Tag: BRIN

  • Relasi Akademisi dengan Industri Tembakau Menguat: Sinyal Integritas Perguruan Tinggi ”Gawat Darurat”

    Relasi Akademisi dengan Industri Tembakau Menguat: Sinyal Integritas Perguruan Tinggi ”Gawat Darurat”

    Mediakawasan.id, Surabaya – Hasil pemantauan Lentera Anak tentang gangguan industri tembakau (GIT) selama periode September 2025 – Mei 2026 menunjukkan adanya keterlibatan sejumlah akademisi dan peneliti dalam kerja sama riset dengan industri. Situasi ini berpotensi memunculkan konflik kepentingan.

    Lentera Anak adalah lembaga independen, merupakan bagian dari Koalisi Save Our Surroundings (SOS). Ini suatu gerakan yang beranggotakan lebih dari 50 organisasi dari berbagai latar belakang yang berkomitmen menciptakan masyarakat dan lingkungan sehat.

    Pemantauan Lentera Anak juga menemukan akademisi menyampaikan narasi pro-industri dengan pendekatan ekonomi, hukum, dan harm reduction di sejumlah seminar dan forum ilmiah. Mereka terindikasi berupaya mempengaruhi arah regulasi pengendalian tembakau.

    Narasi ini mengemuka dalam diskusi bertajuk “Kampus di Persimpangan: Merebut Kembali Integritas Perguruan Tinggi” di Indonesian Conference on Tobacco Control (ICTOH 2026). Kegiatan ini berlangsung di Airlangga Shari’a and Entreprenurship Education Center (ASEEC) Tower di Kampus Dharmawangsa Universitas Airlangga Surabaya, Jumat, 22 Mei 2026.

    Ketua Lentera Anak, Lisda Sundari, pembicara dalam diskusi itu, menyatakan situasi ini sangat ironis. Sebab, kampus sejatinya harus menjaga independensi sebagai penghasil pengetahuan yang objektif, dan pijakan kebijakan publik yang berpihak pada kepentingan masyarakat.

    “Kami meminta perguruan tinggi untuk melindungi integritas akademik, guna memastikan agar produksi pengetahuan ilmiah dan rekomendasi kebijakan berdasarkan bukti objektif,” kata Lisda.

    Ia menjelaskan dari hasil pemantauan ditemukan sebanyak 18 universitas, 13 lembaga riset dan 50 akademisi/peneliti menyampaikan narasi melalui media massa, dengan mengedepankan narasi ekonomi. Narasi ekonomi yang dimunculkan, seperti tenaga kerja dan UMKM, telah menggeser isu kesehatan publik menjadi isu ekonomi.

    Lisda juga menemukan bahasa yang mereka gunakan sangat moderat. Misalnya, keseimbangan, pengurangan risiko, dan inovasi. Ini menjadikannya lebih mudah diterima dalam ruang kebijakan.

    Ia mencontohkan narasi yang digunakan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bahwa rokok elektronik adalah bentuk inovasi produk tembakau yang mengikuti tren global, untuk mengurangi paparan bahan berisiko akibat proses pembakaran.

    “Penyampaian narasi dari peneliti dan akademisi ini tidak hanya menormalisasi narasi industri. Tapi, juga bisa membentuk opini publik dan mempengaruhi framing regulasi kesehatan,” ucap Lisda.

    Senada dengan Lisda, Ketua Ruang Kebijakan Kesehatan Indonesia (RUKKI), Mouhamad Bigwanto, mengingatkan agar akademisi dan profesional kesehatan mewaspadai berbagai pola konflik kepentingan yang bisa menyusup lewat penelitian, konferensi, hingga berbagai bentuk publikasi.

    Menurut Bigwanto, industri tembakau umumnya melakukan empat strategi berlapis. Mereka memulai dari menolak bukti ilmiah, lalu membuat narasi palsu untuk membingungkan publik dan pembuat kebijakan.

    Selanjutnya, kata dia, industri tembakau membentuk aliansi atau front group yang terlihat netral dari kalangan akademisi atau lembaga riset. Yang paling ujung, mereka menggunakan kekuatan politik, misalnya lembaga riset negara, untuk memengaruhi kebijakan.

    Bigwanto menyarankan akademisi dan peneliti harus berhati-hati. Sebab, industri tembakau kerap menggunakan legitimasi akademik untuk memperkuat narasi yang menguntungkan mereka walaupun bertentangan dengan bukti kesehatan masyarakat.

    “Fakta menunjukkan bahwa kerja sama akademisi dengan industri rokok mendorong praktik yang menyimpang dari standar etika, seperti penyembunyian hasil yang tidak menguntungkan,” tutur dia.

    Ia menjelaskan hasil kajian RUKKI periode 2023-2024 yang menemukan setidaknya 19 peneliti terpantau membela industri tembakau dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Kesehatan dan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Kesehatan.

