dokter Spesialis Orthopedi Konsultan Pediatrik Eka Hospital BSD Jelaskan Kelainan Tulang pada Anak

    Mediakawasan.id, BSD City- Kelainan tulang pada kaki anak dibagi menjadi 2 kategori, yaitu pertama kelainan pada saat lahir. Kemudian yang kedua adalah kelainan yang berhubungan dengan pertumbuhan. Penyebabnya, bisa karena berat badan, kebiasaan, atau karena penyakit lain yang menyebabkan kelainan tersebut menjadi terbentuk. Lebih jauh tentang masalah kelainan tulang pada anak, dr. Patar Parmonangan Oppusunggu, Sp.OT (K), Dokter Spesialis Orthopedi Konsultan Pediatrik Eka Hospital BSD menjelaskan sebagai berikut : 

    “Salah satu kelainan pada saat lahir adalah clubfoot yaitu kelainan pada bentuk kaki bayi dimana kaki bengkok ke dalam seperti terkilir. Clubfoot membutuhkan penanganan sesegera mungkin untuk mendapatkan hasil yang maksimal,” ujar dr. Patar, saat hadir pada Media Gathering Eka Hospital, yang digelar hari ini, Rabu, 23 Agustus 2023.

    Menurut dr. Patar, penyebab kelainan tulang dalam kandungan berkaitan erat dengan nutrisi. kekurangan asam folat bisa menggangu pembentukan saraf tulang belakang yang pada akhirnya akan mempengaruhi perkembangan kaki di dalam rahim.

    “Beberapa penelitian menyebutkan, panggul ibu yang relatif sempit bisa mnyebabkan beberapa kelainan seperti clubfoot dan developmental dysplasia of the hip (DDH) yaitu suatu kondisi dimana sendi bola dan songket pinggul tidak terbentuk dengan benar pada bayi dan anak kecil. Secara anatomi, panggul ibu yang sempit memiliki risiko menimbulkan beberapa kelainan perkembangan bayi dalam rahim,” papar dr. Patar. 

    Kelainan tulang kaki X dan O

    Kelainan Tulang kaki X dan O terjadi karena sebuah kelainan yang disebut rakitis, yaitu sebuah kelainan pada sendi dan tulang yang menyebabkan pertumbuhan dan struktur tulang yang buruk dan menyebabkan tulang menjadi lemah dan lunak. Kondisi ini menyerang anak-anak dan mengganggu proses pertumbuhan fisik, dimana salah satu dampaknya yaitu kaki menyerupai huruf X atau O. 

    Kondisi ini dapat menyerang kapan saja, namun biasanya mulai menyerang di usia pertumbuhan yaitu 6 bulan hingga 3 tahun. Ini dikarenakan pada saat usia tersebut tulang berada dalam kondisi yang sangat membutuhkan nutrisi untuk berkembang

    Faktor yang dapat menyebabkan kelainan tulang kaki anak bisa membentuk huruf X maupun O, yaitu:

    Penurunan genetik

    Kelainan kaki X atau O juga bisa diturunkan melalui penyakit genetik yang diturunkan dari generasi ke generasi. Meskipun langka, beberapa kondisi genetik bisa mempengaruhi tubuh dalam menyerap vitamin D sehingga berpengaruh pada kesehatan tulang dan menyebabkan pertumbuhan struktur tulang anak menjadi terganggu.

    Faktor nutrisi

    Vitamin D adalah salah satu vitamin yang paling dibutuhkan tubuh untuk membantu penyerapan kalsium dalam tubuh. Apabila anak kurang mendapatkan asupan vitamin D, ini bisa berpengaruh pada pertumbuhan tulangnya. Beberapa alasan kenapa anak bisa tidak mendapatkan kebutuhan vitamin D yaitu:

    1. Kurangnya paparan sinar matahari selama proses pertumbuhan.
    2. Mengidap kondisi penyakit tertentu yang dapat menurunkan kemampuan penyerapan vitamin D, terutama penyakit pada sistem pencernaan (seperti penyakit crohn).
    3. Kurangnya asupan nutrisi vitamin D dan kalsium dalam masa pertumbuhan.

    Efek Jangka Panjang Jika Kelainan Tulang Anak Tidak Diobati

    Kelainan tulang yang tidak ditangani bisa membuat tulang anak tumbuh dengan tidak maksimal sehingga menyebabkan kecacatan yang membatasi mereka dalam beraktivitas dan menurunkan kualitas hidup mereka. Mungkin belum terlihat pada saat mereka masih kecil, namun keterbatasan mereka dalam bergerak bisa membuat mereka kesulitan untuk memilih hobi hingga pekerjaan yang cocok untuk mereka saat dewasa nanti. Ini bisa membuat mereka harus menahan diri untuk bisa melakukan hal-hal yang sebenarnya mereka ingin lakukan.

    Selain faktor keterbatasan, kelainan tulang juga berisiko untuk mempengaruhi kondisi psikologis si kecil, terutama saat mereka mulai menginjak usia sekolah. Kelainan tulang dapat menyebabkan si kecil tumbuh dengan bentuk postur tubuh yang buruk, ini bisa membuat mereka menganggap memiliki bentuk tubuh yang berbeda dengan anak lainnya, sehingga menyebabkan berkurangnya rasa percaya diri dan pada akhirnya berimbas ke masalah kesehatan mental lainnya.

    Penanganan Medis pada Kasus Kelainan Tulang Pada Anak

    Kondisi kaki X dan O adalah penyakit yang terjadi karena berbagai faktor risiko, sehingga tidak perlu menghabiskan waktu untuk memikirkan kenapa si kecil bisa terkena kondisi ini. Jika merasa pertumbuhan kaki anak mulai terlihat abnormal menyerupai huruf X maupun O, sebaiknya segera periksakan kondisi mereka dengan dokter. Semakin cepat kelainan tulang mereka terdeteksi, maka semakin efektif metode pengobatan yang akan dilakukan.

    Untuk kondisi yang belum berakhir terlalu parah mungkin Dokter dapat merekomendasikan pengobatan non-operatif mulai dari pemberian asupan suplemen vitamin D yang harus dikonsumsi dengan rutin, namun sebaiknya tanyakan dengan dokter mengenai dosisnya karena terlalu banyak vitamin D juga bisa berakhir membahayakan kesehatan si kecil.

    Selain pemberian suplemen, kelainan tulang pada anak juga bisa ditangani dengan program rehabilitasi medik dengan melatih tulang si kecil agar bisa berfungsi dengan baik. Dengan kolaborasi pengobatan-pengobatan tersebut, maka si kecil biasanya tidak perlu melakukan tindakan operatif untuk mengobati kelainan tulangnya.

