Tag: Stunting

  • Pemkot Tangsel dan Swasta Kolaborasi Perkuat Intervensi Stunting melalui SIGAP Anak Sehat 2026

    Pemkot Tangsel dan Swasta Kolaborasi Perkuat Intervensi Stunting melalui SIGAP Anak Sehat 2026

    Mediakawasan.id, Tangerang Selatan – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) berkolaborasi dengan pihak swasta untuk memperkuat intervensi stunting sejak usia dini melalui Program SIGAP Anak Sehat 2026. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya bersama dalam menyiapkan generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045.

    Program SIGAP Anak Sehat 2026 menyasar keluarga dengan anak berisiko stunting di Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan.

    Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie mengatakan, intervensi stunting perlu dilakukan sejak sekarang karena anak-anak yang menjadi sasaran program merupakan generasi yang akan berada pada usia produktif pada 2045.

    “Saya membayangkan mereka usia 20 tahun pada 2045. Kalau dari sekarang tidak kita intervensi, makanan mereka harus seimbang antara tinggi badan, umur, dengan berat badannya. Itu harus kita intervensi dari sekarang,” ujar Benyamin saat membuka peluncuran Program SIGAP Anak Sehat 2026, Senin (10/8/2026).

    Menurut Benyamin, persoalan stunting tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan fisik anak. Kekurangan asupan gizi pada masa pertumbuhan juga dapat berdampak terhadap perkembangan mental dan kemampuan berpikir anak.

    Oleh karena itu, ia menilai pemenuhan kebutuhan gizi anak harus menjadi perhatian bersama. Terlebih, orang tua kerap menghadapi tantangan saat memberikan makanan kepada balita maupun batita.

    “Rata-rata memang ini sebuah fenomena, anak-anak itu, balita, batita itu susah dikasih makan. Tapi ini memengaruhi pertumbuhan. Bukan saja fisik, tetapi juga mental, pikiran dan sebagainya,” jelasnya.

    Benyamin menyampaikan, Kecamatan Serpong dipilih sebagai salah satu lokasi intervensi karena berdasarkan data masih terdapat angka stunting yang perlu mendapatkan perhatian lebih.

    Pelaksanaan program dilakukan melalui enam puskesmas yang berada di Kecamatan Serpong selama 56 hari. Masing-masing puskesmas menjadi pelaksana utama dalam pemberian makanan tambahan sekaligus pendampingan kepada keluarga yang menjadi sasaran program.

    Dalam pelaksanaannya, Pemkot Tangsel mendapat dukungan dari pihak swasta melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL), salah satunya PT Telkom Indonesia wilayah Banten. Kolaborasi tersebut turut didukung Srikandi Telkom Group dan Danantara Indonesia.

    Benyamin menyampaikan apresiasi atas dukungan tersebut karena turut memperkuat upaya pemerintah dalam menangani persoalan stunting di Kota Tangerang Selatan.

    “Atas nama pemerintah kota dan masyarakat, saya ucapkan terima kasih kepada PT Telkom, khususnya wilayah Banten, yang telah mengeluarkan CSR-nya, TJSL-nya dalam kaitan dengan program penanganan stunting yang diselenggarakan oleh pemerintah kota melalui bidang kesehatan,” ungkapnya.

    Ia berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada penanganan stunting, tetapi dapat diperluas untuk mendukung berbagai program kesehatan dan pendidikan di Kota Tangerang Selatan.

    “Saya berharap ke depan TJSL-nya akan terus diperluas, diperbesar, diperlebar lagi. Bukan saja untuk penanganan stunting, tetapi juga untuk program-program kesehatan yang lainnya dalam kaitannya dengan pengembangan pendidikan juga,” kata Benyamin. (Red/*)

  • Cegah Stunting dari Hulu, Pemkot Tangsel Perkuat Layanan Ibu dan Anak

    Cegah Stunting dari Hulu, Pemkot Tangsel Perkuat Layanan Ibu dan Anak

    Mediakawasan.id, Tangerang Selatan – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus memperkuat berbagai upaya pencegahan stunting sejak tahap paling awal kehidupan melalui penguatan layanan kesehatan ibu dan anak.

