Tag: BRIN

  • Simposium Nuklir Dorong Indonesia Menuju Kedaulatan Energi dan Net Zero Emission 2035

    Simposium Nuklir Dorong Indonesia Menuju Kedaulatan Energi dan Net Zero Emission 2035

    Mediakawasan.id, Tangerang Selatan — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) menyelenggarakan Simposium Nuklir 2025 yang berlangsung selama dua hari di kawasan Puspiptek, Serpong. Kegiatan ini diikuti sekitar 380 peserta dari berbagai institusi, terdiri atas 50 persen internal BRIN dan 50 persen mitra eksternal, termasuk perguruan tinggi, kementerian, industri, hingga mahasiswa.

    Rangkaian kegiatan dimulai sehari sebelumnya dengan kunjungan fasilitas nuklir. Sebanyak 29 peserta diundang meninjau langsung Reaktor Serbaguna G.A. Siwabessy serta Instalasi Pengelolaan Limbah Radioaktif di Serpong.

    Hari kedua menjadi puncak kegiatan berupa simposium dan seminar, menghadirkan pembicara kunci dari Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI), BRIN, Universitas Pertahanan RI, dan Direktorat Jenderal EBTKE. Selain sesi pleno, acara juga diramaikan dengan pameran poster, market teknologi, serta sesi paralel bersama para champion di bidangnya.

    Menurut Anis Rohanda selaku perwakilan BRIN, tema simposium tahun ini menekankan pentingnya teknologi nuklir sebagai penopang menuju kedaulatan energi Indonesia. “Harapannya nuklir dapat mendukung berbagai bidang aplikasi, mulai dari energi untuk industri, kesehatan, pangan, hingga kontribusi pada target net zero emission 2035,” ujarnya.

    Dalam kesempatan ini, BRIN juga memperkenalkan sejumlah market teknologi nuklir, di antaranya desain reaktor daya, dummy fuel untuk reaktor riset, produk radioisotop dan radiofarmaka, serta edukasi pengelolaan limbah radioaktif.

    Selain aspek teknis, simposium ini juga menekankan aspek non-teknis berupa penguatan jejaring antara BRIN, HIMNI, akademisi, kementerian, industri, hingga mahasiswa. “Kegiatan ini memberikan wawasan baru sekaligus memperluas kolaborasi strategis untuk menyiapkan SDM ketenaganukliran di masa depan,” tambah Anis.

    Sejalan dengan upaya global menekan emisi karbon, Kementerian ESDM telah menyusun skenario transisi energi menuju net zero emission 2035, di mana energi nuklir diproyeksikan menjadi salah satu kontributor utama. Dukungan juga datang dari dunia pendidikan, di antaranya UGM, ITB, dan Universitas Pertahanan RI yang mulai membuka program studi ketenaganukliran guna mempersiapkan tenaga ahli di bidang ini.

    Dengan kolaborasi riset, pemanfaatan teknologi, dan penguatan SDM, Indonesia diharapkan dapat segera mewujudkan kedaulatan energi sekaligus mendukung agenda pembangunan berkelanjutan. (Red/*)

  • BRIN Dinilai Arogan, Warga Setu Meluapkan Kekecewaan Soal Penutupan Jalan Puspiptek

    BRIN Dinilai Arogan, Warga Setu Meluapkan Kekecewaan Soal Penutupan Jalan Puspiptek

    Mediakawasan.id, Tangerang Selatan – Warga Kecamatan Setu meluapkan kekecewaannya kepada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang akan melakukan penutupan Jalan Puspiptek Serpong-Parung. Luapan kecewa itu ditungakan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Anggota DPRD Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Selasa, 30 September 2025.

    Warga yang diwakili oleh para sepuh dan tokoh masyarakat di Kecamatan Setu itu didampingi oleh kuasa hukum Lembaga Bantuan Hukum (LBH) GP Ansor Kota Tangsel.

    Ketua LBH GP Ansor Tangsel Suhendar mengatakan, kedatangannya ke DPRD itu untuk mencari dukungan politik dari wakil rakyat tentang persoalan penutupan jalan oleh BRIN.

    “Ya, kami apresiasi dan mudah-mudahan sikap politik di dalam ruangan ini nanti dibawa oleh para pimpinan menjadi sikap politik institusi sehingga harapannya penolakan warga terhadap penutupan sepiak oleh BRIN ini mendapat dukungan secara politik dari DPRD,” kata Suhendar.

    Suhendar menegaskan, ada beberapa poin yang menjadi dasar untuk mematahkan wacana dan klaim BRIN terkait penutupan serta pengakuan kepemilikan jalan.