    Akan tetapi apabila kondisi tulang si kecil telah mengalami perubahan signifikan yang tidak bisa ditangani dengan obat, mungkin pengobatan operatif harus dilakukan untuk mengurangi risiko dari kelainan tersebut dan membantu memposisikan tulang mereka agar bisa berkembang dengan baik seiring mereka tumbuh dewasa nanti. Metode ini juga biasanya diikuti dengan program rehabilitas medik untuk membantu mereka melatih dan mengembalikan fungsi tulang mereka.

    Cegah Kelainan Tulang pada Anak

    Perubahan gaya hidup seperti pola makan juga harus diterapkan demi membantu si kecil mendapatkan kebutuhan nutrisinya, terutama vitamin D untuk membantu membentuk kekuatan tulang si kecil pada saat proses pertumbuhan. Berjemur dengan rutin di bawah matahari biasanya dianjurkan karena matahari adalah sumber vitamin D terbesar yang bisa didapatkan oleh si setiap orang. 

    Namun apabila anak sudah didiagnosa atau memiliki risiko kelainan tulang maka berjemur di bawah matahari saja mungkin tidak akan mencukupi kebutuhan nutrisi mereka, sehingga asupan suplemen vitamin D dan kalsium mungkin akan direkomendasikan oleh Dokter Spesialis Anak untuk memastikan kebutuhan nutrisi si kecil bisa terpenuhi. 

    Jangan lupa juga untuk berkonsultasi mengenai kesehatan tulang si kecil dengan Dokter Ortopedi Konsultan Pediatrik secara rutin untuk menurunkan risiko mereka dari kelainan tulang. (red/*) 

  • Peresmian Palembang Integrated Child Center (PICC), Pusat Layanan Kesehatan Anak Terintegrasi di RS Siloam Sriwijaya

    Peresmian Palembang Integrated Child Center (PICC), Pusat Layanan Kesehatan Anak Terintegrasi di RS Siloam Sriwijaya

    Mediakawasan.id, Palembang – Grup RS Siloam pada hari ini meresmikan Palembang Integrated Child Center (PICC) di RS Siloam Sriwijaya. Klinik ini menyediakan layanan kesehatan khusus anak yang terintegrasi dalam satu area dan didukung oleh berbagai dokter spesialis anak termasuk spesialis kedokteran gigi serta layanan fisioterapi, laboratorium, dan farmasi atau obat-obatan untuk anak.

    Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri tahun 2021, jumlah penduduk Sumatera Selatan (Sumsel) berjumlah 8,49 juta jiwa, dengan 2,22 juta jiwa atau sekitar 26% adalah penduduk anak-anak dengan usia 0-14 tahun. Mengutip dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, anak-anak dengan usia 0-14 tahun rentan mengalami masalah tumbuh kembang, salah satunya dalah Stunting. Mengingat dampaknya yang sangat luas dan irreversibel terhadap perkembangan jaringan otak, Stunting merupakan permasalahan nasional kesehatan anak yang menjadi prioritas pemerintah untuk meningkatan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Sumsel termasuk dalam tiga besar provinsi terbaik yang menurunkan angka stunting pada 2022, yaitu sebesar 6.2% (18.6% di tahun 2022 dengan 24.8% di tahun 2021). Meskipun demikian, penurunan angka stunting yang di tahun 2023 dan 2024 tetap menjadi salah satu fokus Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel untuk mendukung penurunan angka stunting nasional mejadi 14% di tahun 2024.

    Untuk mendukung program pemerintah dalam meningkatkan sumber daya manusia di masa depan, RS Siloam Sriwijaya meluncurkan pusat layanan kesehatan anak terintegrasi yang diberi nama Palembang Integrated Child Center (PICC). Kebutuhan kesehatan antara pasien dewasa dan anak tentunya berbeda, untuk itulah klinik ini khusus menyediakan layanan yang dibutuhkan oleh anak, antara lain klinik tumbuh kembang, klinik rehabilitasi medis, terapi wicara dan okupasi, serta klinik psikologi dan akupunktur. Layanan medis ini juga didukung oleh 17 dokter spesialis anak dan sub-spesialis, termasuk spesialis urologi dan andrologi yang akan berkolaborasi untuk penanganan sakit pada anak.

    Managing Director Grup RS Siloam, Caroline Riady, yang turut hadir dalam pembukaan PICC mengatakan, “RS Siloam Sriwijaya merupakan wujud komitmen Grup RS Siloam untuk menyediakan layanan kesehatan terpadu untuk seluruh individu, termasuk anak. Perlu kita pahami bahwa anak bukanlah miniatur orang dewasa, namun anak merupakan satu individu unik yang memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan serta kebutuhan yang berbeda satu dengan yang lain sesuai tumbuh kembangnya. Mulai dari jenis terapi, pengobatan, pelayanan, hingga keterampilan staf medis, semuanya dapat berbeda dengan pelayanan untuk orang dewasa. Dengan kehadiran PICC, kami berharap dapat menyediakan pelayanan medis berkelanjutan bagi anak yang tujuannya untuk meningkatkan kesehatan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.”

    Grup RS Siloam mengoperasikan empat rumah sakit di pulau Sumatera, diantaranya adalah RS Siloam Sriwijaya di Palembang, RS Siloam Lubuklinggau, RS Siloam Jambi, dan RS Siloam Medan. Salah satu layanan unggulan di RS Siloam Sriwijaya adalah layanan ibu dan anak. Dengan visi untuk menyediakan continuum of care, RS Siloam Sriwijaya menyediakan fasilitas yang terintegrasi untuk memenuhi kebutuhan pasien ibu dan anak.

    Pasien yang sudah cukup lama menantikan kehadiran buah hati dapat berkonsultasi dengan dokter ahli di klinik BlastulaIVF RS Siloam Sriwijaya yang merupakan pusat fertilitas pertama di Sumatera Selatan dan pertama di Grup RS Siloam dan telah menghasilkan lebih dari 300 kehamilan sejak dibuka pada Mei 2021. Pada klinik ini juga tersedia fasilitas seperti intra uterine insemination, fertility preservation, reproduction treatment, serta hormonal and DNA tests untuk pelayanan yang lebih komprehensif.