    Pendekatan ini dilakukan sebagai bagian dari strategi membangun generasi yang sehat, berkualitas, dan bebas stunting, dengan memastikan setiap calon ibu, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita mendapatkan layanan kesehatan dan pemenuhan gizi yang optimal.

    Melalui Dinas Kesehatan bersama perangkat daerah terkait, Pemkot Tangsel mengoptimalkan berbagai intervensi yang berfokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari pemeriksaan kesehatan ibu hamil, pemantauan tumbuh kembang balita di Posyandu, pemberian makanan tambahan bagi sasaran yang membutuhkan, edukasi gizi, hingga pendampingan keluarga berisiko stunting melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK).

    Tak hanya itu, upaya percepatan penurunan stunting juga diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan tenaga kesehatan, kader Posyandu, TP PKK, pemerintah kecamatan dan kelurahan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Sinergi tersebut bertujuan memastikan intervensi yang diberikan tepat sasaran dan mampu menjangkau masyarakat secara menyeluruh.

    Wali Kota Tangerang Selatan, Benyamin Davnie mengatakan bahwa stunting harus dicegah sejak sebelum anak lahir. Karena itu, pemerintah daerah terus memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak sebagai langkah strategis dalam menyiapkan generasi masa depan yang sehat dan berdaya saing.

    “Pencegahan stunting harus dimulai dari hulu, bahkan sejak masa persiapan kehamilan. Karena itu, Pemerintah Kota Tangerang Selatan terus memperkuat layanan kesehatan ibu dan anak, memastikan ibu hamil mendapatkan pendampingan, pemenuhan gizi, serta akses layanan kesehatan yang optimal. Dengan intervensi yang dilakukan sejak dini, kita berharap setiap anak di Tangerang Selatan dapat tumbuh sehat, cerdas, dan berkembang secara maksimal,” ujar Benyamin pada Selasa (14/7/2026).

    Menurutnya, keberhasilan menurunkan stunting tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat, memenuhi kebutuhan gizi keluarga, serta rutin memanfaatkan layanan Posyandu dan fasilitas kesehatan.

    Selain layanan kesehatan, Pemkot Tangsel juga terus mengintensifkan edukasi kepada calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, dan keluarga yang memiliki balita mengenai pentingnya gizi seimbang, pemberian ASI eksklusif, imunisasi, serta pemantauan pertumbuhan anak secara berkala. Upaya tersebut menjadi bagian dari intervensi promotif dan preventif agar potensi stunting dapat dicegah sejak dini.

    Benyamin menegaskan, keberhasilan pencegahan stunting merupakan hasil kerja bersama yang membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat.

    “Investasi terbaik untuk masa depan Kota Tangerang Selatan adalah memastikan anak-anak kita tumbuh sehat sejak dalam kandungan hingga memasuki usia emas pertumbuhan. Untuk itu, kami mengajak seluruh masyarakat memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia dan bersama-sama menjaga kesehatan ibu dan anak sebagai fondasi lahirnya generasi unggul,” tutupnya. (Red/*)

  • Pilar Tegaskan Penanganan Stunting Harus Jadi Gerakan Bersama hingga RT/RW

    Pilar Tegaskan Penanganan Stunting Harus Jadi Gerakan Bersama hingga RT/RW

    Mediakawasan.id, Ciputat – Wakil Wali Kota Tangerang Selatan Pilar Saga Ichsan menegaskan bahwa penanganan stunting di Tangsel tidak boleh hanya menjadi urusan satu dinas, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat dan pemerintah hingga ke tingkat RT/RW.

    Hal itu disampaikan Pilar saat membuka acara publikasi stunting Kota Tangsel di Aula Blandongan, Puspemkot Tangsel, Jumat (12/9/2025).