    “Pertama, di dalam Peraturan Wali Kota Tangerang Selatan, itu dikatakan adalah jalan Provinsi Banten. Lalu keputusan Gubernur juga demikian mengatakan status Jalan Serpong-Muncul-Parung adalah aset milik Pemerintah Provinsi Banten. Dan terakhir, Perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah Provinsi Banten tahun 2023 juga mengatakan jalan tersebut adalah jalan status milik Provinsi Banten. Dengan demikian, maka patahlah dan tidak mendasar klaim sepiak oleh BRIN,” tegas Suhendar.

    Suhendar menyebut, aksi klaim dan penutupan sepihak yang dilakukan BRIN itu menunjukkan BRIN dikelola secara arogan, BRIN dikelola secara semena-mena terhadap pemerintahan daerah.

    “Ini bukan lagi cacat hukum, tapi perbuatan BRIN jelas melawan hukum. Karena dia mengabaikan secara fakta ada produk hukum daerah yang mengatakan dan menetapkan tanah berstatus milik Provinsi Banten. Tetapi semena-mena arogan diabaikan semua, seolah-olah itu tidak ada dan itu milik BRIN. Tanpa dasar yang jelas, inilah yang saya sebut BRIN dikelola secara arogan, secara semena-mena,” beber Suhendar.

    Sementara itu, Ketua DPRD Kota Tangsel Abdul Rosyid mengapresiasi upaya warga Kecamatan Setu itu yang berani mengungkapkan aspirasi dan keluhan yang dialami melalui RDP dengan DPRD Kota Tangsel.

    “Tentunya kita sudah mendengarkan masukan dan informasi dari masyarakat Kelurahan Setu dan Muncul, sangat lengkap informasinya. Baik dari sisi status lahannya, kemudian juga persoalan-persoalan yang dihadapi, dampak-dampaknya terkait apa yang akan dilakukan oleh BRIN,” ungkap Rosyid.

    Rosyid berjanji, akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Banten untuk mencari solusi terkait keluhan dan masalah penutupan sepihak Jalan Puspiptek Serpong-Parung oleh BRIN.

    “Kita akan tindak lanjuti ke Pemprov Banten untuk koordinasi terkait masalah-masalah yang ada di lapangan. Karena memang kan status jalannya jalan provinsi. InsyaAllah kita akan tindak lanjuti,” pungkasnya. (Red/*)

  • Dari Battery School ke Industri: NBRI Dorong Kolaborasi Vokasi dalam Teknologi Baterai

    Dari Battery School ke Industri: NBRI Dorong Kolaborasi Vokasi dalam Teknologi Baterai

    Mediakawasan.id, Tangerang Selatan – National Battery Research Institute (NBRI) kembali menyelenggarakan Battery School pada 29–30 September 2025 di Indonesian Life Sciences Center, Kawasan Puspitek BRIN, Bogor, Jawa Barat. Program unggulan NBRI ini hadir untuk memperkuat pengembangan sumber daya manusia di bidang energi baru terbarukan, khususnya teknologi baterai.

    Sejak pertama kali digelar pada 2021, Battery School telah melaksanakan 37 pelatihan dengan lebih dari 918 peserta dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, peneliti, praktisi industri, hingga pembuat kebijakan. Tak kurang dari 236 institusi terkemuka juga telah berpartisipasi, menegaskan peran strategis NBRI dalam membangun ekosistem baterai dan energi berkelanjutan di Indonesia.

    Guru SMK Jadi Peserta Utama

    Pada edisi September 2025 ini, NBRI secara khusus menghadirkan guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai peserta utama. Kehadiran mereka merupakan tindak lanjut program Beasiswa Pamerindo–NBRI, yang bertujuan memperkuat kapasitas pendidik vokasi agar dapat menyalurkan ilmu dan pengalaman baru kepada siswa di sekolah masing-masing.

    “Guru adalah ujung tombak pendidikan vokasi. Dengan membekali mereka pengetahuan terkini tentang teknologi baterai, kita menciptakan multiplier effect bagi generasi muda. Program ini adalah bukti nyata kolaborasi riset, industri, dan pendidikan untuk masa depan energi berkelanjutan Indonesia,” ungkap Prof. Dr. rer.nat. Evvy Kartini, Founder NBRI.

    Dalam pelatihan dua hari ini, para guru akan belajar teori dasar baterai lithium, praktik pembuatan baterai di laboratorium, hingga melakukan pengujian. Mereka juga dipertemukan dengan pembicara dari industri dan instansi pemerintah, termasuk Kementerian Perhubungan yang memberikan materi terkait keamanan jalan dan sistem pengisian daya kendaraan listrik.

    MoU dengan SMK dan Dukungan Industri

    Battery School juga dirangkaikan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara NBRI dan sejumlah kepala sekolah SMK di Banten dengan dukungan Skill Development Center (SDC) Provinsi Banten. MoU ini menjadi dasar kerja sama jangka panjang dalam memperkuat pendidikan vokasi berbasis teknologi energi.