    Bigwanto menyebut beberapa di antaranya diduga pernah memiliki riwayat kerja sama dengan organisasi pendukung industri rokok. Menurut dia, institusi pendidikan di berbagai negara sudah memperkuat kebijakan untuk melindungi integritas akademik, antara lain melalui penerapan kode etik penelitian, transparansi sumber pendanaan, dan kebijakan Smoke-Free Campus.

    “Ini tidak hanya mengatur lingkungan bebas asap rokok tetapi juga memperkuat komitmen institusi terhadap perlindungan kesehatan masyarakat,” kata dia.

    Sementara itu, Sekretaris Jenderal Transparency International Indonesia, Danang Widoyoko, menekankan integritas kampus merupakan bagian tak terpisahkan dari prinsip good governance. Konflik kepentingan, kata dia, tidak selalu melanggar hukum, tetapi merusak kualitas pengambilan keputusan.

    “Dalam konteks kampus, dampak kerusakan lebih serius karena menyangkut produksi pengetahuan yang memengaruhi kebijakan publik,” ujarnya.

    Menurut Danang, relasi kampus dan industri berpotensi menggeser orientasi penelitian dari kepentingan kesehatan masyarakat menuju pembenaran ekonomi industri. Hasil riset yang didanai besar oleh industri tembakau, kata dia, bisa memberikan legitimasi ilmiah untuk mengevaluasi dan menolak kebijakan kesehatan. Sehingga ilmu dan dunia akademik tergerus fungsinya dalam kepentingan publik.

    “Karena itu, saya mengajak akademisi, mahasiswa, dan pemangku kepentingan untuk bersama-sama merebut kembali ruang akademik sebagai ruang yang independen, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan publik,” pungkas Danang. (Red/rlls)

  • Perkuat Diplomasi Sains Indonesia–Jepang, BRIN Hadirkan Peraih Nobel Kimia 2025 Prof. Susumu Kitagawa

    Perkuat Diplomasi Sains Indonesia–Jepang, BRIN Hadirkan Peraih Nobel Kimia 2025 Prof. Susumu Kitagawa

    Mediakawasan.id, Tangerang Selatan – Prof. Susumu Kitagawa merupakan ilmuwan terkemuka dunia dari Kyoto University, Jepang, yang dikenal sebagai perintis pengembangan porous coordination polymers (PCPs) atau metal–organic frameworks (MOFs). Material berpori ini memiliki luas permukaan sangat tinggi dan struktur yang dapat dirancang secara presisi pada tingkat molekuler, sehingga berpotensi diaplikasikan secara luas di bidang energi, lingkungan, katalisis, pemisahan gas, hingga kesehatan. Atas kontribusi ilmiahnya yang fundamental dalam pengembangan MOFs, Prof. Kitagawa dianugerahi hadiah Nobel Kimia Tahun 2025.

    Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan kehadiran Prof. Kitagawa di Indonesia merupakan momentum strategis dalam memperkuat hubungan kerja sama ilmiah antara Indonesia dan Jepang. “Diplomasi sains dinilai menjadi instrumen penting untuk mendorong alih pengetahuan, meningkatkan kapasitas riset nasional, serta mempercepat pembangunan ekosistem riset dan inovasi material maju yang berdaya saing global,” kata Arif.

    Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN, Ratno Nuryadi, menyampaikan kedatangan peraih Nobel Kimia ke Indonesia menjadi kesempatan penting untuk menginspirasi periset dan mahasiswa serta memperluas jejaring kolaborasi internasional. “Kunjungan ini juga turut membangun budaya scientific excellence dan memperkuat ekosistem riset menuju lahirnya periset Indonesia berkelas Nobel di masa depan,” tegasnya.

    Sementara itu, Kepala Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN, Joddy Arya Laksmono, menekankan The Usefulness of Useless: Fundamental Curiosity, Enduring Impact menjadi benang merah Kuliah Umum Internasional yang disampaikan oleh Peraih Nobel 2025 Bidang Kimia Prof. Susumu Kitagawa. Melalui pengalamannya dalam riset fundamental material berpori, Prof. Kitagawa menunjukkan bagaimana rasa ingin tahu ilmiah yang mendasar—yang pada awalnya tidak ditujukan untuk aplikasi praktis—telah membangun fondasi pengetahuan yang kini berkontribusi nyata pada pengembangan teknologi strategis, termasuk di bidang energi dan material maju.

    “Kuliah Umum Internasional ini menegaskan pentingnya riset dasar sebagai investasi jangka panjang bagi penguatan ekosistem riset dan inovasi nasional,” ujar Joddy.

    Kunjungan Prof. Kitagawa juga akan dimanfaatkan untuk inisiasi pembentukan Asosiasi MOF Indonesia sebagai wadah kolaboratif antara BRIN, perguruan tinggi, dan industri dalam pengembangan riset MOFs secara terkoordinasi dan berkelanjutan. Selain itu, akan dilakukan penjajakan pembentukan Sister Laboratory (SISTER LAB) serta penguatan kerja sama riset internasional, termasuk dengan institusi riset dan universitas di Jepang.

    Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, Prof. Kitagawa dijadwalkan melakukan kunjungan ke fasilitas laboratorium riset BRIN di KST B.J. Habibie, Serpong. Kunjungan ini diharapkan dapat memperkenalkan kapabilitas dan infrastruktur riset nasional sekaligus membuka peluang kolaborasi riset material berpori berbasis sumber daya alam dan biodiversitas Indonesia.

    Melalui penyelenggaraan kuliah umum internasional ini, BRIN menegaskan komitmennya dalam memperkuat diplomasi sains Indonesia–Jepang, meningkatkan kualitas sumber daya manusia riset, serta mendorong kolaborasi global untuk menghasilkan inovasi material maju yang berdampak bagi pembangunan nasional. (Red/*)

  • ICSEEA 2026 Perkuat Ketahanan Sistem Transportasi dan Energi, Transisi Energi Bersih, dan Manufaktur Hijau

    ICSEEA 2026 Perkuat Ketahanan Sistem Transportasi dan Energi, Transisi Energi Bersih, dan Manufaktur Hijau

    Mediakawasan.id, Tangerang Selatan – ICSEEA merupakan agenda konferensi tahunan Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN yang menjadi forum strategis untuk mempertemukan peneliti, akademisi, industri, pemangku kebijakan, serta pemangku kepentingan dalam membahas dan mempercepat pengembangan inovasi berkelanjutan.

    Tahun ini, ICSEEA 2026 mengusung tema utama “Resilient Transportation and Clean Energy: Shaping the Future of Sustainable Systems”, dengan fokus pembahasan melalui tiga subtema, yakni: Resilient Transportation, Clean Energy, dan Green Manufacturing.

    Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan forum ilmiah seperti ICSEEA 2026 berperan strategis memperkuat kolaborasi riset–industri-pemangku kebijakan dan mempercepat hilirisasi inovasi. Ia mendorong agar diskusi ilmiah yang berlangsung tidak berhenti pada publikasi, tetapi diarahkan pada pembentukan agenda riset bersama, pengembangan prototipe, uji coba, hingga implementasi di lapangan, agar dampaknya dapat dirasakan oleh rakyat Indonesia.

    “Sinergi lintas sektor menjadi kunci mewujudkan sistem transportasi, energi, dan manufaktur yang lebih tangguh, efisien, dan rendah emisi,” kata Arif.

    Kepala OREM BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar, menegaskan ICSEEA 2026 tidak hanya menjadi ruang diseminasi ilmiah, tetapi juga sarana membangun kolaborasi lintas sektor agar riset semakin berdampak. “Sebagai konferensi tahunan OREM BRIN, ICSEEA 2026 kami posisikan untuk memperkuat sinergi riset–industri-pemangku kebijakan. Harapannya, gagasan dan temuan ilmiah yang dibahas dapat ditransformasikan menjadi solusi aplikatif yang mendukung ketahanan sistem dan transisi menuju energi bersih,” ujar Cuk Supriyadi.

    Kepala Pusat Riset Teknologi Transportasi BRIN, Aam Muharam menjelaskan penguatan ketahanan transportasi memerlukan pendekatan lintas disiplin—mulai dari teknologi kendaraan dan sistem propulsi, efisiensi energi, elektrifikasi, keselamatan, serta keamanan hingga integrasi kebijakan dan infrastruktur pendukung. “Melalui subtema Resilient Transportation, ICSEEA 2026 mendorong pertukaran pengetahuan dan kolaborasi riset yang lebih terarah untuk menghasilkan solusi transportasi yang adaptif, aman, dan rendah emisi, sekaligus relevan dengan kebutuhan nasional maupun dinamika global,” kata Aam.

    Ketua Panitia ICSEEA 2026, Ludfi Pratiwi Bowo menyampaikan konferensi ini dirancang dengan format yang komprehensif, mencakup sesi pleno, paralel dan booth sponsor, serta mendorong interaksi langsung antara peneliti, pelaku industri dan juga pemangku kebijakan. “ICSEEA 2026 akan menghadirkan sesi pembukaan resmi, rangkaian sesi keynote, paparan/diskusi industri, serta presentasi paralel luring dan daring. Kami juga menyediakan ruang jejaring melalui kegiatan pendukung seperti gala dinner dan kunjungan booth sponsor untuk memperkuat peluang kolaborasi,” kata Ludfi.

    Melalui konferensi ini, BRIN menargetkan tercapainya sejumlah tujuan utama. Pertama, memperkuat jejaring kolaborasi riset–industri–akademisi. Kedua, mendorong pertukaran pengetahuan dan pembentukan agenda riset bersama pada isu transportasi tangguh, energi bersih, dan manufaktur hijau. Serta ketiga, membuka peluang kerja sama riset terapan dan hilirisasi inovasi yang dapat dimanfaatkan oleh industri dan masyarakat.