    “Kita harus sama-sama menangani masalah stunting ini. Jadi tidak ada lagi ego sektoral, misal saya dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan, saya dari dinas kesehatan, saya dari dinas perempuan dan anak, saya dari organisasi ini itu, tidak ada yang seperti itu. Penanganan stunting harusnya satu tim, kita solid semua hingga lurah dan camat harus bisa bergerak untuk menangani masalah stunting,” tegas Pilar.

    Ia menekankan, lurah dan camat beserta RT/RW setempat harus lebih proaktif dalam memantau kondisi warganya, terutama ibu hamil dan balita.

    Pilar juga meminta Dinas Kesehatan bersama perangkat daerah lain untuk memperkuat koordinasi, termasuk melalui forum diskusi rutin dengan stakeholder terkait.

    Menurutnya, stunting erat kaitannya dengan kondisi ekonomi keluarga. Oleh karena itu, solusi tidak hanya berupa intervensi kesehatan, tetapi juga pemberdayaan ekonomi masyarakat agar keluarga mampu memenuhi kebutuhan gizi anak.

    “Stunting ini adalah masalah serius, bukan sekadar angka penilaian. Jangan sampai ada keluarga di Tangsel yang tertinggal hanya karena masalah gizi. Penanganannya harus sejak dari ibu hamil, karena kualitas gizi anak ditentukan sejak dalam kandungan,” ujar Pilar.

    Pemkot Tangsel menargetkan angka stunting dapat terus ditekan hingga mendekati nol pada 2026. Ia menegaskan, target ini harus dicapai dengan kerja nyata, bukan hanya laporan administratif.

    “Kalau tahun depan kita masih menemukan kasus baru, artinya kita abai. Kita harus buktikan Tangsel bisa keluar dari radar isu stunting. Sebagai kota maju, masalah ini seharusnya sudah selesai,” kata Pilar.

    Acara tersebut dihadiri oleh jajaran perangkat daerah, organisasi profesi kesehatan, kader posyandu, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), serta stakeholder terkait lainnya. (Red/*)

  • Target Turunkan Angka Stunting, Benyamin Jelaskan Langkah Strategis Pemkot Tangsel

    Target Turunkan Angka Stunting, Benyamin Jelaskan Langkah Strategis Pemkot Tangsel

    Mediakawasan.id, Ciputat – Pemerintah Kota Tangerang Selatan berkomitmen untuk terus menurunkan angka prevalensi stunting. Dimana target 2024, angka prevalensi stunting di Tangerang Selatan sebesar 14 persen.

    Hal itu disampaikan Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie saat membuka kegiatan fasilitasi pencegahan dan penurunan stunting pada lokasi fokus intervensi penurunan stunting terintegrasi tahun 2022 yang dilaksanakan di Aula Blandongan, Puspemkot Tangsel pada Rabu (16/11).

    Dijelaskan Benyamin, untuk mewujudkan target dalam penurunan angka stunting, Pemkot melakukan berbagai langkah strategis. Salah satunya menambah lokus prioritas pencegahan dan penurunan angka stunting di belasan kelurahan.

    “Untuk itu saya menekankan bahwa Pemkot Tangsel serius mengupayakan penurunan stunting. Komitmen kami tidak pernah menurun,” kata Wali Kota Benyamin.

    Ia mengatakan di Juli 2022 (lalu), sudah ditetapkan tentang lokasi kelurahan fokus prioritas pencegahan dan penurunan stunting. Hal ini menjadi dasar untuk melakukan penguatan intervensi, pendanaan, pemantauan dalam berbagai upaya penurunan stunting.

    “Penurunan stunting membutuhkan keterlibatan semua pihak. Kelurahan, akademisi, media, swasta, LSM bahkan lembaga pendidikan usia dini, dan semua unsur lah untuk kerjasama dan mengawal penurunan angka stunting,” tuturnya.

    Benyamin juga mengatakan bahwa perhatian dalam penurunan angka stunting juga harus dilihat dari berbagai sisi. Tidak hanya fokus ke anaknya saja, melainkan juga edukasi kepada ibu hamil mengenai stunting itu sendiri.