    Dukungan juga datang dari PT Pamerindo Indonesia serta mitra strategis seperti Id Battery, Carsurin, dan Infien Energy. Menurut Lia Indriasari Basyuni, Country Manager PT Pamerindo Indonesia, inisiatif ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan platform edukasi yang berkelanjutan di sektor energi.
    “Pamerindo tidak hanya ingin menjadi exhibition organizer, tetapi juga memberikan kontribusi nyata melalui edukasi dan pemberdayaan SDM Indonesia di sektor baterai dan energi,” jelas Lia.

    Fokus pada Standarisasi Baterai Kendaraan Listrik

    Tema Battery School kali ini adalah “Standarisasi dan Performa Baterai pada Kendaraan Listrik Roda Dua (2W-EV)”. Standarisasi dianggap krusial untuk memastikan interoperabilitas, keamanan, efisiensi, serta daya saing industri baterai nasional.

    “Tanpa standar yang kuat, perkembangan kendaraan listrik akan berjalan parsial dan tidak berkelanjutan. Standarisasi adalah fondasi agar Indonesia bisa masuk rantai pasok global dan membangun industri baterai yang mandiri sekaligus kompetitif,” tegas Lia Indriasari.

    Menuju Kemandirian Energi

    Melalui Battery School, NBRI menegaskan komitmennya dalam membangun kapasitas SDM sekaligus memperkuat sinergi riset, pendidikan vokasi, dan industri. Dengan pengetahuan teknis, praktik langsung, serta keterlibatan guru SMK, program ini diharapkan menjadi langkah konkret menuju kemandirian dan kepemimpinan Indonesia dalam teknologi baterai dan energi berkelanjutan. (Red/*)

  • BRIN Tawarkan Solusi Perpanjang Masa Simpan Produk Pascapanen Melalui Teknologi Nuklir

    BRIN Tawarkan Solusi Perpanjang Masa Simpan Produk Pascapanen Melalui Teknologi Nuklir

    Mediakawasan.id, Jakarta – Humas BRIN, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong pemanfaatan teknologi iradiasi pangan sebagai solusi inovatif untuk memperpanjang masa simpan produk pertanian pascapanen sekaligus meningkatkan daya saing komoditas Indonesia di pasar global. Teknologi ini dinilai mampu mengurangi kerugian pangan nasional yang saat ini mencapai 50 juta ton per tahun, dengan nilai ekonomi sekitar Rp500 triliun.

    Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN, Syaiful Bakhri, menjelaskan bahwa teknologi iradiasi pangan terbukti efektif dan telah digunakan di lebih dari 60 negara.

    “Dengan teknologi iradiasi, kita dapat memperpanjang umur simpan produk dan menjaga kualitasnya. Hal ini penting untuk mendukung rantai pasok, mengurangi food loss, serta memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan nasional,” ungkap Syaiful dalam webinar Pemanfaatan Teknologi Radiasi untuk Pangan, Jumat (19/9).

    Menurutnya, beberapa negara bahkan telah mewajibkan teknologi iradiasi sebagai syarat karantina produk pertanian yang masuk ke wilayah mereka. Namun, di Indonesia, fasilitas iradiasi pangan masih sangat terbatas sehingga pemanfaatannya belum optimal. Syaiful menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, industri, dan peneliti, untuk memperluas penerapan teknologi ini.

    “Ke depan, pemerintah daerah dapat membangun instalasi iradiasi di sentra produksi, seperti yang mulai diinisiasi di Kalimantan Timur. Dengan begitu, teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan nilai tambah produk ekspor,” jelasnya.

    Keunggulan Teknologi Iradiasi

    Peneliti Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi BRIN, Murni Indarwatmi, menjelaskan bahwa iradiasi pangan merupakan proses perlakuan dengan radiasi pengion seperti sinar gamma, sinar-X, atau berkas elektron yang dilakukan pada bahan pangan. Proses ini mampu membasmi mikroba patogen, mengendalikan hama, serta memperlambat pembusukan tanpa mengurangi kandungan gizi atau kualitas produk.

    “Keunggulan iradiasi antara lain membunuh mikroba dan hama hingga yang tersembunyi, tidak meninggalkan residu, dan dapat diterapkan pada produk yang sensitif terhadap panas. Selain itu, teknologi ini praktis karena bisa dilakukan setelah produk dikemas,” papar Murni.

    Pada buah dan sayuran, iradiasi dosis rendah dapat memperlambat pematangan dengan menekan aktivitas fisiologis seperti produksi hormon etilen, sehingga umur simpan menjadi lebih panjang. Iradiasi juga dapat digunakan untuk memenuhi persyaratan perdagangan internasional, seperti pencegahan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) melalui perlakuan fitosanitari.

    Potensi Ekspor dan Standar Internasional

    Menurut Murni, teknologi iradiasi pangan membuka peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor produk pertanian, terutama ke negara-negara seperti Australia dan Tiongkok. Produk buah tropis yang diiradiasi dinilai lebih aman dan ramah lingkungan dibandingkan dengan fumigasi kimia.