    Sesi pembukaan dan pleno pada 3 Februari 2026 akan dibuka secara resmi oleh Kepala BRIN, Arif Satria. Dilanjutkan rangkaian sesi keynote, paparan dan diskusi industri, serta presentasi paralel. Serta sesi keynote lanjutan, presentasi paralel, dan penutupan pada 4 Februari 2026 yang akan ditutup oleh Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian. Pada sesi penutupan, panitia juga akan mengumumkan apresiasi untuk Best Paper dan Best Presenter.

    ICSEEA 2026 direncanakan menghadirkan 4 sesi pidato kunci dengan lebih dari 10 pembicara. Selain dari dalam negeri, konferensi ini juga menghadirkan pembicara dari Belgia, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, dan Taiwan yang memiliki keahlian pada sektor transportasi, energi, dan manufaktur yang berasal dari perguruan tinggi, dan lembaga riset.

    Sejumlah narasumber dari institusi nasional dan internasional telah dijadwalkan untuk mengisi sesi-sesi tersebut, disertai sesi tanya jawab. Turut hadir pembicara dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian Perhubungan sebagai pemangku kebijakan dan regulator.

    Selain itu, konferensi juga menampilkan Industrial Talk sebagai ruang dialog strategis antara pelaku industri, regulator, dan peneliti. Industrial Talk dirancang untuk memetakan kebutuhan teknologi dan tantangan implementasi di lapangan, sekaligus membuka peluang kolaborasi riset terapan, uji coba teknologi, dan hilirisasi inovasi. Melalui sesi ini, peserta dapat memperoleh gambaran langsung mengenai isu prioritas industri, perkembangan praktik terbaik (best practices), serta peluang adopsi teknologi untuk meningkatkan efisiensi, keselamatan, dan capaian dekarbonisasi. (Red/rlls)

  • BRIN Dorong Sampah Jadi Sumber Energi dan Pupuk, Solusi Berbasis Riset untuk Tangsel

    BRIN Dorong Sampah Jadi Sumber Energi dan Pupuk, Solusi Berbasis Riset untuk Tangsel

    Mediakawasan.id, Tangerang Selatan – Persoalan sampah yang kian menggunung di sejumlah daerah, termasuk Tangerang Selatan, dinilai tidak dapat diselesaikan hanya dengan perluasan tempat pembuangan akhir. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai pendekatan berbasis teknologi dan ekonomi sirkular menjadi kunci utama dalam mengubah sampah dari masalah menjadi sumber daya.

    Hal tersebut disampaikan Dr. Ir. Hens Saputra, M.Eng., Kepala Pusat Riset Teknologi Proses BRIN, saat menghadiri Energy Week 2025 yang diselenggarakan BRIN di Serpong, Kamis (18/12/2025).

    Menurut Hens, BRIN telah mengembangkan berbagai teknologi yang memungkinkan sampah dimanfaatkan kembali, baik sebagai sumber energi, bahan bakar alternatif, maupun produk pertanian bernilai ekonomi.

    “Jika dikelola dengan benar, sampah justru memiliki nilai. Sampah organik bisa menjadi energi dan pupuk, sementara sampah plastik dapat diolah kembali menjadi bahan baku industri,” ujarnya.

    BRIN melalui sejumlah pusat riset telah mengembangkan teknologi konversi sampah menjadi energi, mulai dari biogas, biometana, Bio-CNG hingga biohidrogen. Teknologi ini telah mencapai tahap pilot plant, dengan kapasitas produksi yang cukup untuk diterapkan di tingkat kawasan maupun kota.

    Selain itu, teknologi gasifikasi dan insinerasi dengan dukungan turbine Organic Rankine Cycle (ORC) memungkinkan panas dari pembakaran sampah dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik tanpa memerlukan tekanan dan temperatur tinggi seperti pembangkit konvensional.

    “Energi yang dihasilkan minimal dapat digunakan untuk operasional pengolahan sampah itu sendiri, sehingga sistemnya lebih mandiri,” jelasnya.

    Dalam konsep ekonomi sirkular, BRIN juga memanfaatkan residu sampah organik menjadi pupuk lepas terkendali (slow release fertilizer). Penggunaan pupuk ini terbukti mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menekan penggunaan pupuk kimia hingga setengahnya.

    “Hasil uji lapangan menunjukkan panen padi meningkat hingga 10 persen, bahkan mencapai 12 ton per hektare di beberapa lokasi uji di Tangerang,” ungkap Hens.

    Sementara itu, sampah plastik yang selama ini sulit ditangani justru menjadi komoditas bernilai tinggi. BRIN bekerja sama dengan pelaku industri daur ulang yang mampu mengolah berbagai jenis plastik menjadi resin yang siap digunakan kembali oleh industri manufaktur.

    Hens menegaskan, keberhasilan penerapan teknologi ini sangat bergantung pada pemilahan sampah dari sumbernya. Tanpa pemilahan, proses pengolahan menjadi tidak efisien dan berisiko menimbulkan polusi.

    “Teknologinya ada, pasarnya juga ada. Tantangannya tinggal bagaimana membangun kesadaran dan sistem pemilahan yang konsisten dari masyarakat hingga pemerintah daerah,” katanya.