    Untuk pasangan yang sedang merencanakan kehamilan, RS Siloam Sriwijaya menyediakan program NEST, yaitu layanan program kehamilan komprehensif bagi calon orang tua, sehingga mereka mendapatkan pelayanan, pendampingan, dan perawatan terbaik untuk mempersiapkan kehadiran sang buah hati. Program ini didukung oleh tenaga medis terdedikasi yang hadir untuk membantu kehidupan baru orang tua mulai dari perencanaan kehamilan, selama masa kehamilan, persalinan, hingga pasca persalinan. Untuk melengkapi pelayanan kesehatan ibu dan anak, RS Siloam Sriwijaya juga membuka Palembang Integrated Child Center (PICC) untuk melayani berbagai kebutuhan kesehatan dan tumbuh kembang anak.

    Berdiri sejak tahun 2012, RS Siloam Sriwijaya Palembang menyediakan lebih dari 150 tempat tidur dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang seperti radiologi yang komprehensif, 2 alat laparoskopi, laboratorium embriologi, serta berbagai alat fisioterapi yang lengkap. RS Siloam Sriwjaya didukung oleh lebih dari 150 dokter dan spesialis, serta lebih dari 280 perawat dan tenaga medis yang mampu melayani lebih dari 1.000 pasien rawat inap dan lebih dari 20.000 pasien rawat jalan setiap bulannya. (Red/rlls)

  • Efektivitas Vaksin Demam Berdarah Dengue dan Manfaatnya. Simak Edukasi dari Siloam Hospitals Lippo Cikarang

    Efektivitas Vaksin Demam Berdarah Dengue dan Manfaatnya. Simak Edukasi dari Siloam Hospitals Lippo Cikarang

    Mediakawasan.id, Cikarang, Bekasi – Memperingati Hari Anak Nasional, Senin (24/07/2023) Siloam Hospitals Lippo Cikarang menggelar edukasi secara hybrid (offline dan online) di Cikarang, Bekasi.

    Edukasi akan efektivitas vaksin demam berdarah dengue (DBD) dan manfaatnya, khususnya pada usia anak dianggap relevan dan penting disampaikan, berdasarkan data di Indonesia akan kasus demam berdarah yang rata rata mencapai 121.000 per tahunnya dan 75% kasus demam berdarah terjadi di rentan usia 5 hingga usia 44 tahun dengan anak beresiko lebih terkena kasus ‘Dengue’ berat.

    Dokter Spesialis Anak Siloam Hospitals Lippo Cikarang, dr. Theresia Santi Sp.A., pada edukasinya menyampaikan ketika seseorang pernah terinfeksi virus dengue, kemudian mendapatkan vaksin DBD, maka ketika ia terinfeksi virus, kecil kemungkinannya untuk mengalami penyakit demam berdarah yang parah.

    “Akan tetapi, jika seseorang yang belum pernah terinfeksi virus DBD namun telah mendapatkan vaksin DBD, maka ia akan melewatkan infeksi alami pertama dan memiliki risiko tinggi mengalami infeksi demam berdarah yang parah, seperti kebocoran plasma”, tutur Theresia Santi.

    Pada dasarnya, pemberian vaksin lebih difokuskan untuk seseorang yang sebelumnya pernah terinfeksi virus dengue. Soalnya, fungsi vaksin DBD sendiri adalah untuk mengurangi risiko keparahan dari gejala DBD yang akan dialaminya kelak.

    “Jika diberikan pada anak yang belum pernah terinfeksi virus dengue, justru akan membuat anak terinfeksi berat,” ungkap Theresia Santi menjelaskan.

    Dijelaskan dokter Theresia, selain pemberian imunisasi yang merupakan hak kesehatan primer anak, Vaksinasi menyelamatkan lebih dari lima nyawa setiap menit dan mencegah kematian 2-3 juta orang setiap tahunnya. Adapun infeksi virus ‘Dengue’ demam berdarah ditularkan oleh gigitan nyamuk “Aedes aegypty” yang terdapat 4 ( empat) jenis DENGUE, yaitu tipe 1, 2, 3 dan 4.

    Peran dan Efek Samping Vaksin DBD

    Pada dasarnya, pemberian vaksin demam berdarah tergolong aman dan bisa ditoleransi dengan baik. “Asalkan diberikan pada seseorang yang sebelumnya telah terinfeksi demam berdarah”, imbuh dr. Theresia Santi, Sp.A.

    Namun seperti vaksin pada umumnya, terdapat efek samping vaksin demam berdarah yang akan muncul, seperti nyeri di lokasi suntikan, sakit kepala, serta timbulnya demam berskala ringan pun sedang.

    Adapun akan gejala DBD umumnya adalah timbulnya rasa nyeri di belakang mata, nyeri pada otot, tulang dan sendi serta sakit kepala pun adanya ruan aray bercak merah dan mengalami muntah diiringi demam tinggi.

    “Namun perlu pula diingat bahwa umumnya di hari ke tiga gejala DBD, rasa demam justru akan turun, gejala seperti muntah dan air urine berwarna gelap, serta badan mebnjadi lemas dan lainnya akan menjadi “penanda” untuk segera membawa anak atau pasien mendapatkan pertolongan medis di rumah sakit”, ungkap Theresia mengingatkan dihadapan puluhan peserta yang mengikuti edukasinya.

    Dan juga perlu dipahami bahwasannya, dalam tatalaksana pasien positif DBD, belum ada pengobatan atau antivirus khusus Dengue maupun severe Dengue, mengutip pernyataan WHO.

    Vaksinasi atau Imunisasi DBD menjadi “jawaban” beberapa tahun terakhir ini dan telah melalui uji klinis fase 3, dengan lebih dari 20.000 orang di 8 negara endemis DBD. Pada Agustus 2022, izin BPOM untuk diberikan pada rentan usia 6 hingga usia 45 tahun di Indonesia. Dengan Efektifitas mencegah lebih dari 80% Kasus DBD dan mencegah serta ‘membantu’ lebih dari 95% kasus DBD berat yang dirawat di rumah sakit.

    “Berkorelasi akan hal itu, kami di Siloam Hospitals Lippo Cikarang turut melayani pemberian imunisasi vaksin “Qdenga” untuk usia 6-45 tahun”, tutur Theresia Santi.