    “Jadi, edukasi bagi ibu-ibu hamilnya, agar bisa memberikan makanan yang menyehatkan agar mereka tumbuh sebagaimana mestinya,” tutup Benyamin

    Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Deden Deni mengatakan bahwa langkah-langkah dijalankan dalam menurunkan angka prevalensi stunting. Termasuk lokus intervensi penurunan stunting di beberapa kelurahan.

    Di antaranya, Serpong, Paku Alam, Bakti Jaya, Kademangan, Pondok Benda, Pamulang Timur, Pondok Cabe Ilir, Benda Baru, Serua, Jombang, Pondok Ranji, Cempaka Putih, Rempoa, Pisangan, Pondok Kacang Timur, Pondok Betung, Pondok Karya, Parigi Baru, dan Pondok Aren.

    “Tentu pemilihan lokus ini berdasarkan kasus stunting di lingkungan tersebut,” katanya. (red/*)

  • SKSG-UI dukung Program Pemerintah dalam Percepatan Penurunan Stunting

    SKSG-UI dukung Program Pemerintah dalam Percepatan Penurunan Stunting

    Mediakawasan.id, Jakarta- Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (SKSG-UI) menyelenggarakan sosialisasi mengenai “Hubungan Perilaku Merokok dan Stunting melalui Permukiman Sehat yang Ramah Lingkungan Bebas Asap Rokok” untuk perwakilan kader, perangkat desa, tim pendamping keluarga, perwakilan Majelis Ulama Indonesia, serta pengurus RT dan RW di wilayah kerja Desa Cibitung, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Senin (7/11).

    Hadir dalam sosialisasi Ade Pijarsyah, S.Pd., M.M. (Kepala Seksi Pendidikan dan Kesehatan Kecamatan Tenjolaya), Robiati Sari (Sekretaris Desa Cibitung), Febriyanti Safitri, S.Gz (Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas Tenjolaya), dan Dr. Renny Nurhasana (Ketua Tim Pengabdian Masyarakat/Pengmas SKSG-UI). Sosialisasi ini merupakan bentuk dukungan dan implementasi dari Pengmas SKSG-UI pada Rencana Aksi Nasional (RAN) Nomor 12 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Angka Stunting Indonesia Tahun 2021-2024 serta menuju pencapaian target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2024 dalam menurunkan prevalensi perokok dan stunting.

    Stunting merupakan permasalahan gizi nasional yang harus mendapatkan perhatian khusus. Dampak stunting sendiri akan mengancam masa depan Indonesia dan bisa menghambat pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Saat ini, prevalensi balita stunting di Indonesia sebesar 24,4% (Studi Status Gizi Indonesia, 2021). Salah satu provinsi yang juga memiliki prevalensi stunting yang tinggi, yaitu Jawa Barat (24,5%), dimana Kabupaten Bogor menempati urutan 7 tertinggi prevalensi stunting. Angka tersebut masih jauh lebih tinggi dari batas toleransi WHO, yaitu 20% untuk stunting.

    Febriyanti Safitri, S.Gz., selaku Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas Tenjolaya, mengungkapkan bahwa telah banyak upaya yang dilakukan dalam mencegah dan menanggulangi stunting, namun keterbatasan tenaga kesehatan di Puskesmas menjadi salah satu hambatannya. Selain itu, banyaknya faktor risiko yang dapat memengaruhi stunting menunjukkan bahwa upaya penanganan stunting ini harus dilakukan dengan kerja sama dan lintas sektor.

    Terdapat beberapa faktor yang dapat memengaruhi stunting, di antaranya kemiskinan, perilaku hidup tidak sehat, pola asuh/pemberian makan yang kurang baik dari sejak anak dilahirkan, dan perilaku merokok. Sebuah riset yang dilakukan oleh ketua tim Pengmas SKSG-UI, Dr. Renny Nurhasana, bersama tim menemukan bahwa anak-anak yang tinggal di rumah tangga dengan orang tua perokok cenderung memiliki pertumbuhan lebih lambat dalam berat dan tinggi badan dibandingkan mereka yang tinggal di rumah tangga tanpa orang tua perokok.