    “Teknologi ini sudah diakui oleh badan internasional seperti Codex, IPPC, dan IAEA. Dengan branding yang tepat, produk pertanian Indonesia dapat lebih kompetitif di pasar global,” jelasnya.

    Namun, Murni mengingatkan adanya beberapa tantangan, seperti keterbatasan fasilitas iradiasi, tingginya biaya operasional dan logistik, serta persepsi publik terkait keamanan produk iradiasi. Selain itu, diperlukan regulasi yang jelas, koordinasi antarinstansi, dan penguatan SDM agar pemanfaatan teknologi ini dapat berjalan optimal.

    Strategi Pengembangan

    Untuk mengatasi hambatan tersebut, BRIN melalui program RADIANA (Radiasi Aman Pangan Nasional) mendorong pembentukan Pusat Kolaborasi Riset Industri Iradiasi Pangan Nasional yang melibatkan pemerintah, swasta, dan akademisi. Program ini juga mencakup edukasi publik, diplomasi perdagangan, serta harmonisasi standar regulasi.

    Peneliti BRIN, Ashri Mukti Benita, menambahkan bahwa iradiasi pangan merupakan inovasi yang aman dan telah diatur melalui UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Peraturan BPOM No. 18 Tahun 2019 tentang Cara Iradiasi Pangan yang Baik, serta SNI 14470:2014.

    “Iradiasi tidak membuat makanan menjadi radioaktif dan tidak mengubah rasa maupun kandungan gizi produk. Justru teknologi ini memberikan nilai tambah yang besar, terutama untuk produk bernilai tinggi seperti rempah, ikan, daging, buah, dan sayuran,” jelas Ashri.

    Dengan strategi ini, BRIN optimis teknologi iradiasi pangan dapat menjadi garda terdepan dalam mengurangi food loss, memperkuat ketahanan pangan nasional, serta meningkatkan daya saing ekspor produk pertanian Indonesia. (Red/*)

  • BRIN Gelar International Maritime Symposium on Hydrodynamic Science and Technology 2025, Tegaskan Komitmen pada Maritim Berkelanjutan

    BRIN Gelar International Maritime Symposium on Hydrodynamic Science and Technology 2025, Tegaskan Komitmen pada Maritim Berkelanjutan

    Mediakawasan.id, Tangerang Selatan – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) dan Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) resmi membuka International Maritime Symposium on Hydrodynamic Science and Technology 2025 (IMS-HydroST) yang digelar pada 22–23 September 2025 di Graha Widya Bhakti, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan.

    Acara yang bertepatan dengan peringatan Hari Maritim Nasional ke-61 ini mengusung tema “Empowering Maritime Transformation: Green, Safe, Smart, and Sustainable Solutions through Multi-Disciplinary Collaboration”, dengan menekankan pentingnya kolaborasi lintas disiplin untuk mewujudkan transformasi maritim yang berkelanjutan.

    Dorong Kolaborasi Lintas Negara

    Kepala BRIN, Dr. Laksana Tri Handoko, M.Sc., menegaskan pentingnya simposium ini sebagai wadah kolaborasi internasional.

    “Ini pertama kalinya Indonesia menggelar simposium maritim internasional sekaligus untuk memperingati 61 tahun Hari Maritim Nasional, bagian dari Deklarasi Juanda yang meneguhkan Indonesia sebagai negara kepulauan. Harapan saya, forum ini memperkuat kolaborasi para periset, baik dalam negeri maupun luar negeri, serta membuka jalan kerja sama lebih erat dengan industri,” ujar Handoko.

    Simposium ini melibatkan lebih dari 300 peserta dari kalangan akademisi, peneliti, industri, dan pemerintah. Sejumlah pembicara kunci berasal dari Jepang, Jerman, Korea, hingga Inggris, di antaranya Uwe Neddermeyer (SCHOTTEL, Jerman), Subraje Subramaniam (HR Wallingford, UK), hingga Dr. Hansan Park (UNESCO IOC, Korea).

    Fokus pada Energi Rendah Karbon dan Isu Lingkungan

    Menurut Teguh Muttaqi, Kepala PRTH BRIN, simposium ini akan menekankan pada pengembangan teknologi rendah karbon dan berkelanjutan.

    “Teknologi yang lebih rendah karbon dan ramah lingkungan menjadi fokus utama kami. BRIN ingin menghadirkan kebaruan teknologi maritim yang tidak hanya maju secara teknis, tetapi juga peduli pada isu lingkungan,” ungkap Teguh.

    Salah satu isu yang dibahas adalah pencemaran laut, khususnya mikroplastik. BRIN mengembangkan berbagai riset untuk menjawab tantangan ini.

    “Kami bekerja sama dengan OR Tenaga Nuklir dalam memanfaatkan teknologi akselerator, misalnya iradiasi berbasis akselerator, untuk menangani sampah plastik dan mikroplastik di laut,” tambahnya.