    Dokter Spesialis Anak di Siloam Hospital Cikarang, dr. Theresia Santi Sp.A., yang jadwal prakteknya dapat dilihat di aplikasi MySiloam. (Red/*)

  • Rayakan Hari Anak Nasional, Eka Hospital Gelar Health Talk untuk Ibu Indonesia

    Rayakan Hari Anak Nasional, Eka Hospital Gelar Health Talk untuk Ibu Indonesia

    Mediakawasan.id, BSD Tangerang – Memeriahkan perayaan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2023, Eka Hospital Group bekerja sama dengan Kalbe Nutritionals menggelar serangkaian kegiatan bertema “Tumbuh Kembang Optimal, Anak Sehat”. Rangkaian kegiatan dimulai sejak tanggal 20-22 Juli, dan diawali dengan webinar, health talk dengan sejumlah dokter spesialis anak serta lomba mewarnai. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut diselenggarakan di semua cabang Eka Hospital, yang meliputi BSD, Cibubur, Bekasi, Pekanbaru, dan RSIA Family Pluit dan Grand Family PIK.

    Gelaran Hari Anak Nasional di Eka Hospital diawali dengan acara health talk webinardengan menghadirkan narasumber dr. Buntat Huang, Sp.A, Dokter Spesialis Anak Eka Hospital Pekanbaru yang membahas mengenai Nutrisi DHA untuk Pertumbuhan dan Perkembangan Otak pada anak, berkolaborasi dengan dr. Yoke Kinanthi Putri, MSc, Sp.A, Dokter Spesialis Anak Eka Hospital Bekasi yang memaparkan mengenai Peran Probiotik Bifidobacterium pada Bayi dengan Alergi pada anak.

    Dijelaskan dr. Buntat bahwa peran asi dalam memberikan nutrisi yang diperlukan oleh bayi dalam proses tumbuh kembangnya. “90% perkembangan otak bayi terjadi sebelum umur 5 tahun, disini peran ibu sangat penting dalam memastikan nutrisinya terpenuhi karena otak membutuhkan lebih dari 1 nutrisi”, katanya menjelaskan. 

    Sementara itu dr. Yoke menambahkan bahwa peran probiotik bifidobacterium pada bayi dan anak dapat membantu mengatasi masalah pada pencernaan yang juga bisa disebabkan oleh reaksi alergi.

    Tidak hanya webinar, edukasi kesehatan juga dilanjutkan dengan talkshow Instagram Live bersama dr. Ria Puspitasari, Sp.A, CIMI, Dokter Spesialis Anak RSIA Grand Family yang membahas mengenai segala hal yang diperlukan oleh para ibu untuk membantu si kecil bisa mencapai berat badan ideal terlepas dari alergi yang dimiliki.

    Pada kesempatan yang sama digelar lomba mewarnai sebagai acara puncak untuk menutup rangkaian acara hari Anak Nasional tahun ini, dimana seluruh anak di Indonesia dapat berpartisipasi untuk memenangkan hadiah menarik. Pelaksanaan lomba ini serentak dilakukan di seluruh unit Eka Hospital Group dan dimeriahkan oleh lebih dari 150 anak-anak yang mengikuti lomba tersebut.

    Pelaksanaan lomba mewarnai dilakukan guna mengasah kreativitas, kemampuan motorik, menumbuhkan jiwa kreatif, dan merupakan bentuk apresiasi terhadap perbedaan visual. Di usianya yang masih dalam masa pertumbuhan, mewarnai dapat membantu membentuk imajinasi dan menginspirasi anak untuk memikirkan ide-ide baru secara alami. Tak hanya itu, pemberiaan goodie bag bagi seluruh pasien anak rawat inap juga dilakukan secara serentak. Dalam menunjang tumbuh kembang si kecil yang optimal, saat ini Eka Hospital Group sudah dilengkapi pusat layanan kesehatan anak terpadu yang terdiri dari dokter-dokter multidisiplin dalam menangani kesehatan anak yang saling terhubung dengan spesialis pediatri lainnya dalam bidang tindakan pembedahan anak, kesehatan jantung anak, layanan tumbuh kembang anak, neonatologi, penyakit tropik & Infeksi pada anak, obesitas pediatri, diabetes, tiroid, serta alergi dan gangguan imun pada anak. (Red/rlls)

  • FKUI Jalin Kerjasama dengan RS Siloam Kupang, Majukan Pendidikan Kedokteran Urologi

    FKUI Jalin Kerjasama dengan RS Siloam Kupang, Majukan Pendidikan Kedokteran Urologi

    Mediakawasan.id, Kupang – Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menandatangani perjanjian kerjasama (MoU) dengan Grup RS Siloam, melalui RS Siloam Kupang untuk menjadi RS Pendidikan Satelit, dalam program studi Kedokteran Urologi. Penandatanganan yang dilakukan pada, 20 Juli 2023 ini, merupakan salah satu bentuk perwujudan kerjasama antara sektor publik dan swasta dalam bidang pendidikan medis di Indonesia.

    Hal ini juga sekaligus bentuk komitmen dan dukungan Grup RS Siloam dalam meningkatkan kompetensi pendidikan dokter spesialis di Indonesia.

    Menurut data dari Konsili Kedokteran Indonesia tahun 2022, jumlah persebaran dokter spesialis di Indonesia masih berpusat di pulau Jawa, dengan total lebih dari 32.000 orang atau sekitar 60% dari total populasi dokter spesialis di Indonesia.

    Sementara itu, di wilayah Nusa Tenggara hanya memiliki kurang dari 700 dokter atau hanya sekitar 1% dari total populasi dokter di Indonesia. Hal ini juga menjadi fokus pemerintah untuk menyetarakan distribusi tenaga medis ke seluruh penjuru nusantara, terutama Indonesia bagian timur.

    Menurut data Kementerian Kesehatan Indonesia tahun 2020, sebanyak 6 dari 1.000 penduduk atau sekitar 1.5 juta penduduk Indonesia menderita penyakit batu ginjal, di mana sekitar 500.000 di antaranya mengalami gagal ginjal akut. Sementara itu, jumlah dokter spesialis urologi hanya tercatat sebanyak 569 orang pada tahun 2022.

    Dilansir dari Badan Pusat Statistik tahun 2022, urologi adalah salah satu penyakit tertinggi di provinsi Nusa Tenggara Timur. Adapun, jenis kasus urologi di NTT yang sering ditemukan di antaranya, Infeksi Saluran Kemih (ISK), batu ginjal, hingga gagal ginjal akut.

    Berdasarkan Jurnal Kesehatan dan Kedokteran tahun 2022, jumlah penderita Infeksi Saluran Kemih di provinsi Nusa Tenggara Timur tercatat cukup tinggi, mencapai 100 kasus per 100.000 penduduk per tahunnya atau sekitar 180.000 kasus baru per tahun.