    “Anak-anak dari orang tua perokok kronis memiliki pertumbuhan berat badan secara rata-rata lebih rendah 1,5 kg dan pertumbuhan tinggi badan secara rata-rata lebih rendah 0,34 cm dibanding dengan anak-anak dari orang tua yang tidak merokok. Di sisi lain, pajanan asap rokok terhadap ibu hamil ataupun langsung kepada anak menyebabkan kerentanan penyakit kronis serta lingkungan yang tidak sehat. Hal ini juga berdampak pada keparahan kondisi anak yang menjadi stunting,” jelas Renny.

    Konsumsi rokok juga terbukti menyebabkan kemiskinan pada keluarga. Banyak dari keluarga yang lebih mementingkan untuk membeli rokok dibandingkan kebutuhan pokok keluarga. Fenomena ini pun juga ditemukan di Desa Cibitung berdasarkan pengakuan warga setempat. Dr. Renny menjelaskan bahwa sosialisasi digelar di Kabupaten Bogor, khususnya di Desa Cibitung Kecamatan Tenjolaya, disebabkan beberapa permasalahan kesehatan yang dihadapi, antara lain masih banyak masyarakat yang belum mengetahui kaitan antara perilaku merokok dengan stunting, rata-rata anak mulai merokok di Kabupaten Bogor terbilang dini, yaitu pada rentang usia 10-14 tahun (berpendidikan SMP), serta belum adanya media edukasi terkait bahaya perilaku merokok dengan stunting.

    Ketua Kader Desa Cibitung, Siti Komariah, menyampaikan bahwa sosialisasi terkait materi ini baru pertama kali didapatkan. “Saya akhirnya sadar, perilaku merokok ternyata tidak hanya berbahaya bagi kesehatan, tetapi juga bisa menyebabkan stunting yang akhirnya bisa berdampak dengan kecerdasan anak. Ini tantangan baru bagi kami kader disini, untuk sosialisasi ke masyarakat ini. Intervensi ini minimal dimulai dari keluarga,” jelas Siti.

    Salah satu tindak lanjut nyata setelah sosialisasi berlangsung adalah kader akan meneruskan informasi kepada warga, terutama remaja, ibu hamil, dan ibu yang memiliki balita. Selain itu, kader sepakat untuk memiliki program penerapan rumah tanpa asap rokok pada keluarga di Desa Cibitung. Tim Pengmas UI membagikan stiker rumah tanpa asap rokok kepada kader, untuk mendukung rencana tindak lanjut tersebut.

    “Berikutnya, kader akan melaporkan hasil sosialisasi dan hasil rumah tanpa asap rokok demi menciptakan lingkungan, khususnya Desa Cibitung menjadi permukiman sehat yang ramah lingkungan bebas asap rokok. Dimulai dari dalam rumah, yang diharapkan dapat meluas ke seluruh bagian desa. Apalagi Kabupaten Bogor juga sudah memiliki Peraturan Daerah mengenai Kawasan Tanpa Rokok. Hal ini harus terus didorong untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dari rokok serta mengurangi faktor risiko stunting yang berasal dari perilaku merokok,” tambah Dr. Renny.