    BRIN menyatakan siap berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Tangerang Selatan untuk menerapkan solusi berbasis riset tersebut secara bertahap. Dengan pendekatan ini, penumpukan sampah di TPA diharapkan dapat dikurangi secara signifikan sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru bagi daerah. (Red/*)

  • BRIN Dorong Inovasi Teknologi Hijau di Bidang Metalurgi dan Material untuk Masa Depan Berkelanjutan

    BRIN Dorong Inovasi Teknologi Hijau di Bidang Metalurgi dan Material untuk Masa Depan Berkelanjutan

    Mediakawasan.id, Serpong – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Metalurgi, Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) menyelenggarakan Seminar Internasional Metalurgi dan Material (ISMM) 2025, yang tahun ini mengusung tema “Green Technology Innovation in Material, Metallurgy and Energy for Sustainable Future.” Kegiatan ini merupakan penyelenggaraan ISMM yang ke-6, berlangsung hingga 6 November 2025. Hadir membuka acara, Rabu, (5/11), Kepala BRIN, Dr. Laksana Tri Handoko, dan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi, M. Fauzan Adziman Ph.D.

    Ditemui di sela acara, Kepala Pusat Riset Metalurgi BRIN, Dr. Ika Kartika, menjelaskan bahwa ISMM 2025 tidak hanya menjadi ajang berbagi hasil riset terkini, tetapi juga sarana menjalin kolaborasi internasional.

    “Kami berharap melalui seminar ini dapat terjalin kolaborasi yang lebih luas dengan mitra universitas dan industri, baik dalam maupun luar negeri, untuk memperkuat riset dan inovasi di bidang metalurgi dan material,” ujarnya.

    Tahun ini, ISMM diselenggarakan bersamaan dengan workshop ISIS Muon Neutron, yang menghadirkan peneliti dari berbagai negara seperti Inggris, Malaysia, dan India. Fokus utama seminar meliputi riset material biokompatibel, material energi, hingga aplikasi material berkelanjutan lainnya.

    Lebih lanjut, Dr. Ika mengungkapkan sejumlah capaian riset unggulan dari Pusat Riset Metalurgi BRIN. Salah satunya adalah pengembangan bahan baku baterai litium yang berasal dari pengolahan nikel dan ekstraksi litium dari air laut (brine water).

    “Kami telah menemukan potensi litium di beberapa wilayah Indonesia, meskipun kadarnya kecil. Saat ini kami terus memetakan area yang berpotensi untuk dikembangkan,” jelasnya.

    Selain itu, tim riset juga berhasil menghasilkan pasir silika dengan kemurnian 99,99 persen, serta mengembangkan paduan logam untuk alat kesehatan, termasuk implant panggul (total hip arthroplasty) yang telah diuji di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan disesuaikan dengan antropometri tulang manusia Indonesia.

    Tak hanya itu, kelompok riset korosi dan mitigasi juga telah menciptakan cat anti-fouling berbasis logam tanah jarang (cerium) yang ramah lingkungan untuk aplikasi maritim, sementara tim riset baja dan logam spesial mengembangkan baja laterit hasil olahan nikel laterit untuk kebutuhan transportasi dan energi.

    “Kami juga sudah memperoleh lisensi untuk alat ukur clip aneurisma — implan pembuluh darah otak yang berfungsi mencegah stroke — hasil riset anak bangsa,” tambah Dr. Ika.

    Dari sisi kerja sama internasional, BRIN telah menandatangani MoU dengan Swinburne University of Technology, Australia, untuk riset bersama terkait pengolahan mineral kritis bahan baku baterai serta pengembangan program degree by research bagi peneliti master dan doktoral.

    Sementara itu, Prof. Dr. Ratno Nuryadi, M.Eng, Kepala OR Nanoteknologi dan Material BRIN, menegaskan bahwa riset material dan metalurgi berperan penting dalam mendukung pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dan target net zero emission.

    “Kami memiliki 11 pusat riset yang fokus pada pengembangan material, mulai dari biomaterial, komposit, energi, katalisis, hingga polimer dan nanoteknologi. Semua diarahkan untuk mendukung transisi energi dan teknologi hijau,” ujarnya.

    Prof. Ratno menambahkan bahwa arah riset BRIN kini menitikberatkan pada pengurangan ketergantungan energi fosil, pengembangan baterai, hidrogen, dan teknologi penyimpanan energi, serta pemanfaatan material lokal yang ramah lingkungan.

    “Kami ingin riset tidak hanya menghasilkan inovasi, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan. Misalnya, riset plastik biodegradable di Pusat Riset Teknologi Polimer yang mudah terurai dan tidak mencemari bumi,” jelasnya.