    Grup RS Siloam, sebagai salah satu penyedia layanan kesehatan terbesar di Indonesia telah hadir untuk melayani masyarakat di wilayah Nusa Tenggara, terutama di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur sejak tahun 2014.

    Saat ini, Grup RS Siloam memiliki 3 rumah sakit yang terletak masing-masing di kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, kota Kupang, dan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

    RS Siloam Kupang telah memulai pelayanannya pada bulan Desember tahun 2014 untuk menjawab permintaan akan layanan kesehatan terjangkau yang berkualitas tinggi di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

    Dengan dukungan dari Grup RS Siloam, rumah sakit ini mampu untuk melayani berbagai kebutuhan pasien di kota Kupang dan sekitarnya termasuk kabupaten yang berada di Pulau Timor, juga dari pulau lain di NTT seperti Pulau Flores, Rote, Sumba, Alor, serta dari provinsi lain seperti Maluku dan Sulawesi.

    RS Siloam Kupang juga telah mendirikan pusat Urologi yang berfokus pada penanganan batu saluran kemih. Setiap bulannya rumah sakit ini melayani lebih dari 100 tindakan operasi urologi, 50 tindakan ESWL, dan lebih dari 800 tindakan hemodialisis.

    Sebagai salah satu institusi pendidikan kedokteran terbaik di Indonesia, FKUI mempunyai visi untuk menjadi pusat ilmu pengetahuan, teknologi kedokteran, dan budaya yang unggul dan berdaya saing, melalui upaya mencerdaskan kehidupan bangsa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga berkontribusi bagi pembangunan Indonesia dan dunia.

    Melihat tingginya angka kejadian penyakit di NTT, terutama untuk kasus urologi, FKUI dan RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) sebagai RS pendidikan utama dari FKUI, memulai kerjasama di kota Kupang dengan Grup RS Siloam dan RSUD Prof. DR. WZ. Johannes untuk mencapai visi mereka serta mendukung program pemerintah untuk meningkatkan persebaran dokter di Indonesia.

    Melalui kerja sama ini, dokter spesialis urologi residen dari FKUI akan ditugaskan ke salah satu rumah sakit di kota Kupang untuk menyelesaikan pendidikan mereka.

    Para dokter spesialis urologi residen dapat turun langsung untuk melayani kebutuhan kesehatan masyarakat di wilayah sekitar dan melakukan tindakan medis sesuai dengan kompetensinya. Para dokter spesialis residen ini juga akan berada dalam bimbingan dan pengawasan dari dokter spesialis urologi di rumah sakit tempat mereka ditugaskan.

    Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH., M.M.B, selaku Dekan FKUI menyampaikan, “Setelah melalui proses visitasi dan observasi, FKUI-RSCM memutuskan untuk bekerja sama dengan RS Siloam Kupang dan RSUD Prof. DR. WZ. Johannes dimana FKUI akan mengirimkan mahasiswa dalam Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) ke salah satu rumah sakit tersebut, khususnya di bidang urologi. Kerja sama ini dapat membantu RSCM dan FKUI dalam menambah kompetensi dan jumlah spesialis urologi di Indonesia.”

    Lanjuy dr. Ari Fahrial, “Dengan kerjasama ini pula, diharapkan PPDS urologi FKUI-RSCM dapat mendapat banyak pengalaman yang luar biasa dengan mempelajari berbagai kasus di Indonesia Timur yang mungkin tidak ditemukan di tempat lain. Selain itu, kerja sama dalam bentuk riset atau penelitian dapat dilakukan sebagai bentuk pengembangan ilmu dan pendidikan kedokteran.”

    Caroline Riady, Managing Director Grup RS Siloam, dalam kesempat tersebut mengatakan, “Kami menyambut dengan hangat dan berterima kasih kepada FKUI dan RSCM yang telah memilih Grup RS Siloam untuk menjadi RS pendidikan satelit untuk kedokteran spesialisas urologi. Kerja sama ini merupakan bentuk perwujudan komitmen sektor publik dan swasta untuk Indonesia. Grup RS Siloam dan FKUI memiliki visi yang sama, yakni untuk memajukan pendidikan kedokteran di Indonesia.”

    “Permintaan akan tenaga medis berkualitas masih tinggi untuk wilayah Nusa Tenggara. Kami juga berharap dengan ditugaskannya dokter residen spesialis ke wilayah NTT dapat menumbuhkan minat mereka untuk melayani masyarakat di sini. Kami yakin bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk dicapai apabila kita saling bergandengan tangan dan bekerja sama untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sehat,” tutup Caroline. (Red/rlls)


  • Operasi Pemasangan Deep Brain Stimulation (DBS) pada Pasien Parkinson: Pengobatan lnovatif dan Harapan Baru

    Operasi Pemasangan Deep Brain Stimulation (DBS) pada Pasien Parkinson: Pengobatan lnovatif dan Harapan Baru

    Mediakawasan.id, Jakarta, 07 Juli 2023 – Penyakit Parkinson adalah gangguan neurologis yang umum terjadi pada populasi usia lanjut, dengan keluhan utama seperti gerakan melambat, gemetar (tremor), dan kekakuan pada sendi (rigiditas). Gejala-gejala inl dapat makin memberat seiring dengan pertambahan usia. Operasi DBS atau Deep Brain Stimulation adalah salah satu prosedur yang dapat membantu memperbaiki gejala Parkinson dan meningkatkan kualltas hldup penyandang Parkinson.

    2 (dua) dokter dari RS Siloam yaitu Dr. dr. Made Agus Mahendra lnggas, Sp.BS dan Dr. dr. Rocksy Fransisca V Situmeang, Sp.N akan berbicara mengenai hal ini. Yuk kita simak wawancara dengan para dokter tersebut.

    Deep BrainStimulation pada Pasien ParkinsonDokter spesialis saraf Siloam Hospitals Lippa Village Dr. dr. Rocksy Fransisca V Sltumeang, Sp.N dalam kesempatan wawancaranya menyebutkan Operasi Deep Brain Stimulation (DBS) atau pernasangan stimulasl saraf di dalam otak merupakan sebuah prosedur medis yang digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi neurologis seperti penyakit Parkinson. Prosedur ini melibatkan pemasangan elektroda tip1s pada bag1an tertentu dari otak, yang kemudian memberikan impuls listrik untuk meningkatkan fungsi motorik atau menghambat aktivitas yang berlebihan pada saraf.

    “Elektroda ini terhubung ke generator yang ditanam di bawah kullt di dada. Generator ini mengirimkan sinyal listrik ke otak yang membantu mengurangi gejal21 Parkinson. Metode DBS adalah salah satu dari beberapa pengobatan yang tersedia untuk Parkinson dan telah terbukti efektif dalam mengurangi gejala”, ujar dr Rocksy.