    Dr. Renny berharap dari adanya sosialisasi dan rencana tindak lanjut ini, adanya pemahaman oleh warga mengenai kaitan perilaku merokok dan stunting, adanya perubahan kesadaran menghindari merokok pada warga, dan kesadaran menjaga udara dari pencemaran asap rokok di wilayah Kecamatan Tenjolaya. Yang tidak kalah penting, diharapkan warga mendapat dorongan untuk lebih mengalokasikan uang belanjanya kepada hal-hal yang menjadi kebutuhan pokok dan bermanfaat bagi keluarga, bukan untuk membeli rokok. Pencegahan dan pengendalian perilaku merokok diharapkan turut mengurangi prevalensi stunting, sehingga target RPJMN Tahun 2020-2024, yaitu menurunkan prevalensi stunting pada balita menjadi 14% dan persentase perokok penduduk usia 10-18 tahun menjadi 8,7% dapat tercapai. (red/*)

  • Cegah Stunting, Pilar Resmikan Pos Gizi Lavender

    Cegah Stunting, Pilar Resmikan Pos Gizi Lavender

    Mediakawasan.id, Pondok Aren- Sebagai bentuk perhatian dan komitmen Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam mencegah stunting, Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan meresmikan Pos Gizi Lavender RT/RW 02/04 Kelurahan Pondok Kacang Timur, Pondok Aren, pada Senin (17/10).

    Bagi Pilar, Pos Gizi yang saat ini ada di Tangerang Selatan akan terus ditambah dan dimaksimalkan. Termasuk, jumlah pos gizi yang harus terus ditambah hingga ke 54 Kelurahan.

    “Saat ini Pos Gizi di Tangsel ada 32, insyaallah kita bisa wujudkan, semua kelurahan memiliki pos gizi,” jelasnya.

    Dimana pos gizi ini menjadi pendeteksi awal apakah seseorang balita tersebut masuk ke dalam kategori gizi buruk atau tidak. “Kita harus berjuang untuk ibu bagaimana generasi masa depan kota Tangerang Selatan, anak-anaknya cerdas, sehat,” kata Pilar.

    lanjut Pilar, komitmen dalam mencegah dan mengatasi stunting harus dilakukan secara bersama. Baik dari pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan kader-kader kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam mengatasi stunting.

    “Alhamdulillah di Pondok Kacang Timur ini didukung semua tokoh masyarakat, tokoh agama, kader kesehatan dan semua mendukung,” katanya.

    Oleh karenanya, Pilar berharap agar pos gizi ini dimanfaatkan dengan baik. Sehingga stunting bisa terdeteksi sejak dini, dan kecukupan gizi bagi ibu-ibu hamil juga dapat diperhatikan.

    “Jadi kewajiban kita semua, untuk lebih aware di lingkungan sekitar kita. Ibu-ibu hamil kita perhatikan, dan jika ada masalah segera untuk dilaporkan sehingga bisa cepat dibantu,” pungkasnya. (red/*)

  • Cegah Stunting, Pilar Resmikan Pos Gizi Lavender

    Cegah Stunting, Pilar Resmikan Pos Gizi Lavender

    Mediakawasan.id, Tangsel- Sebagai bentuk perhatian dan komitmen Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam mencegah stunting, Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan meresmikan Pos Gizi Lavender RT/RW 02/04 Kelurahan Pondok Kacang Timur, Pondok Aren, pada Senin (17/10).

    Bagi Pilar, Pos Gizi yang saat ini ada di Tangerang Selatan akan terus ditambah dan dimaksimalkan. Termasuk, jumlah pos gizi yang harus terus ditambah hingga ke 54 Kelurahan.

    “Saat ini Pos Gizi di Tangsel ada 32, insyaallah kita bisa wujudkan, semua kelurahan memiliki pos gizi,” jelasnya.

    Dimana pos gizi ini menjadi pendeteksi awal apakah seseorang balita tersebut masuk ke dalam kategori gizi buruk atau tidak.

    “Kita harus berjuang untuk ibu bagaimana generasi masa depan kota Tangerang Selatan, anak-anaknya cerdas, sehat,” kata Pilar.

    lanjut Pilar, komitmen dalam mencegah dan mengatasi stunting harus dilakukan secara bersama. Baik dari pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan kader-kader kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam mengatasi stunting.

    “Alhamdulillah di Pondok Kacang Timur ini didukung semua tokoh masyarakat, tokoh agama, kader kesehatan dan semua mendukung,” katanya.