    Melalui ISMM 2025, BRIN menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem riset dan inovasi nasional berbasis teknologi hijau — mendorong Indonesia menuju masa depan industri material dan energi yang berdaya saing dan berkelanjutan. (Red/*)

  • Badan Riset dan Inovasi Nasional Alihkan Akses Jalan di KST B.J. Habibie untuk Perkuat Keamanan Obyek Vital Nasional

    Badan Riset dan Inovasi Nasional Alihkan Akses Jalan di KST B.J. Habibie untuk Perkuat Keamanan Obyek Vital Nasional

    Mediakawasan.id, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa pihaknya tidak menutup jalan akses di Kawasan Obyek Vital Nasional (Obvitnas) Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, melainkan mengalihkan akses ke jalan baru yang telah dibangun. Pengalihan ini bertujuan memperkuat keamanan, keselamatan, serta kelancaran operasional fasilitas teknologi dan nuklir di kawasan tersebut.

    Langkah ini merupakan tindak lanjut dari penetapan KST B.J. Habibie sebagai Obvitnas sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 63 Tahun 2004 dan Keputusan Kepala BRIN Nomor 191/I/HK/2024. Dengan status tersebut, kawasan ini membutuhkan tingkat pengamanan tinggi karena di dalamnya terdapat fasilitas nuklir, area pengembangan roket dan propelan, serta laboratorium berstandar internasional.

    Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menjelaskan bahwa pengalihan akses jalan dilakukan untuk meminimalkan potensi risiko terhadap fasilitas vital negara. “Pengalihan ini sangat penting untuk memastikan integrasi kawasan dan mencegah risiko akses ilegal yang dapat membahayakan fasilitas vital negara. Jalan lingkar luar telah kami siapkan sebagai jalur alternatif yang memenuhi standar jalan tingkat provinsi,” jelasnya.

    BRIN juga telah memfasilitasi berbagai kebutuhan masyarakat terkait pembangunan jalan lingkar luar. “Kami memahami kekhawatiran warga, terutama pelaku usaha kecil di sekitar kawasan. Oleh karena itu, BRIN membuka peluang kemitraan agar dampak ekonomi bisa diminimalkan,” tambah Handoko.

    Selain itu, BRIN berkoordinasi erat dengan pemerintah daerah, termasuk Pemerintah Kota Tangerang Selatan dan Pemerintah Kabupaten Bogor, untuk pemeliharaan jalan lingkar luar, pemasangan marka jalan, lampu penerangan jalan umum, serta rambu peringatan. Upaya ini dilakukan agar masyarakat merasa aman dan nyaman menggunakan akses baru.

    Meski demikian, hingga Selasa (14/10), pengalihan akses jalan belum diberlakukan. BRIN masih mengedepankan koordinasi dengan semua pihak, termasuk Pemerintah Provinsi Banten, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta pihak kepolisian. “Bersama, kami akan mengatur tata lalu lintas agar tidak merugikan warga, khususnya yang berada di area Muncul, Serpong,” lanjut Handoko.

    Menurutnya, pengalihan akses jalan ini juga merupakan bagian dari strategi jangka panjang BRIN untuk mengantisipasi pengembangan fasilitas nuklir di masa mendatang. Mulai 2026, BRIN berencana membangun reaktor baru dan fasilitas siklotron yang akan meningkatkan aktivitas dan tingkat risiko di kawasan tersebut.

    Dengan langkah ini, BRIN berharap KST B.J. Habibie dapat beroperasi secara optimal sebagai pusat riset nasional yang aman, tertata, dan mendukung pencapaian Indonesia sebagai negara berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Sosialisasi kepada masyarakat akan terus dilakukan secara bertahap dari tingkat kota hingga kelurahan untuk memastikan pemahaman merata dan dukungan dari seluruh pihak terkait. (Red/*)

  • Benyamin Bersama Warga Tangsel Tolak Penutupan Akses Jalan Serpong-Parung oleh BRIN

    Benyamin Bersama Warga Tangsel Tolak Penutupan Akses Jalan Serpong-Parung oleh BRIN

    Mediakawasan.id, Serpong – Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Benyamin Davnie dengan tegas mendukung warganya. Dia mendukung penolakan penutupan akses Jalan Serpong – Parung yang melintasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

    Pagi ini dengan membawa poster puluhan masyarakat di Muncul, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan mengadakan unjuk rasa damai. Mereka menolak adanya rencana penutupan akses jalan.

    Benyamin pun hadir dan memberi ketenangan pada masyarakat, pada Senin (13/10/2025). Dirinya juga terlihat duduk bareng warganya.

    “Memang warga meminta saya untuk bertemu, beraudiensi dan bersilaturahmi dan hari ini kita laksanakan,” kata Benyamin.

    Apalagi, kata dia, akses jalan penghubung antar kota dan kabupaten ini sudah memiliki historikal panjang.

    “Secara historis kecil saya di Tangerang, waktu mau mancing saya ke Gunung Sindur jalan ini sudah ada. Bahkan waktu saya masih kecil jalan ini sudah digunakan masyarakat,” tegasnya.

    Benyamin memastikan secara hukum akses jalan masyarakat ini juga telah memiliki alas hak yang legal.

    “Dan jelas secara hukum juga sertifikat hak pakai milik Provinsi Banten dan yang kesananya milik Provinsi Jabar. Jadi bukan milik siapa siapa ini milik Provinsi Banten,” ujarnya.

