Tag: MBG

  • Studi PKJS-UI: Konsumsi Rokok Rumah Tangga Berisiko Mencederai Manfaat Program Makan Bergizi Gratis

    Studi PKJS-UI: Konsumsi Rokok Rumah Tangga Berisiko Mencederai Manfaat Program Makan Bergizi Gratis

    Mediakawasan.id, Jakarta – Di tengah besarnya investasi pemerintah melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tingginya konsumsi rokok di rumah tangga penerima manfaat menjadi tantangan yang dapat mengurangi dampak program terhadap kesejahteraan anak. Penelitian terbaru Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) menemukan bahwa sebagian besar anak penerima MBG berasal dari rumah tangga perokok. Rumah tangga ini cenderung mengalokasikan pengeluaran lebih sedikit untuk pangan bergizi dan lebih banyak untuk makanan kurang sehat. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan intervensi perubahan perilaku dalam program MBG, termasuk pengendalian perilaku merokok. Selain itu, kebijakan kenaikan harga rokok dinilai penting untuk menekan konsumsi rokok agar manfaat program dapat tercapai lebih optimal.

    Pemerintah telah mengalokasikan anggaran besar untuk Program MBG guna meningkatkan kualitas gizi dan masa depan anak Indonesia. Namun, manfaat program ini berisiko tidak optimal apabila konsumsi rokok di tingkat rumah tangga tetap tinggi. Di tengah upaya menurunkan stunting dan memperbaiki kualitas sumber daya manusia, data Badan Pusat Statistik (BPS) (2024) menunjukkan bahwa sekitar 28,99% rumah tangga di Indonesia masih mengkonsumsi rokok, dengan rata-rata pengeluaran mencapai sekitar 11% dari total pengeluaran rumah tangga. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran karena belanja rokok dapat mengurangi alokasi keluarga untuk pangan bergizi, kesehatan, dan pendidikan anak.

    Ketua PKJS-UI, Ir. Aryana Satrya, M.M, Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa penelitian ini tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan Program MBG dengan kebijakan lain. Sebaliknya, hasil penelitian menunjukkan bahwa program gizi memerlukan dukungan lingkungan rumah tangga yang sehat agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal. “Program gizi seperti MBG memerlukan dukungan lingkungan rumah tangga yang sehat, termasuk pengendalian perilaku merokok dan alokasi pengeluaran keluarga yang lebih berpihak pada kebutuhan anak,” ujarnya.

    Peneliti PKJS-UI, Santoso, MSE, menjelaskan bahwa keberhasilan program seperti MBG tidak dapat dipahami semata-mata dari sisi penyediaan makanan. Menurutnya, perilaku konsumsi dan kondisi rumah tangga tempat anak tumbuh juga memiliki pengaruh besar terhadap hasil yang dicapai. “MBG memiliki potensi mengurangi pengeluaran rokok rumah tangga, tetapi dampaknya belum signifikan sehingga memerlukan intervensi lanjutan yang lebih komprehensif,” kata Santoso.

    Dalam kegiatan diseminasi hasil penelitian, berbagai kementerian dan lembaga menyambut temuan tersebut sebagai masukan penting untuk penguatan kebijakan. Analis Kebijakan Ahli Madya Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (RI), Nani Rohani, S.K.M, MARS, menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun perilaku hidup sehat. Menurutnya, konsumsi rokok di rumah tangga dapat menurunkan kualitas gizi keluarga dan menjadi tantangan yang perlu diatasi untuk mengoptimalkan manfaat Program MBG. Ia juga menilai temuan ini dapat menjadi masukan yang konstruktif bagi pemerintah untuk memperkuat upaya penurunan prevalensi merokok, termasuk melalui kebijakan kenaikan harga rokok.

    Pandangan serupa disampaikan oleh Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid. Ia menekankan bahwa manfaat MBG dapat terancam apabila anak masih hidup dalam lingkungan yang sarat paparan rokok. Menurutnya, tingginya jumlah perokok usia di bawah 21 tahun dan besarnya pengeluaran rumah tangga untuk rokok merupakan sinyal serius bagi kesehatan masyarakat dan pembiayaan kesehatan jangka panjang. Karena itu, hasil penelitian ini penting sebagai masukan untuk memperkuat koordinasi lintas sektor dalam melindungi anak dari paparan rokok dan mengoptimalkan manfaat MBG.

    Selain memperkuat urgensi masalah, para narasumber juga menyoroti pentingnya pendekatan kebijakan yang lebih komprehensif. Dari perspektif ekonomi, Tenaga Ahli Utama Dewan Ekonomi Nasional RI, Luhur Arief Bima, M.Sc, menilai bahwa penelitian ini memperlihatkan pentingnya memahami faktor-faktor yang dapat mengurangi optimalisasi suatu program publik. Ia menekankan bahwa dampak kesehatan dan kerugian sosial-ekonomi akibat konsumsi rokok dapat menimbulkan biaya yang sangat besar bagi masyarakat dan negara sehingga diperlukan penguatan pengendalian rokok melalui pendekatan multisektor, tidak hanya melalui instrumen fiskal seperti kenaikan harga rokok, tetapi juga kebijakan nonfiskal seperti penguatan kawasan tanpa rokok.