    Selain itu, BRIN juga aktif melakukan eksplorasi kekayaan hayati dan non-hayati laut, termasuk pemetaan geologi dan potensi bahaya alam seperti tsunami dan gempa bawah laut.

    Harapan Ke Depan

    Teguh berharap IMS-HydroST tidak berhenti pada penyelenggaraan perdana ini saja.

    “Ke depan, kami ingin simposium ini berkembang lebih luas, mencakup seluruh aspek kelautan dengan melibatkan berbagai organisasi riset lain. Dengan begitu, Indonesia bisa semakin berperan dalam peta riset dan inovasi maritim global,” ujarnya.

    Selain sesi pleno, kegiatan juga dilengkapi dengan Research–Industry Matchmaking, penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS), kompetisi poster ilmiah mahasiswa, serta peluncuran katalog riset PRTH.

    IMS-HydroST 2025 diharapkan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat riset maritim di kawasan, sekaligus mendorong hadirnya solusi inovatif menuju maritim yang hijau, aman, cerdas, dan berkelanjutan. (Red/*)

  • Nanoteknologi Tingkatkan Performa Material Energi Terbarukan dan Teknologi Informasi

    Nanoteknologi Tingkatkan Performa Material Energi Terbarukan dan Teknologi Informasi

    Mediakawasan.id, Tangerang Selatan – Nanoteknologi memainkan peran krusial dalam revolusi riset di berbagai bidang, termasuk energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan teknologi informasi. Melalui inovasi skala nano, kinerja material dapat ditingkatkan untuk berfungsi lebih efisien dan efektif.

    Untuk mendukung perkembangan nanoteknologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan menggelar International Seminar on Nanotechnology, Nanomaterials, and Devices (ISNND) 2025. Kepala Pusat Riset Sistem Nanoteknologi (PRSN) BRIN, Murni Handayani, menyatakan bahwa seminar tahunan ini bertujuan untuk menjadi wadah diskusi tentang riset terbaru di bidang nanoteknologi dan memperluas peluang kolaborasi riset lintas institusi dan negara.

    Murni menekankan pentingnya kolaborasi dalam pengembangan riset, dengan menyoroti berbagai cara yang dapat dilakukan, seperti pendanaan bersama, penulisan ilmiah kolaboratif, kunjungan peneliti, dan berbagi penggunaan instrumen pengukuran. Selain itu, PRSN BRIN akan mengadakan webinar dan seminar tahunan untuk membangun ekosistem diskusi riset yang berkelanjutan.

    Seminar ISNND 2025 akan membahas topik-topik penting, termasuk sintesis nanomaterial, material maju dan fungsional, teknologi hijau dalam nanoteknologi, dan perangkat pintar berbasis nanoteknologi. Selain itu, seminar ini juga akan mencakup pembahasan tentang rekayasa biomedis, konversi dan penyimpanan energi, nanofotonik, nanoplasmonik, serta material komputasi dan kuantum. Topik lain yang akan diangkat mencakup pengembangan polimer, penerapan machine learning dan artificial intelligence dalam nanomaterial, serta biosensor dan sensor kimia.

    Murni berharap seminar internasional ini dapat memperkuat kolaborasi riset dan inovasi antara peneliti, akademisi, dan praktisi industri.

    Acara ini akan menghadirkan tiga keynote speaker dari luar negeri: Prof. Jatuporn Wittayakun dari Suranaree University of Technology, Thailand; Prof. Hirofumi Tanaka dari Kyushu Institute of Technology, Jepang; dan Dr. Siti Salwa Binti Alias dari Universiti Teknologi Malaysia.

    Sembilan narasumber dari berbagai institusi nasional dan internasional juga akan memberikan presentasi di seminar ini, termasuk perwakilan dari Khon Kaen University, National Nanotechnology Center (NANOTEC) Thailand, Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, serta Institut Teknologi Bandung.

    Melalui acara ini, BRIN bertujuan untuk mengakselerasi perkembangan dan inovasi dalam bidang nanoteknologi agar dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dan perkembangan teknologi di Indonesia. (Red/*)

  • IYCTC Kecam Pernyataan BRIN Soal Rokok Elektronik Rendah Risiko

    IYCTC Kecam Pernyataan BRIN Soal Rokok Elektronik Rendah Risiko

    Mediakawasan.id, Jakarta – Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) mengecam pernyataan yang dilontarkan oleh perwakilan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menyebutkan bahwa rokok elektronik memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibandingkan rokok konvensional. IYCTC menilai pernyataan tersebut prematur, menyesatkan, dan berpotensi memperkuat normalisasi konsumsi rokok sejak usia dini.