    Oleh karenanya, Pilar berharap agar pos gizi ini dimanfaatkan dengan baik. Sehingga stunting bisa terdeteksi sejak dini, dan kecukupan gizi bagi ibu-ibu hamil juga dapat diperhatikan.

    “Jadi kewajiban kita semua, untuk lebih aware di lingkungan sekitar kita. Ibu-ibu hamil kita perhatikan, dan jika ada masalah segera untuk dilaporkan sehingga bisa cepat dibantu,” pungkasnya. (red/*)

  • Pj Gubernur Banten Al Muktabar: Penanganan Stunting dan Gizi Buruk Dilakukan Secara Komprehensif

    Pj Gubernur Banten Al Muktabar: Penanganan Stunting dan Gizi Buruk Dilakukan Secara Komprehensif

    Mediakawasan.id, Serang Banten- Penjabat (Pj) Gubernur Banten Al Muktabar mengatakan Provinsi Banten mengambil langkah-langkah yang fokus untuk menurunkan angka stunting. Melibatkan para pemangku kepentingan dengan pendekatan program yang ada.

    “Fokus dilakukan dengan mengontrol semua agenda kerja pembiayaan baik itu APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) Provinsi Banten maupun APBD Kabupaten/ Kota,” ungkapnya usai mengikuti Rapat Kerja Percepatan Penurunan Stunting bersama Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin untuk 12 Provinsi Prioritas di Istana Wakil Presiden Republik Indonesia Jl. Medan Merdeka Selatan No. 6 Jakarta Pusat, Kamis (4/8/2022).

    “Untuk terarah pada penanganan angka stunting dan gizi buruk sesuai dengan program kerja yang ada,” tambahnya.

    Dijelaskan, penanganan dilakukan secara struktur kelembagaan dalam rangka pendekatan penanganan stunting dan gizi buruk. Secara berjenjang dari Kabupaten/Kota, Provinsi.

    “Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi melibatkan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) dan Panglima Daerah Militer (Pangdam) dengan jajaran sampai Babinkamtibnas dan Babinsa di tingkat Desa/Kelurahan. Serta Kejaksaan Tinggi yang memiliki peran besar dalam penurunan stunting,” ungkap Al Muktabar.

    “Melibatkan stakeholder (para pemangku kepentingan) seperti lembaga usaha, universitas, serta masyarakat,” jelasnya.

    Ditambahkan, pihaknya secara komprehensif melakukan langkah-langkah bersama dalam penurunan angka stunting dan gizi buruk.”Arahan Bapak Menteri Dalam Negeri, kita perlu sungguh-sungguh memerankan PKK dan kader Posyandu. Digerakkan sebagai instrumen untuk melakukan pendekatan dalam rangka menurunkan stunting dan gizi buruk,” ungkapnya.

    “Pendekatan yang kita lakukan secara komprehensif dengan melibatkan semua stakeholder. Lalu instrumen pendekatannya mengacu pada apa yang menjadi arahan Menteri Kesehatan, BKKBN, Menteri Dalam Negeri, serta panduan yang disampaikan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan,” pungkas Al Muktabar. (Red/rlls)

  • Pencegahan Stunting Penting Dilakukan Sejak Dini

    Pencegahan Stunting Penting Dilakukan Sejak Dini

    Mediakawasan.id, Ciputat– Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) akan melakukan berbagai langkah aksi untuk mencegah dan menekan angka stunting di wilayahnya. Dimana, pencegahan stunting harus segera dilakukan sejak dini. Hal tersebut diungkapkan Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie dalam rembuk penanganan stunting yang berlangsung di Aula Blandongan, Puspemkot Tangsel, Kamis (7/7). Oleh karenanya, beberapa kajian dan langkah-langkah strategis dibahas dalam agenda “Rembuk Stunting” yang berlangsung di Puspemkot Tangsel.

    Benyamin Davnie menjelaskan, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan (hpk). Kondisi gagal tumbuh pada anak balita disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu lama serta terjadinya infeksi berulang.