    Sementara itu, Hari Poerna Setiawan, S.E., M.Si., Analis Kebijakan Ahli Madya pada Direktorat Strategi Perpajakan, Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal, Kementerian Keuangan RI, menilai bahwa riset ini menunjukkan tingginya kerentanan rumah tangga terhadap perilaku merokok. Menurutnya, kenaikan harga rokok merupakan instrumen penting untuk menurunkan keterjangkauan rokok dan menekan konsumsi, terutama di tengah masih maraknya peredaran rokok ilegal di sejumlah wilayah yang membuat harga rokok semakin murah. Karena itu, upaya pengendalian konsumsi rokok perlu dilakukan secara terpadu, tidak hanya melalui kenaikan harga rokok, tetapi juga melalui penguatan pengawasan dan penindakan terhadap peredaran rokok ilegal.

    Dari sektor pendidikan, Dr. Harnowo Susanto, M.Ed., Analis Kebijakan Ahli Madya Direktorat SMP Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, mengingatkan bahwa MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga menjadi sarana edukasi mengenai pola hidup sehat. Ia menekankan bahwa konsumsi rokok rumah tangga dapat mengurangi alokasi sumber daya keluarga untuk pendidikan anak. Karena itu, penguatan sekolah sebagai Kawasan Tanpa Rokok (KTR), revitalisasi UKS sebagai rumah sehat, serta edukasi bahaya rokok dan vape tetap menjadi prioritas.

    Melengkapi pandangan tersebut, Dewan Pakar Gizi Badan Gizi Nasional, Prof. Dr. Ir. Ikeu Tanziha, MS, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis tidak seharusnya dipahami sekadar sebagai program pemberian makanan, melainkan sebagai bagian dari transformasi perilaku hidup sehat. Menurutnya, setiap menu MBG juga merupakan sarana edukasi gizi bagi anak. Karena itu, berbagai pihak, termasuk BGN, Kementerian Kesehatan, dan UNICEF, terus mendorong peningkatan kapasitas kader dan guru untuk memperkuat edukasi gizi di masyarakat. Namun, keberhasilan MBG juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang lebih luas, termasuk akses terhadap pangan bergizi dan paparan terhadap rokok. Ia menilai perlunya memahami lebih dalam faktor sosial dan budaya yang membuat perilaku merokok tetap bertahan dan dianggap normal di masyarakat sehingga dapat menjadi dasar bagi pengembangan kebijakan pengendalian rokok yang lebih efektif.

    Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya ditentukan oleh penyediaan makanan bergizi, tetapi juga oleh lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang. Intervensi gizi perlu berjalan beriringan dengan upaya pengendalian konsumsi rokok, penguatan promosi kesehatan keluarga, serta dukungan kebijakan lintas sektor yang konsisten. Tanpa pendekatan yang terintegrasi, manfaat investasi negara dalam pembangunan sumber daya manusia berisiko tidak tercapai secara optimal. Berdasarkan temuan tersebut, PKJS-UI merekomendasikan sejumlah langkah kebijakan untuk memperkuat efektivitas Program MBG dan memastikan setiap investasi gizi memberikan manfaat yang maksimal bagi anak Indonesia.

    1. Melakukan skrining sederhana terkait paparan rokok di rumah dan memperkuat edukasi bahaya rokok–gizi di sekolah (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah).
    2. Menjadikan MBG sebagai program perubahan perilaku melalui edukasi rumah bebas rokok (Badan Gizi Nasional dan Kementerian Kesehatan).

    Meningkatkan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) dan menyederhanakan struktur CHT yang dapat memahalkan harga  rokok sehingga menurunkan konsumsi (Kementerian Keuangan). (Red/Rlls)

  • Tinjau SMAN 1 Tangsel, Wali Kota Benyamin dan Gubernur Andra Soni Pastikan MBG serta SPMB Berjalan Optimal

    Tinjau SMAN 1 Tangsel, Wali Kota Benyamin dan Gubernur Andra Soni Pastikan MBG serta SPMB Berjalan Optimal

    Mediakawasan.id, Ciputat – Wali Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Benyamin Davnie mendampingi Gubernur Banten Andra Soni meninjau pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta proses verifikasi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMAN 1 Tangerang Selatan, Selasa (2/6/2026).

    Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan berbagai program pendidikan yang dijalankan pemerintah dapat berlangsung dengan baik serta memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya para pelajar.

    Benyamin menyampaikan bahwa keberhasilan pelaksanaan SPMB dan MBG akan mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Kota Tangerang Selatan. Program tersebut juga diharapkan dapat mendorong peningkatan rata-rata lama sekolah masyarakat yang saat ini mencapai 12,6 tahun serta harapan lama sekolah sebesar 14,5 tahun.

    “Kami memastikan semua program-program pendidikan yang dijalankan pemerintah dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Benyamin.