    Pemkot Tangsel juga dengan tegas menolak adanya wacana penutupan jalan tersebut.

    “Dengan demikian jalan ini milik masyarakat sehingga kami juga menolak penutupan jalan raya ini. Secara administrasi saya juga sudah berkirim surat ke BRIN, Saya juga sudah bersurat ke Provinsi Banten bapak Gubernur dan saya juga sudah secara langsung ke bapak Gubernur dan beliau juga menolak dan tidak menghendaki penutupan,” kata dia.

    Meski demikian Benyamin menambahkan jika terdapat salah satu pihak yang mengklaim lahan tersebut hal itu bukanlah masalah.

    “Kalau pihak BRIN merasa memiliki aset ini kemudian Provinsi Banten berdasarkan sertifikat punya alas hukumnya bertarung aja ke pengadilan kami akan mendampingi dibelakang Provinsi Banten di belakang masyarakat,” tukasnya. (Red/*)

  • BRIN Diduga Tetap Paksakan Penutupan Jalan Provinsi Serpong–Parung, Warga Muncul Siaga Semalaman

    BRIN Diduga Tetap Paksakan Penutupan Jalan Provinsi Serpong–Parung, Warga Muncul Siaga Semalaman

    Mediakawasan.id, Tangerang Selatan – Polemik BRIN dengan warga terus berlanjut, kali ini BRIN kembali membuat resah warga sekitar lantaran memasang papan pengumuman diduga bertuliskan informasi penutupan Jalan Serpong-Parung pada Kamis (9/10/2025) dini hari.

    Aksi BRIN sontak membuat reaksi warga sekitar semakin geram. Apalagi akses Jalan tersebut merupakan aset milik Pemerintah Provinsi Banten sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Banten Nomor: 620/Kep.16-Huk/2023 tentang Penetapan Status Fungsi dan Kelas Jalan Provinsi Banten.

    Pantauan redaksi, papan pengumuman tersebut terpasang di dekat portal kawasan perbatasan BRIN. Terlihat proses pemasangan tersebut dikawal oleh pihak keamanan BRIN dan sejumlah aparat.

    Meski telah terpasang, papan pengumuman itu masih ditutupi kain. Namun, salah satu petugas BRIN saat dikonfirmasi membenarkan papan tersebut adalah informasi penutupan jalan.

    ”Iya,” kata petugas BRIN yang enggan disebutkan namanya.

    Langkah ini memperkuat dugaan bahwa BRIN tetap bersikeras menutup akses jalan yang selama ini menjadi jalur vital penghubung antara Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Bogor, meski penolakan keras telah disuarakan warga dan berbagai pihak.

    Warga menilai tindakan tersebut sebagai bentuk arogansi lembaga negara yang mengabaikan kepentingan publik.

    “Kami hanya ingin jalan ini tetap bisa dilalui. Ini jalan provinsi, bukan milik satu lembaga,” ujar salah satu warga yang berjaga di lokasi.

    Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak BRIN terkait waktu pasti pengumuman penutupan jalan tersebut akan dibuka untuk publik.

    Warga Muncul sendiri bertekad akan terus melakukan penjagaan hingga ada kejelasan dan keputusan yang berpihak kepada masyarakat. (Red/*)

  • Benyamin Kirim Surat Ke Gubernur Banten dan BRIN, Minta Penutupan Jalan Raya Serpong-Parung Dibatalkan

    Benyamin Kirim Surat Ke Gubernur Banten dan BRIN, Minta Penutupan Jalan Raya Serpong-Parung Dibatalkan

    Mediakawasan.id, Serpong – Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Benyamin Davnie meminta agar Jalan Raya Serpong-Parung tak ditutup oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

    Benyamin mengaku, sudah mengirimkan surat kepada Kepala BRIN dan Gubernur Banten Andra Soni pada 2 Oktober 2025 lalu.

    “Terkait dengan jalan yang membelah kawasan BRIN, setelah diteliti ternyata ada sertifikat hak pakai atas nama Provinsi Banten. Makanya kemudian saya bersurat ke Gubernur Banten memohon supaya jalan itu tetap jadi jalan yang dapat dilintasi masyarakat. Demikian juga ke Kepala BRIN,” kata Benyamin, Selasa, (07/10/2025).

    Dalam surat itu, Benyamin meminta agar jalan milik provinsi itu dikembalikan fungsinya sebagai jalan Provinsi Banten untuk kelancaran arus lalu lintas masyarakat.

    “Berdasarkan sertifikat hak pakai dan untuk pelayanan masyarakat saya mintakan jalan tersebut menjadi jalan lintasan milik Provinsi Banten. Mudah-mudahan ini bisa dipahami sehingga tidak perlu terjadi penutupan dan sebagainya,” ungkap Benyamin.

    Benyamin juga memahami keinginan masyarakat agar tak ada penutupan akses Jalan Raya Serpong-Parung itu. Pasalnya, jalan tersebut sudah menjadi akses lalu lintas masyarakat selama puluhan tahun.