    Bagaimana DBS Memengaruhi Otak pada Pasien Parkinson? dr. Rocksy menyebutkan elektroda DBS memancarkan impuls listrik yang bertujuan untuk mengatasi gejala Parkinson. Elektroda DBS bekerja dengan memberikan stimulus ke daerah otak tertentu yang terlibat dalam mengatur gerakan tubuh. Sinyal ini membantu mengurangi tremor, kekakuan, dan kesulitan bergerak yang terkait dengan Parkinson. DBSJuga dapat membantu mengurangi efek samping dari obat Parkinson yang digunakan untuk mengontrol gejala.

    Keuntungan dari Deep Brain Stimulation pada Pasien Parkinson?Berikutnya, dr. Rocksy turut menjelaskan bahwa terdapat beberapa keuntungan dari DBS pada pasien Parkinson, antara lain:

    Menurunkan intensitas gejalaSalah satu keuntungan dari prosedur DBS Parkinson adalah kemampuannya untuk menurunkan intensitas gejala. Beberapa tanda-tanda penyakit seperti tremor, kaku, gerakan lambat, dan ketidakmampuan untuk bergerak dapat dikurangi dengan DBS.

    1. Menurunkan intensitas gejala, Salah satu keuntungan dari prosedur DBS Parkinson adalah kemampuannya untuk menurunkan intensitas gejala. Beberapa tanda-tanda penyakit seperti tremor, kaku, gerakan lambat, dan ketidakmampuan untuk bergerak dapat dikurangi dengan DBS.
    2. Mengurangi dosis obat, DBS dapat mengurangi dosis obat yang biasanya di konsumsi untuk rnengobati penyakit Parkinson. Dosis obat yang dikonsurnsi rnenjadl lebih sedikit sehingga dapat meminimalkan efek sarnping dari obat Hal ini juga mernbantu meningkatkan kualitas h1dup pasien.
    3. Prosedur yang aman, Pemasangan DBS tidak rnempengaruhi kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Area otaky ng distimulus terbatas pada lokasi tertentu yang mempengaruhi gerakan, sehingga tidak mernpengaruhi fungsi otak lainnya. Oleh karena itu, pasien dapat menjalani kegiatan seharl-harl dalam kondisi yang sama seperti sebelurnnya.
    4. Efektif dalam jangka waktu lama, Terapi DBS dapat terus efektif selama bertahun-tahun. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan rutin pada pasien untuk memastikan stimulasi pada DBS tetap berjalan sesuai dengan program yang telah dltetapkan.
    5. Prosedur yang dapat diatur dengan mudah, Terapi DBS dapat dengan mudah diatur sesuai dengan kebutuhan pasien. Ketika suatu program dimulai, pasien dapat memantau hasilnya dan berbicara dengan dokter tentang tingkat stimulasi yang diperlukan. Paslen dapat memulai terapi dengan tingkat stimulasi yang lebih rendah, dan meningkatkan dosis seiring berjalannya waktu.

    “Melihat dari beberapa keuntungan di atas, DBS dapat m_enawarkan sebagai salah satu pengobatan yang aman dan efektlf untuk gejala Parkinson. Namun, setiap pasien memiliki kondisi yang unik, oleh karena itu sangat dltekankan untuk berkonsultas1 dengan dokter sebelum mernulai terapi DBS,” Ianjut dr Rocksy

    Pemilihan Pasien yang Tepat untuk DBS pada Pasien Parkinson Perlu diingat, setiap pasien rnemiliki kondisi yang unik, kondisi tersebut memengaruhl keputusan seorang pasien untuk melakukan operasi DBS. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi yang teliti oleh dokter spesialis saraf untuk memastikan pasien tersebut memenuhi syarat. Berikut adalah beberapa kriteria pasien yang cocok untuk dilakukan operasi DBS pada paslen Parkinson:

    1. Penegakan diagnosis Penyakit Parkinson, Pasien harus memiliki diagnosis Parkinson yang ditegakkan dengan jelas. Tipe Parkinson yang leblh berat seperti Parkinson refraktori dapat menjadi indikasi untuk menjalani terapi DBS.
    2. Telah maksimal dalam menggunakan obat, Pasien harus sudah mencoba dan memaksimalkan obat-obatan Parkinson yang tersedia dan tidak memberikan pengobatan yang memadai dalam mengontrol gejala, sehingga opsi bedah menjadi pertlmbangan.
    3. Tidak adanya efek samping yang signifikan dari obat, Pasien harus mampu mentoleransl efek samping dari obat obatan yang diberikan. Jika pasien tidak dapat mentoleransi efek samping terkait dengan obat-obat ini, maka opsi bedah bisa dianggap sebagai alternatif.
    4. Kondisi medis lain yang stabil, Pasien harus dalam kondisi kesehatan yang cukup baik dan tidak memiliki penyakit medis lain yang bertentangan dengan operas! DBS. Pada pasien yang menderita penyakit medls lain seperti epilepsi yang tidak terkontrol atau terapi kanker sistemik, sebaiknya menunda operasi DBS ini.
    5. Usia pasien, Umur pasien yang direkomendasikan tidak lebih dari 75 tahun, namun demikian tetap diperlukan diskusi antara pasien, dokter, dan keluarga.
    6. Kualitas hidup pasien, Pasien harus memillki kefnginan untuk memperbaikl kualitas h1dup dan memperbaiki cara hidup sehat. Pasien harus mengerti bahwa operasi DBS Parkinson bukanlah obat ajaib yang akan menghilangkan penyakit, tetapi metode pengobatan yang bertujuan untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup.

    Demikian beberapa kriteria pasien yang cocok untuk operasi DBS Parkinson, keputusan pilihan untuk menjalani operasi DBS harus didasarkan pada evaluasi yang cermat dan diskusi antara pasien, dokter spesialis neurologi, dan keluarga.

    Proses Pemasangan Elektroda DBS pada Pasien Parkinson, Dr. dr. Made Agus Mahendra lnggas, Sp.BS, dokter spesialis bedah saraf yang saat ini berpraktik di Siloam Hospitals Lippa Village, secara singkat memberikan penjelasan terkait dengan proses pemasangan elektroda DBS pada pasien. Langkah pertama dalam pemasangan elektroda DBS adalah dengan melakukan pemeriksaan MRI, yaitu sebuah prosedur pemindaian tubuh yang menggunakan medan magnet dan gelombang radio untuk menciptakan gambaran detail dari otak. lni membantu dokter untuk menentukan area yang akan diberikan stimulasi.