    Selain meninjau pelaksanaan MBG, rombongan juga melihat langsung proses verifikasi pra-SPMB yang sedang berlangsung di SMAN 1 Tangerang Selatan.

    Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Banten Andra Soni mengatakan bahwa kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan distribusi makanan kepada siswa berlangsung lancar dan tepat sasaran.

    Namun, pada kunjungan tersebut Andra mendapati pihak sekolah melakukan penyesuaian jadwal pengantaran makanan karena para siswa tengah menjalani ujian sehingga waktu kepulangan lebih cepat dibandingkan hari biasa.

    “Kami mendapat informasi dari kepala sekolah bahwa hari ini siswa sedang ujian, sehingga makanan diminta datang lebih awal. Ini merupakan bentuk penyesuaian agar program tetap berjalan dengan baik dan kebutuhan siswa tetap terpenuhi,” ujarnya.

    Menurut Andra, fleksibilitas pelaksanaan di lapangan menjadi bagian penting agar Program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan efektif tanpa mengganggu kegiatan belajar mengajar.

    Selain memantau pelaksanaan MBG, Andra juga meninjau proses verifikasi pra-SPMB. Ia melihat langsung pelayanan yang diberikan panitia kepada para orang tua calon peserta didik yang sedang melakukan verifikasi data.

    Dari sejumlah pendaftar yang telah masuk, terdapat delapan calon peserta didik yang memerlukan proses verifikasi lanjutan. Seluruh proses tersebut dilayani langsung oleh panitia sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    Andra menegaskan bahwa pelaksanaan SPMB harus berlangsung secara transparan, adil, dan bebas dari segala bentuk intervensi.

    “Harapan kita agar semua merasa atau semua mendapatkan pelayanan yang sama, adil dan transparan. Nah sesuai dengan harapan kita, tidak ada lagi titip-menitip anak ke sekolah, enggak boleh ada intervensi kepada kepala sekolah dan panitia. Biarkanlah sistem yang saat ini kita percaya, yakini itu berjalan dengan baik dan mohon dukungannya dari masyarakat,” jelasnya.

    Pemerintah Kota Tangerang Selatan bersama Pemerintah Provinsi Banten berharap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis dan Sistem Penerimaan Murid Baru dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan pendidikan, memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan, serta menciptakan akses pendidikan yang semakin merata dan berkualitas.

    Melalui berbagai program tersebut, pemerintah berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan pendidikan yang inklusif, transparan, dan berorientasi pada peningkatan kualitas generasi muda di masa mendatang. (Red/*)

  • Menekan Kasus Baru Keracunan MBG Hingga Zero Case, BGN Gencar Tingkatkan Kualitas Layanan SPPG di Tangsel

    Menekan Kasus Baru Keracunan MBG Hingga Zero Case, BGN Gencar Tingkatkan Kualitas Layanan SPPG di Tangsel

    Mediakawasan.id, Tangerang Selatan – Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Direktorat Penyediaan dan Penyaluran Wilayah II menargetkan seluruh layanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai garda depan pelaksana program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat terbebas dari kasus kontaminasi atau kerusakan pangan yang berisiko terhadap kesehatan dengan prinsip zero case.

    Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menjadi salah satu daerah sasaran BGN dalam meningkatkan kapasitas dan profesionalitas tenaga penjamah pangan dari setiap SPPG di wilayah tersebut untuk memperbaiki pelaksanaan program MBG secara berkelanjutan.

    Kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) untuk petugas dan relawan SPPG yang dilakukan Direktorat Penyediaan dan Penyaluran Wilayah II BGN secara serentak di 34 kabupaten/kota di enam provinsi dengan total 30.000 peserta ini, termasuk diadakan di Kota Tangsel. Sekitar 600 peserta mengikuti bimtek yang dilaksanakan pada tanggal 18-19 Oktober 2025 di Hotel Ibis, Gading Serpong, Tangerang Selatan.

    Para pakar dari berbagai instansi terkait turut berperan dalam bimtek ini sebagai pemateri, antara lain Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda BPOM, Clara Diana Setiawati, S.Farm, Apt, M.A dan Sandhyani Ellis M Damajanti, S.Si., Apt, M.K.M; Ketua Tim Kerja Kefarmasian Dinas Kesehatan Tangsel, Lisa Fantina SKM., M.Kes; JF Pengendali Dampak Lingkungan Muda Dinas Lingkungan Hidup, Laily Khoirilla; Kabid Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Tangerang Selatan, Didin Sihabudin; serta Ketua PERSAGI, Ari Retno Setiawati, S.Gz.

    Belakangan ini kita mendengar berita yang menyedihkan, adanya keracunan, Kejadian Luar Biasa (KLB) di berbagai wilayah Indonesia yang diduga berasal dari SPPG. Kami dari BGN tidak ingin hal itu terjadi. Karena itu, petugas dan relawan SPPG diajak belajar bersama di sini untuk meningkatkan layanan MBG, papar Koordinator Wilayah Tangerang Selatan, Nindy Sabrina S.Gz, MSc., dalam sambutan pembuka bimtek tersebut. 