    “Pernyataan seperti ini memberi ilusi keamanan pada produk yang justru sedang menjadi pintu masuk adiksi nikotin bagi orang muda. Kita tidak bisa membenarkan satu produk adiktif hanya karena dianggap sedikit ‘kurang berbahaya’ dibanding yang lain. Hal ini bukan hanya soal membandingkan dua racun, tapi soal tanggung jawab negara untuk tidak menjadi corong legitimasi industri yang membunuh generasi mudanya sendiri,” tegas Manik Marganamahendra, Ketua Umum IYCTC.

    Manik menilai bahwa membandingkan antara dua produk berbahaya seperti, rokok konvensional dan rokok elektronik, bukan pendekatan kebijakan yang bertanggung jawab. Berbagai studi telah membuktikan bahwa bahaya rokok elektronik jauh dari sekadar kandungan nikotin saja, tetapi juga kandungan zat kimia lainnya, seperti formaldehid, propylene glycol (PG), nitrosamine, zat perisa buatan (flavoring), serta kontaminan berbahaya seperti logam berat, silikat, nanopartikel, dan particulate matter (PM).

    “Narasi rendah risiko ini justru  berpotensi mengaburkan arah kebijakan publik yang seharusnya berpijak pada prinsip kehati-hatian. Apalagi jika melihat produk ini dipasarkan secara agresif, dikemas modern, dan menyasar orang muda.” lanjut Manik.

    Faktanya, sejumlah studi membuktikan bahwa rokok elektronik menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, seperti ketergantungan nikotin, gangguan fungsi pernapasan, peningkatan risiko kanker, asma, dan pneumotoraks, serta dapat menyebabkan perdarahan alveolar difus. Dampak jangka panjangnya juga mengancam fungsi otak remaja serta perkembangan janin pada ibu hamil.

    Masalah lain yang tak kalah serius adalah lemahnya standardisasi produk. Banyak rokok elektronik yang beredar tanpa regulasi ketat, sehingga kandungan dan efeknya sulit dikontrol. Kesalahpahaman publik juga sering muncul karena produk ini diklaim “tidak menghasilkan tar”, padahal komposisi kimianya jauh lebih kompleks dan tetap berbahaya.

    Lebih parahnya, rokok elektronik juga membuka celah baru bagi penyalahgunaan zat berbahaya, termasuk narkotika. Kasus aktor Jonathan Frizzy pada tahun 2025 juga menjadi bukti nyata bagaimana cairan vape dapat dimodifikasi untuk mengandung zat-zat terlarang. Hal ini memperlihatkan potensi bahaya yang jauh melampaui citra ‘aman’ yang selama ini dikonstruksi.

    “Kita tidak sedang membandingkan mana racun yang lebih ringan. Kita sedang bicara soal tanggung jawab negara untuk tidak membiarkan masyarakat menjadi objek uji coba industri adiktif,” ujar Nalsali Ginting, Pengurus Harian IYCTC. 

    Data Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2021 mencatat lonjakan tajam penggunaan rokok elektronik pada penduduk usia 15 tahun ke atas dari  0,3% (480 ribu orang) pada 2011 menjadi 3,0% (6,6 juta orang) pada tahun 2021. Lonjakan ini mencerminkan ancaman laten yang belum ditangani secara serius, terutama karena rokok elektronik kerap dipromosikan sebagai produk yang lebih aman dan modern, seperti melalui influencer, selebriti, hingga platform hiburan orang muda.

    Dalam konteks regulasi yaitu PP No. 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan, secara eksplisit telah menyetarakan regulasi antara produk rokok konvensional dan elektronik. Ini menunjukkan negara memandang kedua produk tersebut sebagai ancaman yang setara terhadap kesehatan masyarakat.

    “Lembaga negara seperti BRIN seharusnya menjadi garda terdepan dalam perlindungan masyarakat, bukan justru membuka ruang legitimasi terhadap produk yang belum teruji secara utuh. Setiap pernyataan harus berpijak pada prinsip “do not harm”, jangan sampai lembaga riset justru ikut andil dalam menciptakan krisis kesehatan baru di masa depan,” sambung Nalsali.

    IYCTC menyayangkan bahwa pernyataan BRIN tersebut tidak dibarengi dengan publikasi data yang menyeluruh atau kajian longitudinal yang terbuka untuk dikritisi secara akademik. Dalam ilmu kesehatan masyarakat, risiko tidak hanya dinilai dari kandungan bahan, tetapi juga dari prevalensi penggunaan, tren promosi, dan dampaknya terhadap sistem layanan kesehatan.