    “Sudah jadi akses perlintasan masyarakat dan itu sudah berlangsung selama puluhan tahun. Jadi masyarakat sudah terbiasa memanfaatkan jalan tersebut karena itu Jalan Provinsi Banten,” tegasnya.

    Diketahui, BRIN kembali berencana akan menutup akses lalu lintas Jalan Raya Serpong-Parung dan mengalihkannya ke jalan baru.

    Bahkan, BRIN telah melakukan sosialisasi dan mengundang masyarakat sekitar yang terdampak dalam pengalihan akses jalan Kawasan Terbuka Objek Vital Nasional dan Area Nuklir Kawasan Sains dan Teknologi BJ Habibie pada Jumat, 26 September 2025.

    Rencana tersebut mendapat respons dari masyarakat terutama di Kecamatan Setu. Mereka menolak rencana penutupan akses dan pengalihan arus lalu lintas tersebut.

    Perwakilan masyarakat Kecamatan Setu pun sudah menyampaikan penolakan penutupan akses jalan itu kepada Anggota DPRD melalui Rapat Dengar Pendapat (RDP) pada Selasa, 30 September 2025. (Red/*)

  • BRIN dan Universitas Pamulang Jalin Kerja Sama Kembangkan Teknologi Iradiasi untuk Kedaulatan Pangan

    BRIN dan Universitas Pamulang Jalin Kerja Sama Kembangkan Teknologi Iradiasi untuk Kedaulatan Pangan

    Mediakawasan.id, Tangerang Selatan — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir menjalin kerja sama strategis dengan Universitas Pamulang (Unpam), khususnya Fakultas Teknik, dalam pengembangan dan pemanfaatan teknologi iradiasi untuk mendukung kedaulatan pangan nasional.

    Penandatanganan nota kesepahaman ini dihadiri langsung oleh Dr. Syaiful Bakhri, Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, dan Rektor Universitas Pamulang Dr. E. Nurzaman, AM., M.M., M.Si serta sejumlah dosen dan peneliti dari kedua lembaga.

    “Siang ini kami datang ke Universitas Pamulang untuk menandatangani beberapa perjanjian kerja sama, terutama dalam pemanfaatan teknologi iradiasi untuk kedaulatan pangan. Kami berharap universitas dapat memahami teknologi yang telah dikembangkan BRIN dan bersama-sama mengembangkannya lebih lanjut,” ujar Dr. Syaiful Bakhri.

    Menurutnya, teknologi iradiasi bukan hal baru dan telah terbukti bermanfaat dalam memperpanjang masa simpan produk pertanian, menghilangkan hama seperti kutu buah, serta mencegah pembusukan. Teknologi ini juga dinilai dapat membantu menjaga kualitas produk pangan dan meningkatkan nilai ekspor.

    “Melalui kerja sama ini, kami berharap bisa memanfaatkan potensi besar yang dimiliki Unpam. Universitas ini memiliki sumber daya manusia, lahan pertanian, hingga fasilitas peternakan yang luas. Produk-produk yang dihasilkan bisa menjadi bahan uji coba untuk penerapan teknologi iradiasi, misalnya pada beras agar tetap layak simpan tanpa muncul kutu,” jelasnya.

    Kerja sama ini tidak hanya berfokus pada riset, tetapi juga pada penerapan hasilnya melalui teaching industry yang ada di Universitas Pamulang. Dengan jumlah mahasiswa yang besar dan fasilitas pendukung yang memadai, kolaborasi ini diharapkan mempercepat proses hilirisasi dan inkubasi hasil riset BRIN di bidang ketahanan pangan.

    “Universitas Pamulang menjadi perguruan tinggi swasta pertama yang menjalin kerja sama dengan kami dalam bidang iradiasi pangan. Sebelumnya, BRIN telah bekerja sama dengan sejumlah kampus besar seperti UGM, UI, ITB, dan IPB,” ungkap Syaiful.

    Lebih lanjut, ia juga menegaskan pentingnya memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa produk pangan hasil iradiasi berbeda dengan produk yang terkontaminasi.

    “Produk iradiasi justru diolah secara ilmiah untuk memperpanjang masa simpan dan menjaga kualitasnya, bukan karena kontaminasi. Ini perlu diluruskan agar publik memahami manfaatnya,” tegasnya.

    Sementara itu, Rektor Universitas Pamulang  Dr. E. Nurzaman, AM., M.M., M.Si  “menyampaikan apresiasi atas kepercayaan BRIN. Ia menilai kerja sama ini menjadi langkah penting dalam pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat”.

    “Kolaborasi dengan BRIN di bidang iradiasi akan memperkuat peran universitas dalam pengembangan ilmu pengetahuan terapan yang berdampak langsung pada masyarakat,” ujarnya.

    Dengan sinergi antara lembaga riset nasional dan dunia akademik, diharapkan teknologi iradiasi dapat diterapkan secara luas untuk mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia. (Red/*)