    Nindy meyakinkan peserta bimtek bahwa mereka adalah pahlawan karena telah memberikan makanan untuk anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui. Bayangkan dari pekerjaan Bapak dan Ibu di dapur yang tidak terlihat dari luar, tapi efeknya luar biasa, ujarnya.

    Pada kesempatan itu, Nindy menyampaikan sepuluh langkah strategis peningkatan layanan MBG yang mencakup aspek teknis, manajerial, dan kualitas pelayanan, antara lain penempatan 5.000 chef profesional dari Indonesian Chef Association (ICA) di SPPG baru untuk transfer pengetahuan dalam pengolahan makanan bergizi dan aman, penambahan tenaga ahli gizi agar pendampingan gizi lebih optimal, pelaksanaan rapid test food berkala oleh Balai POM guna menjamin keamanan pangan, penerapan wajib Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi setiap SPPG, pemanfaatan platform LMS Plataran Sehat Kementerian Kesehatan untuk pembelajaran daring bagi tenaga pelaksana, dan kepatuhan terhadap Standard Operating Procedure (SOP) sebagai dasar tata kelola layanan yang profesional dan akuntabel.

    Sebelum menutup sambutannya, Nindy kembali mengingatkan peserta bimtek yang sebagai ujung tombak program MBG, Jika masing-masing divisi SPPG tidak bisa mengikuti standar BGN, itu merupakan ancaman bagi SPPG. Sudah ada SPPG yang tidak beroperasional karena tidak mengikuti SOP, dan itu menjadi kerugian untuk semuanya.”

    BGN berharap melalui bimtek serentak ini terbentuk jaringan penjamah pangan yang kompeten, beretika, dan berdedikasi, serta menjadi garda terdepan dalam memastikan setiap anak Indonesia memperoleh makanan yang layak, sehat, dan bergizi seimbang.

    Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah II BGN, Dr. Nurjaeni, Ph.D, menyampaikan, Melalui bimtek ini, kami ingin memastikan bahwa setiap penjamah makanan memiliki kompetensi dan keterampilan yang memadai dalam seluruh tahapan penyediaan makanan bergizi. mulai dari pemilihan bahan, pengolahan, hingga distribusi kepada penerima manfaat. (Red/*)

  • Rakor Bersama Kemensetneg, Sekda Tangsel Harapkan Semua Stakeholder Sukseskan MBG

    Rakor Bersama Kemensetneg, Sekda Tangsel Harapkan Semua Stakeholder Sukseskan MBG

    Mediakawasan.id, Ciputat – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel) berkomitmen untuk mendukung penuh pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar berjalan dengan pelayanan terbaik dan tepat sasaran.

    Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tangsel, Bambang Noertjahjo, usai menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Kegiatan Pemantauan SPPG oleh Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) yang digelar di Aula Blandongan, Puspemkot Tangsel, Senin (13/10/2025).

    Bambang menjelaskan, rakor tersebut merupakan bagian dari upaya evaluasi yang dilakukan Kemensetneg untuk memperoleh gambaran menyeluruh terhadap pelaksanaan Program MBG, yang merupakan salah satu program prioritas nasional.

    “Saya berharap seluruh komponen, seluruh pihak, betul-betul membuka diri baik apa yang sudah dilaksanakan, kalau ada kendala bisa disampaikan, kalau ada usulan solusi juga disampaikan,” kata Bambang.

    Bambang menuturkan, saat ini Pemkot Tangsel mulai ikut mengawasi pelaksanaan Program MBG sesuai arahan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk mencari solusi peningkatan program MBG sesuai kewenangan masing-masing.

    “Salah satunya bagaimana SOP (standar operasional prosedur) higienisnya. Saya harapkan semua pihak menjalankan program ini layaknya memberi makan anak dan keluarga kita sendiri, jadi pasti akan ekstra hati-hati. Mudah-mudahan programnya terus membaik,” tuturnya.

    Bambang menambahkan, dirinya berharap hasil dari rakor ini dapat menjadi bahan evaluasi objektif bagi pemerintah pusat untuk terus memperbaiki pelaksanaan program.

    “Pada utusan Kemensesneg saya harapkan bisa membawa informasi se-obyektif mungkin, agar bisa jadi tambahan informasi apapun nanti yang akan diputusin. InsyaAllah semoga hasilnya terbaik,” ungkapnya.

    Perwakilan Tim Pemantauan/Peninjauan Lapangan Sekretariat Dukungan Kabinet Kemensesneg Ricky Wulan Noviyanthi mengatakan, rakor itu untuk memastikan semua stakeholder ikut serta menyukseskas program prioritas Presiden Prabowo Subianto.

    “Kami ingin melihat dan memastikan semua stakeholder siap untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya masing-masing. Karena ini adalah program prioritas presiden, kita semua berupaya untuk mendukung agar programnya berhasil,” kata Wulan. (Red/*)

  • Sekda Bambang Dampingi Wapres Gibran Tinjau MBG di 2 SMPN Tangsel

    Sekda Bambang Dampingi Wapres Gibran Tinjau MBG di 2 SMPN Tangsel

    Mediakawasan.id, Tangerang Selatan – Sekretaris Daerah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Bambang Noertjahjo mendampingi Wakil Presiden (Wapres) Indonesia Gibran Rakabuming Raka di sejumlah sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Tangerang Selatan, Selasa (2/9/2025).