    Menurut IYCTC, narasi risiko rendah tidak seharusnya menjadi dasar pengambilan keputusan kebijakan publik, apalagi jika produk tersebut menyasar kelompok rentan. Perlindungan terhadap generasi muda membutuhkan ketegasan regulasi, bukan toleransi terhadap narasi industri yang membingkai adiksi sebagai pilihan gaya hidup. (Red/*)

  • Dorong Ekspor Pertanian, BRIN Gaungkan Pemanfaatan Iradiasi Pangan sebagai Solusi Strategis Hadapi Tantangan Global

    Dorong Ekspor Pertanian, BRIN Gaungkan Pemanfaatan Iradiasi Pangan sebagai Solusi Strategis Hadapi Tantangan Global

    Mediakawasan.id, Tangerang Selatan — Indonesia memiliki peluang emas untuk menjadi raksasa ekspor pertanian dunia. Namun, tantangan keamanan pangan dan standar fitosanitari global masih menjadi penghambat utama bagi produk-produk segar Tanah Air untuk bersaing di pasar internasional.

    Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Aplikasi Iradiasi Pangan untuk Mendukung Ekspor Produk Pertanian Indonesia”, yang berlangsung di Auditorium Gedung 720, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong (29/7).

    FGD ini menjadi forum penting untuk mengangkat kembali urgensi pemanfaatan teknologi iradiasi pangan—sebuah metode mutakhir yang mampu membunuh patogen, memperpanjang masa simpan, serta memenuhi standar keamanan pangan global. Sayangnya, pemanfaatan teknologi ini di Indonesia masih belum optimal karena keterbatasan infrastruktur, regulasi, dan pemahaman publik.

    Kolaborasi Lintas Sektor Hadirkan Solusi Nyata

    Kegiatan ini menghadirkan para pemangku kepentingan dari berbagai sektor. Dua tokoh utama hadir sebagai keynote speaker, yakni Dr. Ir. Dadan Hindayana (Kepala Badan Gizi Nasional) yang menyoroti potensi iradiasi dalam mendukung ketahanan gizi nasional, dan Tri Mumpuni (anggota Dewan Pengarah), yang menekankan pentingnya iradiasi dalam menjaga kualitas ekspor dan menjamin keamanan pangan.

    Diskusi semakin menguat dengan kehadiran delapan narasumber kunci, termasuk pakar internasional Dr. Andrew Jessup dari Australia yang mengupas potensi pasar global produk segar teriradiasi. Dari dalam negeri, hadir pula Dra. Dwiana Andayani dari BPOM, Dr. Antarjo Dikin dari Badan Karantina Indonesia, serta Dr. Syaiful Bakhri (Kepala ORTN BRIN) yang menyoroti peran riset dalam pengembangan akselerator iradiasi.

    Pemaparan juga diberikan oleh perwakilan industri seperti PT Teramed Indonesia, PT BKI, dan PT Oneject, yang menunjukkan kesiapan fasilitas iradiator dalam negeri. Dari sisi regulasi, BAPETEN menjelaskan proses perizinan teknologi iradiasi, sedangkan BAPANAS menyampaikan kontribusi iradiasi terhadap keamanan dan mutu pangan nasional.

    Menuju Ekosistem Iradiasi Pangan yang Tangguh

    Melalui forum ini, diharapkan muncul terobosan konkret untuk mempercepat adopsi iradiasi pangan di Indonesia. Beberapa hasil yang ditargetkan mencakup:

    • Penyusunan peta jalan pengembangan infrastruktur iradiasi nasional
    • Harmonisasi regulasi dan pengawasan teknologi iradiasi
    • Peningkatan literasi pelaku usaha dan masyarakat
    • Pembentukan jejaring kolaborasi antar lembaga riset, industri, dan regulator
    • Komitmen kerja sama lintas sektor untuk akselerasi implementasi teknologi iradiasi

    Dengan langkah nyata ini, Indonesia optimistis dapat meningkatkan daya saing produk pertanian di pasar global, sekaligus menjaga kualitas dan keamanan pangan dalam negeri. Teknologi iradiasi bukan hanya alat, tetapi strategi masa depan untuk pertanian Indonesia yang tangguh dan berkelanjutan. (Red/*)

  • BRIN dan Kementerian Pertahanan Gelar Temu Bisnis Industri Strategis Pertahanan Berbasis Riset dan Inovasi

    BRIN dan Kementerian Pertahanan Gelar Temu Bisnis Industri Strategis Pertahanan Berbasis Riset dan Inovasi

    Mediakawasan.id, Tangerang – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia menggelar Temu Bisnis Industri Strategis Pertahanan Berbasis Riset dan Inovasi, di Graha Widya Bhakti, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan. Acara ini menjadi platform kolaboratif untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam mempercepat pengembangan teknologi strategis pertahanan melalui pendekatan berbasis riset dan inovasi.

    Acara yang mengusung tagline “Towards Indonesia 2045: Advancing Strategic Defence Technology by Research and Innovation” diikuti oleh perwakilan dari industri strategis nasional, perwakilan negara sahabat, akademisi, serta pelaku usaha swasta yang memiliki peran dalam penguatan sistem pertahanan nasional.