    Prosedur berikutnya adalah memasang frame penyangga kepala. Frame ini akan membantu mengamankan kepala pasien agar dapat dilakukan pemetaan otak yang lebih tepat. Setelah frame dipasang, dokter akan melakukan pemetaan otak. Hal ini dilakukan dengan menggunakan teknologi yang disebut dengan trajectories. Trajectories digunakan dalam menentukan rute yang tepat untuk memasukkan elektroda ke otak sehingga dapat melakukan stimulasl.

    Dokter akan memasukkan elektroda DBS ke otak melalui lubang kecil pada tengkorak. Elektroda kemudlan dipasang melalui sebuah tabung khusus yang memungkinkan dokter untuk memasang elektroda tersebut dengan tepat dan terkendail.

    Selanjutnya setelah elektroda dipasang, dokter akan mengaktifkan stimulator. Stimulator ini berperan untuk mengirimkan sinyal elektrik yang melalui elektroda ke otak dan memengaruhi sistem saraf yang mengendalikan gerakan. Dokter akan menentukan frekuensi optimal dan arus listrik yang diperlukan untuk mengendalikan gejala Parkinson.

    Ketika prosedur selesai, pasien akan dlmasukkan ke ruang pemulihan untuk dipantau oleh dokter dan tim medis Pasien akan menjalani beberapa sesi pemrograman dan disarankan untuk melakukan beberapa aktivitasfisik saat tangan dan kaki dlstimulasi oleh DBS.

    Sel ma beberapa hari setelah operasi, pasien akan tetap dalam pengawasan tim medis. Hal ini dilakukan untuk memantau kemajuan pasien serta memeriksa adanya komplikasi yang mungkin muncul. Selain itu, pasien diharuskan untuk menjalani sesi pemrograman ulang ketika dibutuhkan.

    Perlu diketahui juga, berdasarkan data dan penanganan pasien Parkinson di Siloam Hospitals Lippo Village, tingkat keberhasilan dari prosedur DBS ini adalah sebesar 70 % sampai 80%. “Tidak semua rumah sakit dapat melakukan tindakan operasi DBS, Siloam Hospitals Lippo Village merupakan salah satu rumah sakit yang secara fasilitas dan kompetensi tenaga medisnya mampu untuk melakukan DBS. Namun demikian, saat ini banyak rum ahsakit yangmulai melirik treatment DBS karena besarnya tingkat keberhasilan dan pengaruhnva terhadap kualitas hidup pas,en pascaoperasi dilakukan,” ujar Dr. dr. Made Agus Mahendra lnggas, Sp.BS.

    Treatment Pascaoperasi DBS pada Pasien Parkinson Setelah pemasangan elektroda DBS, menurut Dr. dr. Rocksy Fransisca V.Situmeang, Sp.N, pasien tidak memerlukan pengobatan yang khusus . Umumnya pasien melaporkan kondisi yang lebih baik pasca operasi dan dapat mulai beraktfvitas seperti biasa

    “Pasca operas, alat DBS masih dalam kondisi tidak aktif. Alat baru dinyalakan setelahl-2 minggu pasca operasi menunggu pemulihan Iuka pasca operasi. Selama masa pemulihan, pasien akan melakukan pemeriksaan medis secara teratur agar kondisinya terus termonitor dengan baik.” ujar dr. Rocksy.

    “Agar stimulasi dapat berfungsl dengan baik, voltage (voltase) dari elektroda tersebut harus diatur secara tepat. Setiap pasien mungkin memiliki pengaturan stimulasi DBS yangberbeda-beda, tergantung pada respons terhadap stimulasi, keparahan gejala Parkinson, dan seirlng bertambahnya usia darl pasien tersebut” lanjut dr. Rocksy.

    Dalarn pemrograman DBS yang dilakukan, ketika pasien merasa sudah nyaman dan pergerakan tubuhnya membaik, settingan sederhana tersebut mampu bertahan hingga berbulan-bulan bahkan sampai 1 tahun lebih sehingga pasien tidak perlu melakukan kontrol rutin untuk melakukan setting ulang terhadap DBS tersebut.

    Pasien yang Tidak Dianjurkan Melakukan Pemasangan DBS Parkinson, Pada akhir kesempatan wawancara yang dilakukan, dr. Rocksy menjelaskan secara singkat mengenai pasien yang tidak dianjurkan untuk dilakukan pemasangan DBS. Menurutnya, pasien tersebut tidak akan menerima efek yang diharapkan mengingat beberapa hal sebaga1 berikut:

    1. Demensia derajat sedang berat, pasien dengan demensia sedang-berat dianjurkan untuk tidak menjalani operasi DBS karena dikhawatirkan tidak cocok dan mudah mengalami komplikasi sehingga efektivitas pengobatan itu sendiri menjadi terganggu.
    2. Depresi sedang berat, pasien dengan depresi sedang-berat juga tldak dianjurkan untuk menjalani operas, DBS karena hasilnya tidak optimal. Tindakan fisioterapi dan terapi musik akan lebih rnembantu pasien parkinson dengan kondisi tersebut.
    3. Pasien Parkinson yang tidak merespon terhadap obat-obatan, beberapa pasien memang tidak merespon baik terhadap obat-obatan untuk parkinson. Dalam kasus ini, dokter akan mencoba mengombinasikan obat atau memberikan terapi alternatif untuk mengelola gejala tersebut.

    Penting untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis dan mendapatkan evaluasi menyeluruh sebelum memutuskan apakah DBS cocok untuk pasien tertentu. Ada alternatif pengobatan yang tersedia untuk gejala parkmson, dan dokter akan membantu memilih pengobatan yang paling tepat berdasarkan kondisi dan faktor risiko pasien.

    Bila ada pertanyaan lebih lanjut terhadap penanganan penyakit Parkinson dan DBS, Anda dapat melakuk;m konsultasi dengan Dr. dr Rocksy Fransisca V. Situmeang, Sp.N dan Dr. dr. Made Agus Mahendra lnggas, Sp.BS melalui situs https://www.siloamhospitals.com/cari-dokter, aplikasi My5iloam atau menghubungi Contact Center 1-500-181 (Red/*)

  • KMNC Tawarkan Solusi Persalinan Nyaman dan Terjangkau, Luncurkan Paket Persalinan dengan Bidan

    KMNC Tawarkan Solusi Persalinan Nyaman dan Terjangkau, Luncurkan Paket Persalinan dengan Bidan

    Mediakawasan.id, Bintaro – Memberi solusi melahirkan aman, nyaman dengan biaya terjangkau, Klinik Kosambi Maternal & Children Center (KMNC) meluncurkan paket persalinan dengan bidan, salah satunya adalah KMNC Graha Raya Bintaro, Tangsel. Sejak diluncurkan pada awal Mei 2023, KMNC Graha Raya Bintaro telah menolong sekitar 20 pasien.