    Bambang mendampingi Gibran berkunjung ke dua sekolah yakni SMPN 14 Kota Tangsel di Pondok Aren dan SMPN 1 Kota Tangsel di Serpong.

    Dalam kunjungan itu, Gibran melihat langsung aktivitas para pelajar di SMPN 14 dan SMPN 1 Kota Tangsel. Kedatangan Gibran itu disambut antusias oleh guru dan para siswa.

    “Program ini bukan sekadar memberikan makanan, tetapi juga investasi jangka panjang untuk mencetak generasi Tangsel yang sehat, cerdas, dan berdaya saing,” kata Bambang.

    Bambang menjelaskan, Gibran mengunjungi dua SMPN di Tangsel untuk memantau pelakasanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

    Tidak hanya itu, dalam kunjungannya Gibran juga berkesempatan berbincang dengan siswa mengenai manfaat program ini.

    Bambang menilai antusiasme yang ditunjukkan pelajar menjadi bukti nyata bahwa program ini berdampak positif.

    Ia menambahkan, kehadiran Gibran hari ini menjadi dorongan bagi Pemkot Tangsel untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

    “Program Makan Bergizi Gratis ini sangat penting untuk memastikan anak-anak kita tumbuh sehat dan berprestasi. Kami di Pemkot Tangsel berkomitmen mendukung penuh implementasi program ini, agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh seluruh siswa,” ujarnya.

    Kunjungan tersebut turut didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel Deden Deni, Camat Pondok Aren Hendra, dan Camat Serpong Syaifuddin. (Red/*)

  • Pemkot Apresiasi Polres Tangsel Bangun SPPG: Perluas MBG dan Ketahanan Ekonomi Masyarakat

    Pemkot Apresiasi Polres Tangsel Bangun SPPG: Perluas MBG dan Ketahanan Ekonomi Masyarakat

    Mediakawasan.id, Setu – Pemerintah Kota Tangerang Selatan memberikan dukungan penuh terhadap pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) oleh Polres Tangerang Selatan, sebagai upaya nyata dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan peningkatan gizi masyarakat.

    Proyek yang ditandai dengan seremoni groundbreaking pada Rabu (6/8/2025) di Jalan Raya Puspiptek, Kelurahan Kademangan, Kecamatan Setu ini diharapkan menjadi pusat layanan terpadu yang menghubungkan aspek kemanusiaan, keamanan, dan kesehatan masyarakat.

    Asisten Daerah (Asda) I Kota Tangsel, Chaerudin yang hadir mewakili Wali Kota Tangerang Selatan, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Polres Tangsel membangun fasilitas pelayanan gizi tersebut.

    “Saya menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap inisiasi Polres Tangerang Selatan dalam membentuk dan membangun SPPG ini,” ujarnya.

    Ia juga menekankan bahwa persoalan gizi tidak hanya terkait sektor kesehatan, tetapi beririsan dengan berbagai permasalahan sosial dan ketahanan ekonomi masyarakat, terutama kelompok rentan.

    Keberadaan SPPG dari Polres Tangsel akan memperkuat sinergi lintas sektor antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat, dalam upaya penanganan isu gizi secara sistemik dan berkelanjutan.

    “Kami dari Pemkot Tangsel siap bersinergi melalui dinas pendidikan, kebudayaan, dan perangkat daerah lainnya untuk mendukung program-program yang akan dijalankan SPPG ke depan,” kata dia.

    SPPG oleh Polres Tangsel nantinya diharapkan dapat berfungsi sebagai pusat layanan gizi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat—khususnya untuk mendukung program-program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penguatan ketahanan keluarga.

    “Langkah ini merupakan bentuk nyata kepedulian terhadap peningkatan kesehatan masyarakat. Maksudnya dalam aspek pemenuhan gizi yang menjadi fondasi utama bagi pembangunan semua manusia yang sehat dan berkualitas,” ucapnya.

    Chaerudin juga berharap pembangunan fasilitas ini dapat selesai tepat waktu dan menjadi inspirasi bagi hadirnya inisiatif serupa di berbagai wilayah.

    “Mari kita dukung bersama pembangunan SPPG ini sebagai salah satu komitmen kita dalam membangun kota yang aman, nyaman, dan inklusif,” tuturnya. (Red/*)

  • Swasembada Daging Ayam dan Telur, Pemerintah Siap Borong untuk Makan Bergizi Gratis

    Swasembada Daging Ayam dan Telur, Pemerintah Siap Borong untuk Makan Bergizi Gratis

    Mediakawasan.id, Jakarta — Pemerintah mengapresiasi pencapaian subsektor peternakan nasional yang telah mencapai swasembada untuk dua komoditas utama: ayam dan telur. Langkah ini menjadi fondasi kuat bagi pelaksanaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang merupakan bagian penting dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

    Hal ini disampaikan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, saat menghadiri Festival Ayam Telur dan Susu (FATS) 2025 di Halaman Hijau Masjid Al Azhar, Jakarta Selatan, Minggu, 20 Juli 2025.