    Direktur Penguatan dan Kemitraan Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN, Joannes Ekaprasetya Tandjung, menjelaskan pentingnya membangun ekosistem riset yang mendukung kebutuhan sektor pertahanan. “Temu bisnis ini bukan hanya menjadi ajang silaturahmi strategis, tetapi juga ruang konkret untuk menjalin kemitraan teknologi antara lembaga riset, dunia industri, dan pemerintah,” ujarnya.

    Rangkaian acara meliputi penandatanganan nota kesepahaman (MoU), diskusi panel tematik, business matchmaking, hingga sesi talkshow yang menghadirkan narasumber dari Kementerian Pertahanan, pusat riset BRIN, perwakilan industri strategis, serta perwakilan duta besar dan atase pertahanan negara-negara sahabat seperti China, Rusia, dan Amerika Serikat.

    Selain itu, kegiatan temu bisnis juga dimeriahkan dengan pameran teknologi pertahanan yang menampilkan berbagai inovasi dan hasil riset unggulan di sektor strategis, seperti kecerdasan artifisial, sistem sensor, sistem pertahanan nirawak, serta teknologi komunikasi militer. “Ajang ini juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan solusi inovatif hasil riset anak bangsa kepada mitra industri maupun investor,” lanjut Joannes.

    Dijelaskan Joannes, salah satu agenda penting dalam acara ini adalah sesi business matchmaking yang memberikan ruang bagi peserta untuk menjajaki potensi kolaborasi dan pengembangan proyek bersama. BRIN berharap forum ini dapat mendorong terbentuknya kesepakatan bisnis, alih teknologi, serta penguatan jejaring internasional dalam sektor pertahanan.

    “Temu Bisnis ini menjadi upaya strategis dalam mendukung agenda pembangunan nasional berbasis teknologi, serta menjawab tantangan geopolitik global melalui penguatan industri pertahanan dalam negeri,” imbuhnya.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari tindak lanjut perjanjian kerja sama antara BRIN dan Kementerian Pertahanan yang telah diteken sejak 2022, sebagai bentuk konkret integrasi riset dan inovasi dalam mendukung sistem pertahanan nasional yang adaptif dan tangguh menuju Visi Indonesia Emas 2045. (Red/*)

  • BRIN dan KITECH Tandatangani Kerjasama Penelitian

    BRIN dan KITECH Tandatangani Kerjasama Penelitian

    Mediakawasan.id, Tangerang Selatan – Bertujuan untuk mempromosikan kegiatan ilmiah melalui penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bersifat kolaboratif, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia melakukan kerjasama dengan Korea Institute of Industrial Technology (KITECH). penanda tanganan nota kesempahaman antara KITECH dan BRIN digelar di Gedung 720 Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, pada Selasa, 26 November 2024.

    Terkait kerjasama tersebut, Tata Sutardi, Kepala Pusat Riset Konversi dan Konservasi Energi BRIN menjelaskan, “KITECH merupakan lembaga penelitian Pemerintah Republic of South Korea, telah mengembangkan inovasi pada bidang energi dan manufaktur, yang saat inipun sedang dikembangkan di Indonesia. Tentunya ini akan menjadi sumber inspirasi bagi peneliti BRIN agar bisa mengadopsi inovasi yang telah dilakukan KITECH khususnya dalam bidang energi dan manufaktur.”

    Sementara itu, Changyeop Lee, Executive Managing Director KITECH mengatakan bahwa Indonesia memiliki banyak sumber daya yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan energi dan manufaktur. “Ini adalah sebuah potensi yang harus dimanfaatkan,” ujar Lee.

    Adapun ruang lingkup kerjasama antara BRIN dan KITECH, diantaranya adalah: Penelitian tentang karbon netral dan penurunan emisi. Penelitian tentang biofuel dan bioenergy. Penelitian tentang Photovoltaic (PV), hydro, dan energi angin. Penelitian tentang sistem kelistrikan, microgrid, dan charging station. Penelitian tentang produksi minyak bumi dan gas non konvensional. Penelitian tentang industri manufaktur berbasis kandungan lokal. Dan kerjasama penelitian lain yang saling menguntungkan kedua belah pihak.

    “Kerja sama ini diharapkan mampu untuk mendukung Co-Development yang sedang banyak dikembangkan oleh OREM (OrganiSasi Riset Energi dan Manufaktur), BRIN. Co-Development ini merupakan kegiatan riset Bersama yang dapat saling menguntungkan dan berfokus untuk menghasilkan produk unggulan Bersama untuk dimanfaatkan secara lebih luas. Melalu Co-Development ini, percepatan mencapai produk hasil riset yang unggul akan lebih cepat dan mudah dicapai,” papar Tata Sutardi.

    Bersamaan dengan penandatanganan tersebut juga diselenggarakan kegiatan Seminar, sebagai media pengenalan dan promosi kegiatan riset yang sedang dilakukan. Seminar membahas Carbon Neutrality dan Emission Reduction, Catalyst regeneration and development, dan pengembangan biomassa dan Biofuel. (red/*)