    “Untuk itu, penurunan dan pencegahan stunting penting dilakukan sedini mungkin untuk menghindari dampak jangka panjang yang merugikan. Stunting mempengaruhi perkembangan otak sehingga tingkat kecerdasan anak tidak maksimal. Hal ini berisiko menurunkan produktivitas pada saat dewasa. Stunting juga menjadikan anak lebih rentan terhadap penyakit tidak menular degeneratif,” terang Benyamin dalam acara tersebut.

    Menurutnya, penanganan stunting merupakan investasi pembangunan jangka panjang bidang sumber daya manusia. Sebab, stunting disebabkan oleh faktor multidimensi yang dalam penanganannya memerlukan peran dari berbagai lintas sektoral. Untuk itu 8 aksi ini akan dilakukan untuk menekan angka stunting dan menurunkan stunting pertama yakni, melakukan identifikasi sebaran stunting, ketersediaan program, dan kendala dalam pelaksanaan integrasi intervensi.

    “Aksi 1 ini telah dilaksanakan dan ditetapkan 19 kelurahan sebagai lokus prioritas penanganan stunting melalui keputusan walikota nomor:050/kep.174-huk/2022 tentang kelurahan lokasi prioritas pencegahan dan penurunan stunting tahun 2023 yaitu kelurahan serpong, paku jaya, bakti jaya, kademangan, pondok benda, pamulang timur, pondok cabe ilir, benda baru, serua, jombang, pondok ranji, cempaka putih, rempoa, pisangan, pondok kacang timur, pondok betung, pondok karya, perigi baru, dan pondok aren.”ungkapnya.Kedua yakni menyusun rencana kegiatan untuk meningkatkan pelaksanaan integrasi intervensi.

    “Aksi kedua ini telah dilaksanakan dan menghasilkan rancangan rencana program dan kegiatan intervensi yang terintegrasi.” jelasnya.

    Untuk aksi ketiga ini dilakukan yakni rembuk stunting yang merupakan langkah lanjutan untuk mengkonfirmasi, menerima masukan lebih lanjut, menyepakati dan memberikan komitmen terhadap percepatan pencegahan dan penurunan stunting di kota tangerang selatan.

    sementara itu, lima aksi selanjutnya yang menjadi agenda kedepan Pemkot yaknimemberikan kepastian hukum bagi kelurahan untuk menjalankan peran dan kewenangan kelurahan dalam intervensi gizi terintegrasiMemastikan tersedianya dan berfungsinya kader yang membantu pemerintah kelurahan dalam pelaksanaan intervensi gizi terintegrasi di tingkat kelurahan. Meningkatkan sistem pengelolaan data stunting dan cakupan intervensi di tingkat kabupaten/kota.

    Untuk aksi ke tujuh, melakukan pengukuran pertumbuhan dan perkembangan anak balita dan publikasi angka stunting kabupaten/kota. Dan ke 8 yakni melakukan review kinerja pelaksanaan program dan kegiatan terkait penurunan stunting selama satu tahun terakhir.

    Kabid Pemerintahan Pembangunan Manusia pada Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah Kota Tangsel, Yusuf Ismail menambahkan, sejak tahun 2021 Tangsel sudah ditetapkan menjadi salah satu lokus prioritas pencegahan dan penurunan stunting.

    “Berdasarkan data by name by address melalui aplikasi elektronik pencatatan dan pelaporan berbasis masyarakat, ternyata kenaikan prevalensi tersebut terjadi pada kelurahan yang berada di luar lokus penanganan stunting,” ujarnya.

    Atas kondisi itu, maka ada sejumlah upaya yang akan diambil guna menindaklanjutinya. “Salah satunya dengan penambahan jumlah kelurahan yang menjadi lokus prioritas penanganan stunting. Yang tadinya 10 kelurahan pada 2021-2022 menjadi 19 pada tahun 2023,” paparnya.

    Selain dengan menambah jumlah lokus, pihaknya juga akan melakukan beberapa penguatan sebagai upaya pencegahan kasus stunting baru. (Red/*)