    “Saya apresiasi karena ternyata Indonesia sudah swasembada untuk daging ayam dan telur. Dengan program MBG, kebutuhan protein hewani ini pasti akan meningkat,” ujarnya.

    Hasan menegaskan bahwa pemerintah siap menyerap hasil produksi dalam negeri untuk kebutuhan program pangan gizi. Menurutnya, kebutuhan logistik dari satuan program ini cukup besar.

    “Jika satu SPPG membutuhkan 300 ekor ayam dan 3.000 butir telur per hari, berarti akan cukup banyak telur dan ayam yang dibutuhkan,” kata Hasan.

    Pernyataan Hasan menegaskan pentingnya keberlanjutan subsektor peternakan dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional, khususnya protein hewani yang menjadi kunci peningkatan kualitas sumber daya manusia.

    Senada dengan itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, menyebut penyediaan protein hewani sebagai bagian dari strategi besar menuju Indonesia Emas 2045. Ia menekankan bahwa penguatan konsumsi protein tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah.

    “Festival ini menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mendorong konsumsi protein hewani sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia unggul. Melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat,” ujar Agung.
    Program ini juga didorong oleh kalangan akademisi dan asosiasi peternakan nasional. Mereka melihat peningkatan konsumsi produk peternakan seperti ayam, telur, dan susu tidak hanya menjadi peluang ekonomi, tapi juga bagian penting dari intervensi gizi berbasis sumber daya lokal.

    Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk asosiasi peternakan, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pelaku industri, arah pembangunan peternakan Indonesia kian mengarah pada pencapaian gizi berkelanjutan, yang berpijak pada kemampuan produksi dalam negeri. (Red/*)

  • Dukung Program Makan Bergizi Gratis, BSN Tetapkan SNI Wadah Bersekat (Food Tray) dari Baja Tahan Karat untuk Makanan

    Dukung Program Makan Bergizi Gratis, BSN Tetapkan SNI Wadah Bersekat (Food Tray) dari Baja Tahan Karat untuk Makanan

    Mediakawasan.id, Jakarta – Dalam rangka mendukung program prioritas pemerintah “Makan Bergizi Gratis” (MBG), Badan Standardisasi Nasional (BSN) menetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI) 9369:2025 tentang Wadah Bersekat (Food Tray) dari Baja Tahan Karat untuk Makanan. Penetapan ini menjadi langkah strategis untuk memastikan peralatan makan yang digunakan dalam program MBG memenuhi aspek mutu, keamanan, dan kesehatan. SNI 9369:2025 ini disusun oleh Komite Teknis 77-02, Produk Logam Hilir, yang sekretariatnya ada di Pusat Perumusan, Penerapan dan Pemberlakuan Standardisasi Industri – Kementerian Perindustrian dengan tim konseptor dari Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Logam dan Mesin – Kementerian Perindustrian. Setelah dilakukan jajak pendapat oleh BSN, terdapat beberapa masukan dari berbagai pemangku kepentingan sehingga dilakukan penyempurnaan berdasarkan masukan Jajak Pendapat terhadap rancangan SNI tersebut.

    Program MBG bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui pemenuhan gizi yang baik, terutama bagi peserta didik. Namun, tidak hanya makanannya saja yang harus bergizi dan aman dikonsumsi, wadah makanan pun harus layak dan terjamin mutunya. Untuk itu, BSN bersama segenap pemangku kepentingan terkait memberikan dukungan melalui penetapan standar food tray yang aman dan berkualitas.

    “Standar ini kami tetapkan pada 18 Juni 2025 melalui Keputusan Kepala BSN Nomor 182/KEP/BSN/6/2025. Ini merupakan standar baru hasil pengembangan sendiri yang disusun oleh Komite Teknis 77-02, Produk Logam Hilir” ungkap Deputi Bidang Pengembangan Standar BSN, Hendro Kusumo di Jakarta, Jumat (18/7/2025).

    Hendro menjelaskan, ruang lingkup SNI 9369:2025 mencakup klasifikasi, persyaratan mutu, dan cara uji untuk wadah makanan bersekat yang terbuat dari baja tahan karat hasil canai dingin, dengan dua lekukan atau lebih, dan dapat dilengkapi tutup. Standar ini berbeda dari SNI 8752:2020 yang mengatur peralatan masak logam tanpa sekat.

    Dalam SNI ini, wadah bersekat didefinisikan sebagai nampan dengan sekat—biasanya digunakan untuk memisahkan nasi, lauk pauk, sayuran, dan buah—yang harus terbuat dari baja tahan karat sesuai SNI 9369:2025. Tutup wadah juga harus berasal dari baja tahan karat sesuai SNI 9369:2025  untuk menjamin mutu keamanan pangan.

    Beberapa ketentuan mutu yang harus dipenuhi oleh food tray ini antara lain:

    Sifat tampak: Tidak boleh ada cacat seperti retak, robekan, karat, atau lubang yang dapat mengurangi fungsi dan membahayakan dalam pemakaiannya.