    “Namun, ada persyaratan khusus untuk ibu hamil (bumil) yang ingin melakukan persalinan dengan bidan. Salah satunya adalah kondisi kesehatan bumil yang prima, dalam artian tidak ada masalah medis yang terjadi pada janin dan bunda. Simpelnya, para bumil yang disarankan melahirkan di bidan biasanya adalah yang berisiko rendah melakukan operasi caesar,” papar Ficka Restu Nugrahani Amd. Keb., dari Klinik KMNC Graha Raya Bintaro, saat dikunjungi pada Sabtu, (08/07).

    Menurut Bidan Ficka, konsep homey yang ditawarkan Klinik KMNC Graha Raya, menjadi alasan dari para bumil untuk melahirkan di klinik tersebut.

    “Alasan utamanya adalah bumil merasa lebih nyaman jika melahirkan dengan bidan, dan yang pasti biayanya lebih affordable, jika dihitung-hitung bisa mencapai 50 persen lebih murah yakni sekitar 3,9 jutaan saja, sementara dengan dokter saat ini mencapai 8 jutaan,” ungkap Bidan Ficka.

    Meski demikian, bidan yang membantu proses persalinan tetap harus melaporkan kondisi pasien kepada dokter.

    “Tetap dipantau dokter, kami antisipasi jika tiba-tiba ada kendala, dokter kandungan yang akan turun tangan. Jika memang masih tidak memungkinkan dan pasien harus dicaesar maka pasien akan kami rujuk ke RS yang sudah bekerjasama dengan KMNC dengan jangkauan jarak sangat dekat, mulai dari 1 KM saja dari KMNC, ” papar Bidan Ficka.

    Meski mendapat fasilitas yang sama, untuk bumil yang memilih paket persalinan dengan bidan, tidak dikunjungi oleh dokter anak dan dokter laktasi, jika kondisi ibu dan bayinya sehat. Namun, pasien tak perlu khawatir, karena Ibu dan bayi akan dijadwalkan bertemu dengan dokter spesialis obgyn, anak dan laktasi saat kontrol, sekitar 7 hari setelah melahirkan. 

    “Untuk paket melahirkan dengan bidan, setiap prosesnya pasien akan dibantu oleh 2 orang bidan yang sudah berpengalaman. KMNC Graha Raya memiliki 13 orang Bidan, yang semuanya sudah kompeten,” ucap Bidan Ficka yang sudah 10 tahun menangani persalinan. (red/*) 

  • Perluas Peluang, Industri Kesehatan Taiwan Gali Potensi Pasar Indonesia

    Perluas Peluang, Industri Kesehatan Taiwan Gali Potensi Pasar Indonesia

    Mediakawasan.id, Jakarta – Besarnya potensi pasar industri kesehatan Indonesia di era pasca pandemi, membuat para pebisnis industri kesehatan Taiwan aktif mencari peluang di Indonesia. Dalam waktu dekat Taiwan External Trade Development Council (TAITRA) akan menyelenggarakan acara “Taiwan Healthcare Industry Trade Mission to Indonesia” di Jakarta dan Surabaya dari tanggal 3 Juli hingga 8 Juli 2023.

    Dalam acara yang disponsori oleh Bureau of Foreign Trade, MOEA., dan diselenggarakan oleh TAITRA, sejumlah perusahaan dan instansi kesehatan asal Taiwan akan mengundang para pengusaha dan instansi terkait dari Indonesia, khususnya Jakarta dan Surabaya untuk melakukan pertemuan dan menjajaki potensi kerjasama.

    “Keunggulan Taiwan dalam industri IoT (Internet of Things) dan perawatan kesehatan akan menghadirkan teknologi inovatif yang meningkatkan efisiensi dan perawatan pasien. Integrasi industri ini dapat memenuhi kebutuhan kesehatan yang mendesak di Indonesia,” ujar Ms.Tiffany Wang selaku manager dari TAITRA Jakarta.

    Sejumlah perusahaan kesehatan asal Taiwan yang akan hadir dalam acara Trade Meeting tersebut yakni BIOSENSETEK CORP. yang akan menawarkan sistem IoT telemetri yang dapat digunakan untuk pemantauan pasien jarak jauh dan pengumpulan data dalam perawatan kesehatan dan kebugaran. Kemudian ada ALGER TECHNOLOGY CO., LTD. yang memiliki spesialisasi dalam memproduksi nasogastric tube holder berkualitas tinggi, untuk meningkatkan perawatan dan keselamatan pasien setelah prosedur medis.

    Selanjutnya ada B.GREEN TECHNOLOGY CO., LTD. yang akan memberikan “Solusi Cerdas untuk Kebugaran Komprehensif Lansia” dengan peralatan olahraga dan rehabilitasi berkemampuan IoT, untuk pengaturan perawatan lansia. Adapun,  ANFA Clinic yang akan memberikan layanan manajemen perawatan kesehatan menyeluruh, dengan perawatan yang dipersonalisasi dan teknologi medis mutakhir.

    Lebih lanjut akan ada Shin Kong Wu Ho-Su Memorial Hospital yang terkenal dengan layanan kesehatan internasionalnya, termasuk pemeriksaan kesehatan premier, operasi kardiovaskular, dan tindakan operasi dengan alat bantu robot. Kemudian ada National Taiwan University Hospital (Cabang Kota Yunlin, Taiwan) yang akan menawarkan layanan kesehatan internasional terkait transplantasi organ, pengobatan kanker, kelainan yang langka, dan bedah estetik. Dan terakhir akan ada Far Eastern Memorial Hospital yang telah diakui secara internasional untuk layanan kesehatannya, termasuk pengobatan jarak jauh, bedah minimal invasif, pengobatan kanker, dan transplantasi organ. “Kami mengundang rumah sakit, agen, dealer, dan asosiasi terkait di Indonesia untuk bergabung dengan kami dalam Trade Mission ini untuk menjajaki peluang bisnis dan kolaborasi yang menarik di sektor industri kesehatan,” ujar Ms. Tiffany. (Red/rlls)