    • Ketajaman tepi: Tidak boleh ada tepi tajam yang dapat melukai atau membahayakan dalam penggunaannya.
    Ukuran ketebalan dan kedalaman wadah bersekat sesuai SNI yang menjamin wadah kokoh, dapat menampung sesuai kebutuhan dan tidak berubah bentuk atau bocor ketika digunakan.

    • Ketahanan korosi: Tidak boleh terdapat karat setelah diuji kabut garam selama minimum 72 jam untuk menjamin ketahanan wadah terhadap korosi akibat paparan makanan dan pembersihan dengan bahan kimia.

    • Ketahanan beban: Harus mampu menahan beban 15 kg selama 15 menit untuk memastikan bahwa wadah mampu menahan beban atau tekanan yang diberikan selama penggunaan normal tanpa mengalami kerusakan atau deformasi yang signifikan.

    • Komposisi kimia: Harus memenuhi parameter komposisi kimia sesuai SNI 9369:2025 untuk menjamin kualitas baja tahan karat yang digunakan.

    “Dengan standar ini, kami ingin memastikan bahwa food tray yang digunakan dalam program MBG aman digunakan, tidak mudah rusak, dan tidak mengandung zat berbahaya. Ini juga mendorong industri dalam negeri untuk memproduksi peralatan makan yang berkualitas,” jelas Hendro.

    Potensi penggunaan food tray dalam program MBG pun sangat besar. Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian melalui laman www.ilmate.kemenperin.go.id, kebutuhan alat makan dan minum untuk mendukung MBG diperkirakan mencapai 82,9 juta unit, terdiri dari sendok, garpu, dan food tray.

    Perlu diketahui, SNI 9369:2025 saat ini bersifat sukarela, atau belum diberlakukan secara wajib. Meski demikian, SNI ini dapat dijadikan rujukan oleh produsen, konsumen, maupun pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya, dalam memastikan mutu wadah makanan bersekat atau food tray dari baja tahan karat yang aman, berkualitas, kuat dan sesuai standar. BSN selanjutnya akan melakukan penguatan penerapan standar dengan penunjukan dan akreditasi terhadap Lembaga Penilaian kesesuaian, serta diseminasi standar SNI 9369:2025 kepada para pemangku kepentingan.

    “Standar ini bukan hanya soal mutu produk, tapi juga upaya strategis membangun ekosistem industri peralatan makan lokal yang berdaya saing dan mendukung ketahanan pangan nasional,” tambah Hendro.

    Penetapan SNI ini menjadi bagian dari kontribusi BSN dalam memastikan keberhasilan program MBG secara menyeluruh—tidak hanya dari sisi pangan, tapi juga dari peralatan pendukungnya—demi terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan unggul. (Red/rlls)

  • Program MBG kembali bermasalah, Koalisi Pemuda Desak Evaluasi Serius

    Program MBG kembali bermasalah, Koalisi Pemuda Desak Evaluasi Serius

    Mediakawasan.id, Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang diluncurkan pada awal tahun ini sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mengatasi stunting dan malnutrisi, kini menghadapi tantangan serius. Kasus keracunan MBG yang kembali terjadi baru-baru ini di sejumlah daerah, telah menimbulkan kekhawatiran publik mengenai standar keamanan pangan dalam program ini.

    Menanggapi masalah ini, BEM FIKES Universitas Ibnu Khaldun Bogor bersama dengan Indonesian Youth Council for Tactical Changes (IYCTC) mengadakan diskusi mendalam untuk mengevaluasi efektivitas dan implementasi Program MBG.

    Nalsali Ginting, Advocacy Officer IYCTC menilai bahwa meski masih terlalu dini dalam menilai keberhasilan dari program MBG secara menyeluruh, pengawasan sejak dini sangat penting dilakukan agar adanya check and balance dalam implementasi program.

    “Tujuan dari program ini sangat baik, untuk membantu keluarga pra sejahtera setidaknya mendapatkan keringanan finansial, makanan yang bergizi untuk anak agar mendorong prestasi belajar di sekolah, dan berjalannya perputaran ekonomi pada skala UMKM,” ujar Nalsali, Senin (06/05/2025).

    Ia juga menyoroti pentingnya kandungan gizi dan menu makanan perlu disesuaikan dengan khas makanan dari daerah sasaran. Hal tersebut guna memudahkan adaptasi masyarakat dalam program ini, sehingga tidak menghilangkan konteks budaya terkhusus pada sektor makanan.

    “Indonesia punya kekayaan pangan luar biasa, pada daerah-daerah pesisir laut, prioritas menu makanan mereka mungkin adalah ikan, sedangkan di wilayah pedalaman, sumber karbohidrat bisa saja buka nasi melainkan ubi, kentang, atau sagu. Menu harus relevan dengan konteks lokal,” lanjutnya.

    Menurut Survey Kesehatan Indonesia pada tahun 2023 (SKI 2023), saat ini prevalensi stunting pada anak di Indonesia mencapai angka 21,6%. Data ini menunjukkan 1 dari 5 anak Indonesia terkena stunting. Hal ini tentu menjadi permasalahan terutama menjadi faktor penghambat mencapai Indonesia Emas 2045.

    Nalsali juga menegaskan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada keterlibatan keluarga dan lingkungan rumah. Ia mendorong orang tua agar tidak hanya mengandalkan program ini, tetapi juga menjaga pola makan sehat di rumah dan menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak, termasuk menjauhkan anak dari paparan asap rokok.

    “Jangan sampai anak sehat di sekolah karena MBG, tapi sampai rumah malah terkepung dengan paparan asap rokok dari orang tua. Padahal kita tahu, paparan asap rokok itu juga berisiko terhadap tumbuh kembang anak, belum lagi terbayang jika anak ingin belajar, orang tuanya merokok di rumah, pasti akan terganggu ketika belajar. Harapan lainnya uang pada keluarga bisa dipergunakan untuk pemenuhan gizi keluarga dan kebutuhan keluarga yang menunjang pendidikan anak,” tuturnya.

    Sementara itu, Kepala Departemen Keilmuan dan Pendidikan BEM FIKES Universitas Ibnu Khaldun Bogor, Nailah Alifah Auliyaa, mengatakan payung hukum yang berguna sebagai panduan standar pelayanan program ini menjadi sangat penting untuk memastikan Program MBG berjalan terstruktur dan sesuai tujuan. Tanpanya, pelaksanaan, distribusi, dan evaluasi program terhambat, serta tidak ada standar jelas soal keamanan pangan.

    “Program ini wajib untuk adanya SOP agar mekanisme dapur produksi MBG bisa betul betul higienis, tetap berkualitas, terutama pengawasan pekerja dapur jangan sampai terpapar zat berbahaya, contoh terdekatnya adalah rokok. Residu asap rokok dapat menempel pada permukaan dan mengontaminasi makanan,” kata Nailah.

    Ia juga merujuk pada data yang menunjukkan terdapat lebih dari 1.000 kasus keracunan makanan pada program MBG, dengan Jawa Barat sebagai wilayah terbanyak. Nailah mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan meningkatkan sistem keamanan pangan.

    “Pemerintah perlu menyadari, bahwa untuk kasus mencegah, tentu wajib dan tidak boleh ditolerir satupun kasus keracunan makanan, ini bukan hanya sekedar, persentase keberhasilan 99,99%, tetapi ini terkait dengan mencegah agar tidak ada individu yang bukannya sehat, malah menjadi sakit akibat kelalaian program MBG ini,” tuturnya.

    Selain pengawasan, Nailah juga mendorong agar alokasi anggaran MBG benar-benar diarahkan pada kelompok paling rentan yang berada dalam fase 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni ibu hamil dan balita. Penyesuaian konteks ini penting agar program tidak hanya bersifat seremonial atau simbolik semata, melainkan benar-benar menjawab kebutuhan yang ada di lapangan. (Red/rlls).

  • Benyamin Dukung Penuh Kolaborasi Grab-OVO Berikan MBG untuk Anak Berkebutuhan Khusus di Tangsel

    Benyamin Dukung Penuh Kolaborasi Grab-OVO Berikan MBG untuk Anak Berkebutuhan Khusus di Tangsel

    Mediakawasan.id, PONDOK AREN – Pemerintah Kota Tangerang Selatan memberikan dukungan penuh terhadap program uji coba Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diselenggarakan oleh Grab-Ovo bekerja sama dengan Yayasan Inklusif Pelita Bangsa.

    Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie menegaskan komitmennya dalam mendukung program-program inklusi yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya anak-anak dengan kebutuhan khusus.

    “Alhamdulillah, terima kasih kepada Yayasan Inklusif Pelita Bangsa yang bekerjasama dengan Grab dan OVO atas inisiasi memberikan makan gratis ini selama setahun,” ujar Benyamin di SKH 01 Pondok Aren pada Senin (28/4/2025).

    Program ini menyasar sekitar 320 siswa berkebutuhan khusus di empat Sekolah Kebutuhan Khusus (SKH) di Tangerang Selatan, terdiri dari tiga SKH swasta dan satu SKH negeri.

    Pihak penyelenggara memastikan bahwa porsi dan kandungan gizi yang diberikan telah disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus, dengan harapan dapat mendukung kesehatan dan perkembangan mereka secara optimal.

    “Saya tadi konsultasi, ngobrol dengan OVO dan Grab, untuk porsinya ini lebih dari standar ya, karena ini untuk anak-anak berkebutuhan khusus seperti ini jadinya porsi gizinya, proteinnya itu sedikit lebih daripada biasa diberikan,” jelasnya.

    Dalam kesempatan tersebut, Benyamin juga menjelaskan bahwa program uji coba ini adalah langkah awal yang positif dan diharapkan dapat diperluas ke sekolah-sekolah lain di Kota Tangerang Selatan, untuk mendukung kualitas pendidikan dan kesehatan bagi seluruh anak-anak di daerah ini. (Red/*)